Chopin dan Pemberontakannya

0
4 views

Soe Tjen Marching, Komponis

Jakarta, Garut News ( Senin, 03/02 – 2014 ).

Ilustrasi. "Rebab", Piranti Musik Tradisional "Sunda" Biasa Dimainkan Pada Pagelaran Wayang Golek. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. “Rebab”, Piranti Musik Tradisional “Sunda” Biasa Dimainkan Pada Pagelaran Wayang Golek. (Foto: John Doddy Hidayat).
Chopin, yang lahir di Polandia dan diperingati tiap 22 Februari, bukanlah komponis yang suka sorak-sorai publik.

Ia lebih suka memberi konser di rumah pribadi, atau gedung-gedung kecil yang terkesan intim daripada di sebuah gedung megah.

Ia mendapat nafkah dari mengajar dan konser.

Memang, komponis romantisis¬me ditandai dengan pemberontakan mereka menjadi “peliharaan” para bangsawan.

Keberanian akan perbedaan dan keunikan jugalah yang telah membuat para komponis ini menciptakan karya-karya mengagumkan.

Bunyi memang sesuatu yang abstrak, namun tak pernah terpisahkan dari ide (dan sering kali kenekatan atau kegilaan) sang seniman.

Tidak semua perbedaan dan keunikan bisa diterima begitu saja.

Chopin, yang dipuja hampir seantero jagat saat ini, sempat menghadapi terpaan kritik karena permainannya dianggap terlalu lemah dan kurang gairah.

Beberapa dari para kritikus yang masih terpaku pada standar musik Beethoven yang seperti badai menerjang, sempat memandang negatif Chopin.

Namun Franz Liszt, komponis andal yang kemudian menjadi sahabat Chopin, menulis di majalah Gazette Musicale yang diterbitkan pada 2 Mei 1841, “Chopin menyajikan musiknya seperti seorang pujangga dan pemimpi kepada orang di sekelilingnya, bukan kepada publik. . . Ia menawarkan simpati yang lembut, bukan antusiasme yang ribut.”

Di tangan Chopin, yang lebih banyak mengarang untuk piano daripada instrumen lainnya, alat ini menjadi seolah bernyanyi.

Berbeda dengan kebanyakan komponis sebelumnya, Chopin gemar mencantumkan tempo rubato (tempo yang dicuri) yang memberi kebebasan bagi pemain untuk menentukan kecepatan dan juga artikulasi nada-nada.

Ini juga sempat mengejutkan beberapa musikus yang biasa dengan tempo yang serba tepat.

Kebebasan seperti rubato ini bisa diartikan seenaknya sendiri oleh beberapa orang.

Namun, bagi pianis yang andal, justru kebebasan adalah tanggung jawab untuk memilih, dan ini menjadi beban yang cukup besar, karena tanggung jawab seperti ini membutuhkan ketepatan dan kepekaan yang luar biasa.

Reputasi Chopin sebagai komponis makin menanjak di Prancis, namun kesehatannya bertambah turun.

Saat itu, ia bertemu dengan penulis George Sand (perempuan yang dilahirkan dengan nama Armandine Aurore Dupin).

George gemar memakai baju lelaki dan mengisap tembakau-kebiasaan yang dianggap tak lazim bagi perempuan dan sering dicela masyarakat waktu itu.

Ketika bertemu Chopin, ia telah bercerai, dan punya dua anak dari perkawinan sebelumnya.

Berbeda dengan Chopin yang lembut dan gemulai, George adalah perempuan yang maskulin.

Baik disadari maupun tidak, hubungan mereka adalah bentuk pemberontakan terhadap dualisme gender.

Lelaki tak harus maskulin dan perempuan tak harus feminin.

George dan Chopin tidak pernah menikah (sekali lagi, bentuk pemberontakan mereka terhadap tuntutan standar), dan karena itu keduanya sempat diasingkan ketika tinggal di Majorca, Spanyol.

Namun pemberontakan Chopin inilah yang ada di balik nada-nada yang sekarang dialunkan dan dikagumi berbagai pianis dunia, dan ironisnya menjadi konservatisme tersendiri bagi banyak pianis yang mengalunkannya di gedung-gedung megah.

***** Kolom/artikel Tempo.co