Cimanuk Menyusut Drastis Perparah Nasib Pemecah Batu

0
111 views

“Terpaksa Dibangun Jembatan di Dasar Sungai”

Garut News ( Kamis, 29/10 – 2015 ).

Anah.
Anah.

Anah, janda berusia 70 tahun lebih.

Seorang perempuan renta selama ini hidup sebatangkara sejak ditinggal wafat suaminya.

Ternyata hingga sekarang terpaksa masih menekuni profesinya sebagai pemecah batu.

Biasa mangkal di bawah tenda sangat sederhana pada pinggiran bantaran Sungai Cimanuk, Garut, Jawa Barat.

Meski pendapatannya yang “cekak”, kini bahkan kian diperparah semakin menyusutnya debit air sungai tersebut, lantaran didera kemarau berkepanjangan.

Jembatan Penyeberangan di Dasar Sungai Cimanuk yang Menyusut Drastis.
Jembatan Penyeberangan di Dasar Sungai Cimanuk yang Menyusut Drastis.

“Kerap pulang ke rumah tak membawa uang sepersenpun, sebab kerikil bisa dikumpulkannya sulit diperoleh,” ungkap Anah kepada Garut News, Kamis (29/10-2015).

Padahal profesi yang dikuasainya itu, dijalaninya sejak bersama suaminya mulai puluhan tahun lalu, katanya.

Kesulitan serupa juga mendera sekitar 30 kepala keluarga pencari pasir Sungai Cimanuk, yang bekerja sehari penuh. Tetapi hanya bisa memeroleh pasir sebanyak satu mobil colt bak, padahal jika berkondisi normal mendapatkan satu bak truk.

Bongkahan Delta Dasar Sungai Cimanuk.
Bongkahan Delta Dasar Sungai Cimanuk.

Sedangkan Cimanuk, kendati masih berada pada lintasan kawasan hulu sungai, tetapi debit aliran sungainya di Kabupaten Garut, Kamis (29/10-2015), berkondisi sangat kritis atawa menjadi hanya sekitar dibawah 500 liter/detik.

Padahal pada kondisi normal ketinggian air sekurangnya bisa mencapai 40 cm berdebit air 6 m3/detik maupun 6.000 liter/detik.

Menyusul kemarau berkepanjangan, maka saat ini ketinggian airnya hanya beberapa centimeter dengan debit sekitar 1,4 m3 atawa sekitar 550 liter/detik.

Menyerupai Karya Seni Rupa.
Menyerupai Karya Seni Rupa.

Demikian pernah diungkapkan Kabid Konservasi Pengembangan Sumber Daya Air pada Dinas “Sumber Daya Air dan Pertambangan” (SDAP) kabupaten setempat, M. Iwan S. Wiradisastra.

Penurunan debit air sangat drastis tersebut, antara lain berakibat tak berfungsi atau keringnya beberapa sungai pemasok “Daerah Irigasi” (DI) teknis, di antaranya Cipacing, Cipeujeuh, serta Cimaragas, dengan cakupan areal persawahan sekurangnya seluas 700 hektare.

Sebab kata dia, sumber airnya yang kritis, sehingga solusi sementara dengan menerapkan sistem gilir – giling pembagian air.

Pencari Pasir.
Pencari Pasir.

Serta menanam tanaman tak memerlukan genangan air, imbuh Wiradisastra.

Dalam pada itu, penanganan jangka panjangnya antara lain meningkatkan kualitas kelestarian lingkungan pada hulu sungai termasuk sepanjang lintasan “Daerah Aliran Sungai” (DAS) Cimanuk, imbuhnya pula.

Kemarau saat ini, juga menjadi penyebab sebagian besar wilayah di kabupaten itu, diranggas kekeringan juga kesulitan air.

Bahkan dari 42 wilayah kecamatan, sedikitnya terdapat 40 kecamatan di antaranya mengalami kekeringan.

Demi penuhi Isi Perut atawa Kampung Tengah.
Demi penuhi Isi Perut atawa Kampung Tengah.

Menyebabkan ribuan hektare sawah terancam gagal panen. Serta banyak penduduk menjadi kesulitan peroleh pasokan air bersih pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari.

Jika seluruh lintasan Sungai Cimanuk mengalami kekeringan atawa kritis, dipastikan beberapa kabupaten di Pantura terimbas dampaknya, termasuk pada pemenuhan kebutuhan air Waduk Jatigede.

Kemarau panjang menyebabkan pula seputar sejumlah titik lokasi di Gunungapi Papandayan.

Lintasan Sungai Cimanuk Garut, Kian Menyerupai Bekas Alirang Lahar Panas Letusan Gunungapi.
Lintasan Sungai Cimanuk Garut, Kian Menyerupai Bekas Aliran Lahar Panas Letusan Gunungapi.

Serta Gunungapi Guntur mengalami kebakaran.

 

 

*******

 

 

Esay/Fotografer :

John Doddy Hidayat.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here