Cinta Nabi, Alquran, dan Umat Nabi SAW

0
16 views
Umat Muslim usai mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dimasjid Istiqlal, Jakarta, Senin (12/12). Republika/Rakhmawaty La'lang.

Red: Agus Yulianto

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Tatang Hidayat *)

Garut News ( Rabu, 14/12 – 2016 ).

Umat Muslim usai mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dimasjid Istiqlal, Jakarta, Senin (12/12). Republika/Rakhmawaty La'lang.
Umat Muslim usai mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dimasjid Istiqlal, Jakarta, Senin (12/12). Republika/Rakhmawaty La’lang.

Nabi Muhammad SAW merupakan makhluk yang agung. Beliau SAW adalah pembawa risalah sekaligus penebar rahmat bagi seluruh alam. Peringatan Maulid Nabi Saw sendiri tidak lain merupakan sikap pengagungan dan penghormatan kepada beliau yang kapasitasnya sebagai Nabi dan Rasul.

Keistimewaan Beliau tidak lain karena Beliau diberi wahyu oleh Allah SWT. Yang dengan wahyu tersebut, beliau membawa misi untuk menyampaikan risalah yang beliau terima kepada seluruh umat manusia.

Kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak akan bermakna apa-apa, seandainya Beliau tidak di angkat jadi Nabi dan Rasul yang bertugas menyampaikan wahyu-Nya kepada umat manusia agar mereka mau diatur dengan aturan Allah SWT.

Karena itu, peringatan Maulid Nabi SAW yang dilaksanankan setiap tahunnya pun tidak akan bermakna apa-apa–selain sebagai aktivitas rutinitas dan ritual belaka-jika kaum Muslim tidak mau diatur oleh wahyu Allah SWT, yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ke tengah-tengah mereka.

Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sejatinya merupakan kecintaan kepada Allah SWT. Karena, Nabi SAW adalah kekasih-Nya. Jika demikian adanya, maka disamping kita cinta kepada Nabi SAW, kita juga harus cinta kepada Allah SWT.

Dengan demikian, jika kita memang mencintai Nabi SAW, maka kita harus meneladani beliau SAW dalam segala aktivitas kehidupan, bukan hanya dari ibadah ritual dan akhlaknya saja, tetapi dalam segala aspek kehidupan. Karena Allah Swt berfirman :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sesungguhnya dalam diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik.” (QS al-Ahzab [33]: 21).

Jika demikian, maka sudah ada suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah SAW, maka tidak ada alasan lagi bagi kita selaku umatnya untuk tidak meneladani Rasulullah SAW dalam seluruh aspek kehidupan. Karena, Rasulullah SAW bukan hanya mengajarkan ibadah ritual dan akhlak saja. Tetapi Beliau juga mengajarkan kepada umatnya dalam bermua’amalah, baik itu dalam bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan, hukum dan yang lainnya.

Pertanyaannya, apakah kita sudah benar-benar mencintai Nabi Muhammad SAW dengan sebenar-benarnya cinta? Yakni dengan meyakini dan mengamalkan risalah apa yang Nabi sAW sampaikan. Nyatanya, kita masih jauh dalam meneladani Nabi SAW.

Begitu berat hati ini untuk meyakini dan mengamalkan risalah yang beliau sampaikan, kita masih memilah-milih ayat mana yang sesuai dengan hawa nafsu kita baru diamalkan, dan mana yang tidak sesuai dengan kita, begitu berat untuk di amalkan.

Berat rasanya hari ini bagi kita untuk meninggalkan riba. Begitu berat hari ini bagi kita untuk mengatur urusan sosial dengan aturan Islam, berat bagi kita untuk mengatur pendidikan dengan aturan Islam, begitupun dengan kehidupan lainnya, begitu berat hati ini untuk menerima aturan Islam untuk mengatur seluruh aspek kehidupan.

Apalagi, begitu beratnya hati ini untuk menerima sanksi-sanksi hukum Islam yang tercantum di dalam Alquran (seperti qishash, potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, cambuk bagi pemabuk, hukuman mati bagi yang murtad dan lainnya) dengan berbagai alasannya.

Bahkan, ada sepintas dari hati ini berburuk sangka terhadap aturan yang tercantum dalam Alquran tersebut, kami anggap sebagai aturan yang melanggar hak asasi manusia, dan kami lebih bangga dan mengagungkan aturan buatan diri sendiri.

Perjuangan Nabi SAW dalam menyampaikan risalah Islam ini tidak mudah. Begitu banyak halangan dan rintangan yang harus Beliau hadapi dalam rangka menyampaikan risalah-Nya. Bahkan, harus berkorban jiwa dan raga. Namun, Beliau tetap menjalani itu semua dengan penuh ikhlas dan sabar, supaya bisa menyelamatkan umat manusia dari kesesatan menuju kebenaran.

Beliau SAW tidak ingin umat manusia ini tersesat, sehingga beliau sering memikirkan bagaimana supaya risalah Islam ini sampai kepada seluruh umat manusia.

Nabi SAW di samping selalu memikirkan risalah Islam supaya sampai kepada seluruh umat manusia, Nabi juga begitu besar cintanya kepada umat. Cinta Nabi SAW kepada umatnya begitu besar. Bahkan ketika sakaratul mautpun, Nabi SAW masih ingat kepada umatnya.

Berangkat dari hal ini, maka kita selaku umat Nabi SAW patut bersyukur menjadi bagian dari umat Nabi SAW. Di samping itu, tentunya kita juga harus meneladani Nabi SAW dalam mencintai umatnya.

Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda yang artinya: “Siapa yang membantu menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari sebuah kesulitan di antara berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan salah satu kesulitan di antara berbagai kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan, niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat, dan siapa yang menutupi (aib) seorang Muslim, Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan baginya jalan ke surga. Tidaklah sebuah kaum yang berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah (maksudnya masjid) dalam rangka membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi para malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk yang ada di sisi-Nya. Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya. (HR. Muslim No. 2699, At Tirmidzi No. 1425, Abu Daud No. 1455, 4946, Ibnu Majah No. 225, Ahmad No. 7427, Al Baihaqi No. 1695, 11250, Ibnu ‘Asakir No. 696, Al Baghawi No. 130, Ibnu Hibban No. 84)

Hadis di atas juga tercantum dalam hadis Arba’in ke 36 karya Imam Nawawi rahimahullah. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa kita selaku orang mukmin harus saling memudahkan urusan dengan mukmin lainnya. Karena orang mumin itu adalah bersaudara, maka kita harus memperhatikan urusan sesama mukmin yang lain. Apalagi, memperhatikan urusan umat Nabi Muhammad SAW, karena Nabi Muhammad SAW sendiri selalu memikirkan urusan umatnya.

Maka, tidak ada alasan lain bagi kita selaku umat Nabi SAW untuk tidak peduli terhadap sesamanya. Maka, saya paham kenapa guru-guru kami selalu mencontohkan ketika pagi hari selalu memimpin doa untuk kemaslahatan umat Nabi Muhammad SAW, di antara waktu azan Shubuh dan iqamat. Ini menunjukkan guru kami ingin memberikan contoh kepada muridnya, ketika bangun di pagi hari diajak untuk memikirkan urusan umat Nabi SAW.

Tetapi dalam kenyataannya, hati ini, begitu berat untuk peduli kepada umat Nabi SAW. Umat Nabi SAW di sana banyak yang menderita, masalah di Irak, Palestina, Afghanistan, Suriah, Afrika Utara, Bosnia, Rohingya, dan masih banyak permasalahan yang menimpa umat Nabi SAW di negeri Muslim lainnya.

Mereka menderita, di dzalimi, kelaparan, tapi kami hanya bisa melihat penderitaan mereka. Kami terlalu sibuk dengan cita-cita, mengejar seberapa banyak harta yang bisa di raih, hanyut dalam hawa nafsu, mengejar cinta yang tidak ada kepastian, terbawa dalam gemerlap kehidupan dunia. Dan tentunya, kami akan malu ketika suatu saat harus bertemu dengan Nabi SAW. Apakah kita sudah layak menjadi umat Nabi SAW? Apakah nanti kita yakin akan di akui oleh Nabi SAW sebagai umatnya?

Maka, pentingnya peringatan Maulid Nabi SAW yang selalu diperingati setiap tahunnya di negeri ini untuk dijiwai. Bukan hanya sekedar acara rutinan dan ibadah ritual semata, tapi harus masuk ke dalam jiwa dan berusaha untuk meneladani Nabi SAW dalam segala aspek kehidupan. Di samping mencintai Nabi SAW, kita juga harus cinta kepada Alquran dan Umat Nabi SAW. Salah satunya, berusaha untuk husnuzhan (berbaik sangka) kepada risalah yang Nabi SAW bawa yakni kitab suci Alquran.

Dalam momunten maulid ini, penting bagi umat Islam untuk bersatu dan bergerak untuk memperjuangkan seluruh isi Alquran agar dapat diterapkan dalam kehidupan. Inilah salah satu bentuk cinta kepada Nabi SAW. Di samping kita cinta kepada Nabi SAW, kita juga harus cinta kepada risalah yang Beliau SAW bawa yakni Alquran.

Aksi 212 yang baru-baru ini terjadi di negeri ini menunjukkan umat Islam bisa bersatu dan bergerak membela Alquran saat QS Al-Maidah ayat 51 yang dinistakan, maka selanjutnya umat juga harus bersatu dan bergerak dalam rangka memperjuangkan seluruh isi Alquran dalam seluruh aspek kehidupan. Karena tidak diterapkannya Alquran dalam seluruh aspek kehidupan, merupakan salah satu bentuk pelecehan terhadap Alquran.

Sebagai catatan akhir, pada momentum maulid ini, pentingnya bagi kita semua, di samping mencintai Nabi SAW, kita juga harus cinta kepada Alquran dan umat Nabi SAW. Selanjutnya, umat harus bersatu dan bergerak dalam rangka memperjuangkan penerapan seluruh isi Alquran, supaya bisa menyelesaikan semua persoalan yang menimpa umat Nabi SAW khusunya, dan permasalahan seluruh umat manusia pada umumnya.

Karena dengan penerapan seluruh isi Alquran dalam seluruh aspek kehidupan akan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi negeri ini.

Allah SWT berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا ِللهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
“Hai orang-orang beriman, sambutlah seruan Allah dan Rasul-Nya jika Allah dan Rasul-Nya menyeru kalian menuju sesuatu yang akan menghidupkan kalian.” (QS al-Anfal [8]: 24).
*) Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa Kajian Islam Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia

*********

Republika.co.id