Dalam Kepungan Banjir

Garut News ( Jum’at, 24/01 – 2014 ).

Ilustrasi. Sejak Pemerintahan Kolonial Belanda, Hingga Kini Situ Cileunca di Pangalengan, Bandung, Jabar, Masih Memberi Manfaat. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Sejak Pemerintahan Kolonial Belanda, Hingga Kini Situ Cileunca di Pangalengan, Bandung, Jabar, Masih Memberi Manfaat. (Foto : John Doddy Hidayat).

Pemerintah tak bisa menyalahkan curah hujan tinggi sebagai penyebab banjir di seluruh wilayah Jawa.

Hujan deras justru menjadi berkah apabila kita sigap merawat sungai, dan menyiapkan waduk.

Kelalaian itulah, membuat banjir merendam hampir seluruh Jawa dalam sepekan terakhir.

Mulai dari Indramayu dan Cirebon di barat, Semarang di tengah, hingga Lamongan di Timur diterjang bah.

pada beberapa hari, ekonomi di kota-kota itu lumpuh, mobil dan rumah terendam, jalanan rusak.

Tak hanya menimbulkan kerugian hingga ratusan miliar rupiah, banjir dipastikan juga mengerek inflasi.

Banjir terjadi lantaran beberapa wilayah itu belum memiliki waduk.

Sungai-sungai tak mampu lagi menampung curah hujan sehingga air melimpah ke mana-mana.

Kementerian PU semestinya memercepat penyelesaian sejumlah waduk baru.

Sejumlah waduk mulai dibuat, tetapi hingga sekarang belum bisa selesai.

Di antaranya Waduk Jati Gede (Jawa Barat), Jati Barang (Jawa Tengah), Diponegoro (Jawa Tengah), Nipah (Jawa Timur), dan Waduk Bajul Mati (Jawa Timur).

Tak hanya menyiapkan waduk baru, pemerintah pusat dan daerah perlu juga merawat sungai, dan waduk yang ada.

Sebab, banjir disebabkan pula pendangkalan sungai, kanal, dan waduk.

Menurut catatan Kementerian PU, tingkat sedimentasi pada waduk-waduk di Jawa mencapai 70 juta meter kubik per tahun.

Akibatnya, fungsi waduk membangkitkan tenaga listrik, irigasi, dan mencegah banjir pun berkurang.

Pengerukan sedimen di sungai, dan waduk kerap terbentur kendala klasik: kekurangan dana.

Tetapi kita sebetulnya bisa mencegah munculnya sedimentasi dengan cara lebih murah.

Perawatan Waduk Sutami di Malang, Jawa Timur, bisa dicontoh.

Pengelola menggandeng sejumlah lembaga melakukan konservasi di hulu sungai.

Mereka juga berkampanye agar masyarakat tak membuang sampah di sungai.

Hasilnya sangat signifikan, tingkat sedimentasi turun 20 persen, dari lima juta meter kubik per tahun menjadi empat juta meter kubik.

Kampanye pembersihan sungai amat berfaedah lantaran kita selalu kekurangan bahan baku air bersih.

Banyak air sungai tercemar limbah, dan sampah sehingga tak bisa diolah menjadi air bersih.

Sedangkan konservasi di daerah hulu memaksimalkan fungsi waduk.

Selama ini banyak waduk kekurangan air pada musim kemarau sehingga tak bisa membangkitkan tenaga listrik.

Tentu, Kementerian PU tak bisa sendirian melakukan konservasi.

Bahkan itu, merupakan pekerjaan Kemenhut.

Sayangnya, sinergi ini tak terjadi sehingga banyak kawasan hulu dibiarkan gundul.

Jawa Tengah, misalnya, idealnya memiliki hutan seluas 30 persen dari wilayah provinsi ini.

Namun kini hutannya menyisakan 15 persen.

Yang jelas, banjir bukanlah bencana tak bisa dicegah.

Air hujan justru bisa menjadi berkah jika dikelola baik.

**** Opini/Tempo.co

Related posts