Cukup Sudah Nahas Hercules

0
9 views

Garut News ( Kamis, 02/07 – 2015 ).

Ilustrasi. Ngos-ngosan di Usia Senja. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Ngos-ngosan di Usia Senja. (Foto: John Doddy Hidayat).

Jatuhnya pesawat Hercules C-130B milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) di Medan adalah tragedi yang menyengat.

Ini musibah kesekian dari jenis pesawat sama. Nahas pada 30 Juni lalu itu menewaskan 110 penumpang dan 12 awak. Kita prihatin mendengar penjelasan yang itu-itu saja saban Hercules jatuh: segera diadakan audit, peremajaan pesawat agar musibah serupa tak terulang, dan seterusnya.

Enam tahun silam kita sudah mendengar janji serupa tatkala Hercules jatuh di Magetan, Jawa Timur–101 orang mati ketika itu. Pihak TNI AU mesti belajar lebih “realistis” menghadapi musibah seperti ini, tak perlulah berkukuh membela diri.

Letnan Kolonel Sutrisno, Kepala Penerangan dan Perpustakaan Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang–markas Hercules yang jatuh itu–menegaskan bahwa pesawat amat terawat sehingga masih layak terbang.

Tetapi faktanya, di Medan, keyakinan kita rontok bahwa peremajaan dan penyehatan pesawat-pesawat Hercules tua sudah tunai dilangsungkan.

Pernyataan Presiden Jokowi “akan kita audit semuanya” menegaskan lagi hal tersebut. Tanpa keseriusan pihak TNI–maupun pemerintah–seruan Presiden bisa jadi lewat begitu saja.

Kita memang perlu memberi ruang, waktu, dan independensi bagi tim investigasi yang kini tengah menyelidiki pangkal soal di balik tragedi Medan. Termasuk potensi pelanggaran, kalau ada.

Misalnya, komersialisasi pesawat militer. Kita tahu, pesawat militer punya standar sekuriti tertentu. Tak bisa sembarangan memasukkan orang sipil ke dalam pesawat, alih-alih menjual “tiket” untuk kursi.

Tindakan “menjual kursi”–kalau terbukti-jelas merupakan pelanggaran. Minimnya dana operasi sekalipun tak membenarkan hal itu. Maka, perlu benar diusut tuntas.

Kecelakaan beruntun Hercules–pesawat yang punya reputasi bagus–menjadi peringatan keras bagi pemerintah. Mengapa di Indonesia justru terjadi kecelakaan berulang kali.

Perlu ada pilihan tegas: meng-grounded seluruh pesawat tua untuk diaudit dengan serius. Ganti suku cadang yang tua dan jangan paksa pesawat yang sudah ngos-ngosan terbang dengan risiko nyawa.

Di luar negeri, termasuk di Amerika Serikat tempat Hercules berasal, pesawat tua ini masih tangguh menempuh cakrawala karena mesin-mesinnya diperbarui.

Idealnya, pemerintah meninjau membeli Hercules untuk keperluan militer maupun kemanusiaan. Anggaran memang menjadi kendala selama ini.

Tetapi pemerintah perlu memutus simalakama ini: terus membiarkan pesawat-pesawat tua terbang dengan taruhan nyawa, sementara biayanya tinggi untuk perawatan.

Atau, merencanakan pendanaan bagi pesawat baru yang lebih modern, siap bertugas mengawal dirgantara dengan tingkat keamanan yang tinggi.

*******

Opini Tempo.co