Dampak Kerusakan Pintu Air Garut Masih Diterlantarkan

0
32 views
Pintu Air Menjadi Lumpuh Total.
Pintu Air, yang Menjadi Tak Bisa Dibuka.

“Hamparan Areal Persawahan Bisa Kebanjiran”

Garut News ( Senin, 02/09 – 2019 ).

Dampak kerusakan pintu air pada Daerah Irigasi Badama Cikamiri di Kampung Pogor Desa Cintarasa Samarang Garut, Jawa Barat, hingga kini masih diterlantarkan meski pada musim penghujan bisa berakibat areal persawahan kebanjiran.

Padahal kerusakan tersebut berlangsung sejak Maret 2018 silam, lantaran terjadinya kasus pencurian ‘gearbox’ beserta as drat pintu air dan kelengkapannya, pada dua pintu air itu.

Dua Pintu Air Daerah Irigasi Badama, Kini Menjadi Tak Bisa Lagi Dibuka – Tutup.

Sehingga, selain selama ini sempat melumpuh – totalkan kemampuan pengairan areal persawahan mencapai sekitar 504 hektare, yang tersebar di Kelurahan Sukajaya, Jayawaras, Jayaraga, Pataruman, Sukagalih, dan Desa Haurpanggung.

Juga dapat menjadi ancaman luapan air besar di musim penghujan berintensitas curah tinggi.

Beberapa sumber resmi di Bidang Sumber Daya  Air   pada Dinas ‘Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang’ (PUPR) kabupaten setempat katakan, sejak lama diusulkan alokasi dana Rp200 juta untuk pengadaan kembali gearbox termasuk perbaikan pintu air.

Jaringan Daerah Irigasi Badama Menjadi Kering Kerontang.

Namun hingga kini, Senin (02/09-2019), masih belum ada tanda-tanda kepastian bisa dipenuhi atau tidaknya usulan ini.

Sedangkan selama ini pula kedua pintu air tersebut, hanya bisa terbuka dengan bantuan perangkat dongkrak

Inilah Jenis Barang yang Dicuri Bersama Kelengkapannya Dengan Cara Digergaji.

Kalangan petani juga menyerukan Dinas PUPR dapat memikirkan jaminan kesejahteraan petugas penjaga pintu air, agar tak hanya mendapatkan upah sekedarnya dari kelompok P3A Mitra Cai.

“Turun Temurun”

Odi Bersama Istri, dan Salah-satu Cucunya.

Odi Ratma (77), ayah 15 anak yang kini memiliki lima cicit. Mulai 1973 hingga sekarang mewarisi pekerjaan orangtuanya (Ratma) sebagai penjaga pintu air sejak 1945 hingga 1973.

Pekerjaan turun temurun penjaga pintu air dijalani Odi bersama menantunya Agung Pertaka, masing-masing dengan upah Rp100 ribu setiap bulan bersumber dari iuran petani melalui P3A Mitra Cai, namun tak menjamin tiap bulan pembayarannya lancar.

Dua Pintu Air Menjadi Tak Berfungsi.

Sedangkan dari Dinas PUPR sama sekali selama ini tak mendapatkan honorarium apapun, meski jarak tempuh dari rumah ke pintu air menelan waktu selama 30 menit dengan melintasi jalan setapak pematang areal persawahan, ungkap Odi.

Kepada Garut News, Odi katakan pekerjaan ini dijalani atas dasar desakan petani yang tetap memertahankannya. “Teruskan saja menjadi penjaga air sampai modar,”ungkap Odi menirukan dorongan warga tani pada dirinya, dengan nada berseleroh.

Agung P (Berhelm) Bersama Kamal, Bingung Berat.

Dikemukakannya, hilangnya gear box juga as drat pintu air dan kelengkapannya tersebut, diperkirakan berlangsung Sabtu tengah malam pada Maret 2018 silam.

Padahal setiap harinya dua kali, Odi mendatangi pintu air pada pagi dan sore. Bahkan jika hujan lebat tengah malam pun mendatanginya untuk menutup pintu ke daerah irigasi.

Odi Katakan, Perilaku Pencuri Sangat Menyesakkan Dada.

Ketua RW. 07 di Kelurahan Sukajaya, Kamal katakan selain sempat berdampak sekitar 260 hektare sawah bisa mengalami kekeringan, juga 800 kepala keluarga atau sekitar 2.400 penduduk di kelurahannya tak bisa mendapatkan pasokan air di sejumlah MCK.

Odi juga menambahkan, “Perilaku Pencuri Sangat Menyesakkan Dada, Jika Ketemu Saya Ramas Dia,” tandas murid silat Abah Eme itu, dengan nada geram pula.

******

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here