Cilukba

0
31 views

– Agus M. Irkham, Pegiat Literasi

Jakarta, Garut News ( Jum’at, 12/06 – 2015 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Google dan media sosial telah berhasil membuat setiap orang memiliki kesempatan untuk seolah-olah menjadi ahli dan mengetahui banyak hal. Dengan menulis dua-tiga lema atau kata, berderet link (tautan) informasi yang dicari sudah tersedia.

Apakah tautan tersebut berisi informasi yang akurat dan dapat dipercaya? Itu soal lain. Yang terpenting adalah segera punya bahan untuk menuliskan komentar di dinding akun Facebook orang lain dan saat melakukan retweet. Atau menyalin tautan yang diperoleh demi mengukuhkan suatu pendapat atau sebaliknya, menegasikan.

Maka, yang kemudian terjadi adalah semua hal dikomentari. Segala sesuatu dijadikan tema perdebatan. Dari kontroversi tempat kelahiran Bung Karno, pembubaran Petral, mafia migas, tim panitia seleksi calon pemimpin KPK, membaca Al-Quran dengan langgam Jawa, gerakan ayo mondok, beras plastik, utang luar negeri baru, dan masih banyak lagi.

Tidak ada konsistensi terhadap suatu tema. Karena tujuan utamanya bukan dalam rangka mencari kebenaran, tapi pembenaran. Bukan bagian dari perayaan kebebasan berpendapat yang didasari oleh ketajaman berpikir dan kejernihan batin, melainkan demi memenuhi hasrat agar dapat disebut eksis.

Bukan bagian dari penyemaian benih perubahan yang terus dipupuk dan dirawat sehingga dapat tumbuh kuat menjadi sebuah gerakan lantas berbuah perbaikan dan kemajuan, melainkan sekadar menegaskan perbedaan pilihan politik.

Komentar yang ditulis tidak menjadi bagian dari representasi pemikiran yang mendalam tentang sebuah fakta atau berita, melainkan sekadar agar tidak disebut kurang pergaulan. Seseorang yang mendadak ahli tidak bisa membedakan lagi antara informasi, pengetahuan, dan ilmu.

Lebih jauh lagi, tidak mampu memilah mana gosip dan mana fakta. Semua serba tergopoh-gopoh. Kecepatan perputaran pergantian isu melampaui kemampuan kita untuk menganalisisnya satu per satu.

Tidak ada waktu lagi untuk sekadar mengulik apakah informasi yang akan disampaikan termasuk kategori berita bohong (hoax) atau bukan. Kemampuan membaca atau literasi dasar justru memproduksi aliterasi budaya. Ironis!

Akibat yang paling tampak dari aliterasi budaya adalah bertumbuhnya masyarakat “cilukba”. Cilukba merujuk pada permainan atau simulasi ekspresi yang begitu cepat (tutup-buka muka).

Apa makna telapak tangan yang ditutup dan buka di kedua mata itu? Tidak ada, kecuali hanya untuk kesenangan dan memunculkan derai tawa.

Seperti itu pula pola komunikasi dalam masyarakat cilukba. Banyak aksi tapi miskin substansi. Tujuan utamanya hanya satu: untuk bersenang-senang. Komunikasi yang terjalin secara sengaja dikreasikan untuk sekadar memenuhi unsur menghibur.

Masyarakat cilukba adalah masyarakat hangat-hangat tahi ayam. Gampang heboh, latah, gaduh, berlebihan, tapi juga sumbu ingatannya pendek. Gampang amnesia.

Persis seperti yang pernah dikatakan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, “Peristiwa biasa saja. Ada kejadian. Ada persepsi. Banyak ilusi teori. Dan kebanyakan lebay. Itulah kita hari ini.” *

********

Kolom/artikel Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here