Cerita Tentang Utang

0
15 views
Endro Yuwanto.(Foto: Republika/Daan Yahya).

Ahad 16 Des 2018 00:54 WIB
Red: Endro Yuwanto

Endro Yuwanto.(Foto: Republika/Daan Yahya).

“Kini banyak orang berutang bukan karena terdesak oleh kebutuhan hidup”

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Endro Yuwanto *)

Berdasarkan survei yang dilakukan ZAP Finance belum lama ini, terdapat tiga sumber masalah keuangan. Sumber itu adalah 50 persen orang tidak bisa membedakan simpanan, tabungan, dan investasi. Selain itu 18 persen hobi berutang dan 32 persen punya gaya hidup tinggi. Kondisi ini juga berlaku di Indonesia.

Gaji rata-rata orang Indonesia biasanya hanya bertahan sepekan. Ini karena sebagian besar dari kita tidak bisa membedakan uang elektronik, tabungan, dan investasi.

Jika orang memiliki kebiasaan utang maka ia umumnya punya gaya hidup yang tinggi. Lantaran belum mampu mengumpulkan uang tapi dipaksakan memiliki suatu barang, orang biasanya memilih cara berutang. Inilah semacam penyakit orang Indonesia zaman now.

Utang luar negeri Pemerintah Indonesia juga terus membengkak menjelang akhir tahun ini. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) utang negara kita mencapai sekitar lima ribu triliun rupiah. Entahlah apakah ini berarti pemerintah juga banyak gaya, saya kurang tahu.

“Janji adalah utang, dan utang membuat banyak janji.” Sebuah celoteh dari seorang pakar keuangan di timeline Twitter-nya menggelitik saya pagi ini. Bicara soal utang, siapa sih orang yang nggak punya utang hari gini?

Saya yakin, ada memang orang yang hari gini tak punya utang, tapi saya rasa orang seperti itu bisa dibilang makhluk langka. Mudah-mudahan saya kuat menjadi mahkluk itu dan Tuhan sudi menolong saya.

Lho, kenapa saya pakai membawa-bawa nama Tuhan segala? Iya, saya sangat butuh pertolongan Tuhan untuk menjauhkan saya dari yang namanya utang. Saya membutuhkan Tuhan untuk memberi saya banyak rezeki agar tak sampai berutang untuk memenuhi kebutuhan hidup saya. Saya butuh Tuhan untuk menguatkan iman saya dari godaan nafsu hingga tak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

Sepanjang ingatan saya yang terbangun sejak kecil, dulu setahu saya orang akan berutang ketika hidupnya benar-benar kepepet. Tak bisa makan, tak bisa bayar sekolah, tak bisa bayar listrik, tak bisa bayar dokter, dan semacamnya.

Sangat kontras dengan kondisi yang terjadi sekarang. Banyak orang berutang bukan karena terdesak oleh kebutuhan hidup. Tapi lebih karena kebutuhan “gengsi”.

Tak percaya? Coba saja lihat catatan bank, leasing-leasing kendaraan bermotor. Siapa saja orang yang punya utang sampai puluhan bahkan sampai miliaran rupiah di dalam pembukuan mereka? Adakah di antara nasabah-nasabah itu yang berutang karena “kepepet” tak bisa makan? Tak bisa makan mewah mungkin iya. Tapi sekadar tak bisa makan untuk hidup, rasanya tidak ada.

Ya, utang, kalau dulu bisa dibilang sebuah “aib”, sekarang sudah menjadi semacam budaya. Sampai ada seorang teman dekat saya yang bilang, “Kalau gak berani utang gak bisa punya,”. Alhasil, karena dia menurut saya lumayan berani berutang, sekilas kehidupannya cukup “mentereng”. Walaupun, sekali lagi karena saya kenal baik dengan dia, saya tahu sekali bagaimana dia jumpalitan cari uang untuk bisa menutup cicilannya setiap bulan. Bahagiakah? Saya rasa hanya dia dan Tuhan saja yang tahu.

Cerita soal manusia dengan utang, banyak terjadi di sekeliling saya. Tentu saya tidak akan bicara soal utang itu dari sisi halal atau haram, meski sudah jelas agama Islam mengharamkan segala bentuk riba. Tapi saya tak akan membahas di seputar agama, saya bukan ahlinya. Akan sangat panjang dan memusingkan kalau saya ceritakan satu per satu.

Yang saya tahu, sudah ada orang di sekitar saya yang terpaksa menggadaikan rumahnya untuk menutup utang. Ada yang sampai nyaris bercerai dengan pasangannya karena soal yang satu itu.

Mengerikan? Ya, buat saya sangat mengerikan entah untuk orang lain, karena mungkin saya termasuk orang yang tak berani berutang. Karena saya sangat takut pada efek berkepanjangan dari utang itu.

Tapi, kalau saya merenungkan lagi, rasanya memang berat hidup di zaman serba materialistis seperti saat ini tanpa berutang. Ketika hampir semua hal diukur dari materi. Dari rumah mewah yang dimiliki, jumlah kendaraan yang terparkir di garasi, aset tanah dan kebun yang dimiliki, dari jumlah kunjungan ke mal atau tempat wisata, jumlah update foto dan status di media sosial, sangat berat. Terlebih ketika penghasilan yang sebenarnya tak menjangkau semua hal itu. Jadilah utang sebagai jalan pintas.

Godaan orang zaman now untuk berutang bisa dibilang sangat banyak, kalau tak mau dikatakan “buuuaaanyak”. Bombastis ya kata-kata saya. Tapi menurut saya, memang begitulah adanya.

Kalau tak percaya, cobalah jalan ke mal atau pusat-pusat perbelanjaan. Baru selangkah menjejakkan kaki ke dalam mal, tak jarang kita akan langsung dihampiri SPG-SPG yang dengan ramahnya menawarkan aneka jenis kartu kredit atau kredit mobil keluaran terbaru dengan janji segudang.

Sebenarnya tak perlu repot-repot jalan ke mal, cukup duduk manis di rumah, tawaran berutang datang bertubi-tubi dengan sendirinya. Lagi enak bengong, pesan pendek tawaran dana tunai berbunyi di telepon genggam. Lagi santai, brosur kreditan mobil dan motor berserakan di halaman rumah.

Beratkan godaannya? Karena itulah terkadang saya mencoba memaklumi mengapa saat ini banyak orang yang mudah berutang. Walau saya sangat berharap tidak termasuk ke dalam golongan orang yang mudah berutang. Oleh karena itulah dengan sekuat tenaga saya selalu berusaha menolak halus setiap SPG yang menghampiri saya menawarkan kartu kredit atau langsung membuang brosur tawaran kredit mobil dan motor ke tong sampah.

Mengapa saya bilang sekuat tenaga? Karena memang tak mudah melakukan semua hal itu. Sempat juga saya tergoda mengisi aplikasi kartu kredit. Tapi beruntung nyali saya tak sebesar itu untuk menandatangani pengambilan kartu kredit yang sebenarnya sudah disetujui bank. Sempat juga terpikir menukar mobil tua saya dengan MPV terbaru yang ditawarkan brosur yang mampir ke rumah. Untunglah, Tuhan sepertinya masih menyadarkan saya.

Meski berusaha untuk selalu “sadar”, kadang saya sering juga hampir kepeleset. Karena itulah seperti yang saya bilang di awal tulisan ini, kalau saya sangat butuh pertolongan Tuhan. Untuk selalu menjaga saya senantiasa tetap “sadar” dan menginjak bumi. Menjadikan saya manusia yang selalu bisa bersyukur atas apa yang saya miliki.

Nah, menjelang pergantian tahun ini, ada baiknya saya mengingatkan diri saya sendiri dan siapa saja yang sehati untuk berhati-hati agar tak terjerumus utang atau minimal tak terjebak membuka utang baru.

Percayalah, uang dari jerih payah kita sehari-hari pasti cukup untuk biaya hidup karena Tuhan sudah menjamin jatah rezeki pada setiap mahkluk hidup. Namun uang yang banyak, berapa pun jumlahnya, tidak akan pernah cukup untuk membayar gaya hidup.

*) Jurnalis Republika.co.id

********

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here