Dakwah dengan Pendekatan Budaya

0
7 views
Asma Nadia. (Daan Yahya/Republika).

Red: Maman Sudiaman

REPUBLIKA.CO.ID,/Garut News ( Ahad, 11/12 – 2016 ).

Asma Nadia. (Daan Yahya/Republika).
Asma Nadia. (Daan Yahya/Republika).

Ketika saya SMA, salah satu tema pengajian rohis atau rohani Islam yang paling menarik teman-teman sekolah adalah Ghozwul Fikri atau perang budaya. Dalam materi tersebut dibahas bahwa cara paling efektif untuk menjauhi umat Islam dari ajarannya, bukanlah perang militer (Ghozwul Askari) atau kekerasan tapi melalui pendekatan budaya.

Jika umat Islam dilarang sholat, tentu akan bangkit melawan. Jika umat Islam dilarang membaca Alquran, mereka akan berontak. Apalagi jika Alquran dihina, jangankan umat yang hatinya terikat pada Kitabullah, yang jarang menyentuh pun akan marah.

Lalu bagaimana menjauhkan kaum muslimin tanpa kekerasan? Bagaimana caranya agar umat jauh dari Alquran, lalai dari sholat, puasa dan perintah Allah lalu mendekat pada dosa, tanpa memaksa. Infiltrasi budaya jawabannya.

Saya ingat bagaimana film Barat yang sangat digandrungi anak muda dulu diputar pada malam Jumat atau waktu Magrib. Pengajian remaja malam jumatan pun mendadak sepi karena anak-anak muda terpaku pada layar kaca. Belum lagi acara menarik yang tayang di waktu magrib, membuat anak-anak bahkan orang tua sanggup melalaikan sholat.

Melalui musik, perang budaya juga menggerogoti keimanan. Tidak terbayang dahulu di keluarga Muslim, anak-anak berkata kotor di dalam rumah, mengumandangkan ketidaksenonohan. Akan tetapi melalui lirik lagu, ajakan berhubungan suami istri selama pacaran, bisa dikumandangkan seorang anak depan ayahnya. Terasa biasa-luput dari perhatian- karena diucapkan dalam bahasa Inggris dengan lantunan nada.

Degradasi iman melalui budaya dijalankan perlahan, tapi berhasil memudarkan jejak keislamam dan keimanan secara berkesinambungan.

Lantas apa yang harus dilakukan para pekerja dakwah? Alih-alih menghadapinya secara bijak, tidak jarang di antara mereka memilih untuk melawan perang budaya melalui tekanan dan paksaan yang akhirnya justru menjauhkan anak muda dari kegiatan keislaman. Sebagian anak-anak muda mulai merasa Islam membatasi kreativitas dan tidak fun.

Perang budaya seharusnya dihadapi dengan kekuatan budaya. Anak-anak muda harus didekatkan kepada Islam dengan cara yang menarik, sebagaimana pihak-pihak yang berupaya menjauhkan generasi muda dari Islam juga menempuh cara-cara yang memikat.

Musik yang mengajak pada hal-hal buruk harus diimbangi dengan lantunan yang menyeru pada keimanan. Bukan sekadar menjadi media dakwah, lagu islami juga menjadi hiburan bagi generasi muda Islam yang tetap butuh hiburan alternatif yang islami tentu. Bukan hanya lagu, barisan yang berjuang dengan pena berangsur belajar masuk dakwah budaya melalui buku.

Dengan cerita dan kisah penulis bisa menyampaikan pesan kebaikan dengan halus dan tidak menggurui, hingga pembaca sanggup mendapat sesuatu tanpa dipaksa.

Segenap proyek syiar kebaikan, seperti juga lewat tulisan bukan tanpa kendala. Minat baca yang masih rendah membuat penyebaran nilai-nilai kebaikan lewat buku masih terbatas pada kalangan tertentu yang gemar membaca. Padahal dakwah budaya mempunyai pengaruh lebih luas.

Sebagai penulis, alternatif lain yang kemudian saya coba tekuni dengan serius adalah menggarap area dakwah yang menurut saya termasuk paling besar cakupan pengaruhnya yaitu melalui film dan acara televisi.

Ini dakwah yang sangat menantang- bukan hanya karena modalnya besar akan tetapi butuh kreativitas dan energi yang sangat menguras. Tapi di satu sisi jika berhasil akan sangat besar pengaruhnya. Pertama karena jangkauan film jauh lebih massive dari buku dan musik. Jika buku hanya mencapai angka ratusan ribu pengaruh sebuah film sanggup menjangkau jutaan bahkan puluhan juta viewers ketika menyentuh layar televisi.

Dunia Barat sendiri sudah membuktikan. Melalui film dan serial serta acara televisi, mereka bisa mengkampanyekan cinta sesama jenis, minuman keras, dan free sex. Sesuatu yang membumi karena dengan setia dipropagandakan melalui media visual bertahun tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun.

Banyak pihak menyadari, nilai-nilai kebaikan Islam harus diperjuangkan dengan pendekatan serupa. Tantangannya menebar kebaikan lewat film bukan sekedar membuat film bagus dengan pesan yang dikemas indah, akan tetapi sekaligus bagaimana memastikan film tersebut mampu diminati masyarakat.

Saat ini sebuah film islami bertajuk Cinta Laki-laki Biasa sedang tayang di bioskop. Alhamdulillah, banyak Muslimah mulai mengerti konsep taaruf dalam Islam, menikah tanpa berpacaran. Memulai proses dengan taaruf – dekat untuk tujuan nikah bukan sekadar bersenang-senang. Bahkan artis yang berperan dalam film tersebut bilang, “Saya sekarang maunya taaruf. Pacaran bikin capek.”

Konsep menjadi anak yang baik, suami yang baik, Islam yang anti kekerasan, antiterorisme, nilai kebangsaan, memilih suami berdasarkan akhlak, menyandarkan kebahagiaan dan cinta sejati pada namaNya dan bukan materi, insya allah semua dikemas tanpa menggurui dan tetap menghibur.

Butuh dukungan dan solidaritas semua yang peduli dan memahami urgensi dakwah melalui pendekatan budaya, agar roda dakwah melalui film bergulir. Tantangan menjadi lebih berat sebab di saat yang sama sebagian kalangan Muslim memilih menentang film yang membawa keburukan tanpa mendukung usaha dakwah yang berusaha mengimbanginya.

********

Republika.co.id