Cerita Nabi Hud

0
12 views

Cerita Nabi Hud ‘alaihis salam

Garut News _ Cerita Nabi Hud, Nabi Hud ‘alaihis salam tinggal di negeri Yaman, di sebuah tempat yang bernama Al Ahqaaf (bukit-bukit berpasir), di sana tinggal kaum ‘Aad pertama yang nasab mereka sampai kepada Nabi Nuh. Mereka tinggal di rumah-rumah yang memiliki tiang-tiang yang besar sebagaimana difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“(Yaitu) penduduk Iram (ibu kota tempat tinggal kaum ‘Aad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi–Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,” (QS. Al Fajr: 7-8)

Mereka juga membangun istana-istana dan benteng-benteng yang tinggi dan membanggakan diri dengan bangunan-bangunan itu. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main (bermewah-mewah) –Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud agar kamu kekal (di dunia)?” (QS. Asy Syu’ara: 128-129)

Mereka juga memiliki peradaban yang tinggi; mereka unggul dalam bidang pertanian karena melimpahnya air yang segar kepada mereka, di samping mereka memiliki harta dan binatang ternak yang banyak. Tempat mereka ketika itu menjadi ladang yang subur dan hijau, penuh dengan kebun-kebun yang indah dan mata air.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengaruniakan kepada mereka bentuk fisik yang berbeda dengan yang lain, badan mereka tinggi dan kuat. Apabila mereka berperang atau menyerang suatu kaum, maka mereka dapat memenangkan peperangan itu dan serangan mereka begitu mengerikan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala menyebutkan perkataan Nabi Hud kepada mereka,

“Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang yang kejam dan bengis.–Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.–Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui.–Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak,–Dan kebun-kebun dan mata air,” (QS. Asy Syu’ara: 130-134)

Cerita Nabi Hud, Tetapi, meskipun nikmat-nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada mereka begitu banyak, namun mereka tidak bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadapnya, bahkan mereka menyekutukan-Nya dengan sesuatu, mereka sembah patung-patung, dan mereka adalah kaum yang pertama menyembah patung setelah banjir besar zaman Nabi Nuh. Sebagaimana firman Allah,

“Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) setelah lenyapnya kaum Nuh, dan Allah telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah agar kamu mendapat keberuntungan.” (Terj. Al A’raaf: 69) Cerita Nabi

Tidak hanya itu, mereka juga mengerjakan berbagai maksiat dan dosa serta mengadakan kerusakan di bumi, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Hud ‘alaihis salam kepada mereka untuk menunjukkan jalan yang lurus; Beliau mengajak mereka menyembah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja dan melarang mereka berbuat syirk dan melakukan berbagai kemaksiatan.

Beliau juga mengingatkan mereka agar bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya yang diberikan-Nya kepada mereka, Beliau berkata kepada mereka, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan yang berhak disembah bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS. Al A’raaf: 65)

Cerita Nabi Hud, Mereka pun bertanya-tanya tentang keadaan diri Nabi Hud ‘alaihis salam, “Siapakah sebenarnya engkau wahai Hud sehingga mengatakan kata-kata seperti itu?” Hud menjawab,

“Sesungguhnya aku adalah rasul yang dapat dipercaya bagimu—Oleh karena itu, bertakwalah kamu kepada Allah dan taatilah aku.” (QS. Asy Syu’ara: 125-126)

Maka kaumnya membantahnya dengan kasar dan sombong sambil berkata,

“Sesungguhnya Kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” (QS. Al A’raaf: 66)

Hud menjawab,

“Wahai kaumku! Tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam.– Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.” (QS. Al A’raaf: 67-68)

Kaumnya pun semakin sombong di samping menolak dengan keras beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka berkata kepada Nabi Hud ‘alaihis salam,

“Wahai Hud! Kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu–Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu…dst.” (QS. Huud: 53-54)

Meskipun begitu Nabi Hud ‘alaihis salam tetap bersabar dan mengajak mereka untuk mengikuti kebenaran. Beliau mengingatkan mereka akan nikmat-nikmat Allah kepada mereka dengan harapan mereka mau bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meminta ampunan kepada-Nya. Beliau berkata kepada mereka,

Cerita Nabi Hud, Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui.–Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak,–Dan kebun-kebun dan mata air,” (QS. Asy Syu’ara: 131-134)

Beliau juga berkata:

“Wahai kaumku! Mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS. Huud: 52)

Tetapi Nabi Hud ‘alaihis salam tidak mendapatkan kaumnya selain sebagai manusia yang telah mati hatinya dan telah menjadi keras seperti batu, memegang teguh kesesatan dan penyimpangannya dan tetap kokoh menyembah patung. Mereka juga membalas nasihatnya dengan tindakan zalim dan olok-olokkan, sehingga Nabi Hud berkata kepada mereka,

”Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan,–dengan yang lain, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.–Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya–Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus–Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha pemelihara segala sesuatu.” (QS. Huud: 54-57)

AZAB YANG DITIMPAKAN KEPADA KAUM NABI HUD ‘ALAIHIS SALAM

Cerita Nabi Hud, Mereka tetap saja menyombongkan diri dan membanggakan diri dengan kekuatannya, dan mereka berkata Nabi Hud dengan sombongnya,

“Siapakah yang lebih kuat kekuatannya daripada kami?” (QS. Fushshilat: 15)

Mereka juga mengolok-olok Nabi Hud dan meminta kepadanya agar disegerakan azab. Mereka berkata,

“Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada Kami jika kamu Termasuk orang-orang yang benar.” (Terj. Al A’raaf: 70)

Hud pun menjawab,

“Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yamg menunggu bersama kamu”. (QS. Al A’raaf: 71)

Cerita Nabi Hud, Maka mulailah azab Allah datang kepada kaum ‘Aad. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan kepada mereka hawa yang panas yang membuat sumur-sumur dan sungai-sungai menjadi kering, tanaman dan buah-buahan menjadi mati, hujan pun berhenti turun dalam waktu yang cukup lama, lantas kemudian datang awan yang besar. Ketika mereka melihatnya, mereka bergembira dan mengira bahwa mereka akan diberikan curahan hujan, mereka berkata,

“Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.”

Mereka mengira bahwa awan itu akan datang membawa kebaikan untuk mereka, menghilangkan haus dahaga mereka, memberi minum hewan-hewan mereka dan menyirami kebun dan tanaman-tanaman mereka. Padahal awan itu datang membawa azab bagi mereka. Mereka pun ditimpa angin yang kencang yang terus menimpa mereka selama tujuh malam delapan hari tanpa henti, yang membinasakan segala sesuatu yang ada di hadapannya sehingga mereka semua binasa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Maka ketika mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.” (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta agar datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih,”–Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa. (QS. Al Ahqaaf: 24)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersamanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Maka Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan mereka bukanlah orang-orang yang beriman.” (QS. Al A’raaf: 72)

Hud ‘alaihis salam pun pergi bersama orang-orang yang beriman ke tempat yang lain; yang di sana mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mukjizat Nabi Hud AS

Cerita Nabi Hud AS disebutkan dalam 10 surah diantaranya surah Hud, ayat 50 hingga 60, surah “Al-Mukminun” ayat 31 hingga ayat 41, surah “Al-Ahqaaf” ayat 21 hingga ayat 26 dan surah “Al-Haaqqah” ayat 6, 7, dan 8.

Nabi Hud AS dalam silsilah masih keturunan Nabi Nuh AS. Nabi Hud AS diutus oleh Allah Ta’ala untuk berdakwah kepada kaum Ad. Kaum Ad adalah kaum yang hampir sama dengan kaum Nabi Nuh AS dalam menyembah Tuhannya, yaitu menyembah berhala. Mereka membuat patung-patung atau berhala yang kemudian diberi nama “Shamud” dan “Alhattar”. Berhala itu kemudian disembah sebagai tuhan mereka. Mereka percaya bahwa berhala itu dapat memberi perlindungan, kebaikan, dan keuntungan serta dapat menolak segala musibah. Oleh sebab itu, mereka tidak putus-putus sujud kepada kedua berhala itu.

Kaum Ad telah sesat, mereka telah dikuasai oleh tipu daya iblis. Pada saat itu, disana nilai-nilai moral dan akhlak tidak menjadi dasar penimbangan atau kelakuan. Tindak-tanduk mereka bagaikan binatang, mereka hanya mengandalkan kebendaan dan kekuatan lahiriah. Maka wajar sering timbul kerusuhan dan tindakan sewenang-wenang di dalam masyarakat. Kaum yang kuat menindas kaum yang lemah. Sifat-sifat sombong, congkak, iri hati, dengki, hasut, dan benci-membenci yang didorong oleh hawa nafsu merajalela dan menguasai penghidupan mereka. Disana, seolah tidak memberi tempat kepada sifat-sifat belas kasihan, sayang-menyayangi, jujur, amanat, dan rendah hati. Demikianlah gambaran masyarakat suku Ad tatkala Allah Ta’ala mengutus Nabi Hud AS sebagai nabi dan rosul kepada mereka.

Nabi Hud AS diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk meluruskan kembali kehidupan kaum Ad yang telah sesat dan menyimpang dari ajaran-ajaran agama yang dibawa oleh nabi-nabi terdahulu. Nabi Hud AS ditugaskan oleh Allah Ta’ala untuk menyegarkan kembali ajaran-ajaran nabi yang sebelumnya. Mengajak kembali masyarakat Ad yang sudah sesat, ke jalan lurus dan benar.

Kaum Ad yang telah dimabukan oleh kesejahteraan hidup dan kenikmatan duniawi sehingga tidak mengenal Tuhannya. Nabi Hud AS adalah seorang daripada kaum mereka sendiri. Ia berasal dari keluarga yang terpandang dan berpengaruh. Nabi Hud AS sejak kecil memiliki budi pekerti luhur dan sangat bijaksana, baik di rumah maupun dalam pergaulan dengan kawan-kawannya.

Cerita Nabi Hud AS memulai dakwahnya dengan menarik perhatian kaum suku Ad. Dengan cara memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala yang telah menciptakan dan mengaruniakan mereka dengan segala kenikmatan hidup. Dia-lah yang seharusnya mereka sembah dan bukan berhala yang mereka buat sendiri. Kemudian Nabi Hud AS menerangkan bahwa dia diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk membawa mereka ke jalan yang benar dan beriman kepada Allah Ta’ala.

Bagi kaum Ad seruan dakwah Nabi Hud AS itu merupakan omong kosong. Mereka melihat bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Hud AS itu akan mengubah cara hidup mereka dan merusak adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Mereka dengan tegas menolak ajakan Nabi Hud AS itu dengan berbagai alasan dan ejekan, bahkan hinaan. Ejekan dan hinaan diterima oleh Nabi Hud AS dengan kepala dingin dan penuh kesabaran.

Kaum Ad menganggap bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Hud AS membuat mereka meninggalkan tuhan-tuhan (berhala) mereka. Kemudian, mereka mempertanyakan tentang tuhan yang disembah Nabi Hud AS yang tidak terjangkau dengan pancaindra mereka. Sebaliknya, kaum Hud menyerukan agar Nabi Hud AS kembali kepada aturan nenek moyangnya.

Nabi Hud AS berkata kepada mereka bahwa sesungguhnya tuhan yang diserukannya ini dapat dirasakan wujudnya dalam diri mereka sendiri. Selain itu, melihat segala ciptaan-Nya berupa alam semesta, langit dengan matahari bulan dan bintang-bintangnya, dan bumi beserta isinya sangat bermanfaat bagi kamu sebagai manusia. Hanyalah Allah Ta’ala yang harus mereka sembah. Allah Yang Maha Esa, tiada bersekutu tidak beranak dan diperanakkan.

Kaum Ad beranggapan bahwa Nabi Hud AS telah mendapatkan kutukan tuhan-tuhan (berhala) sehingga menyebabkan pikirannya kacau. Nabi Hud AS dianggap mengucapkan kata-kata yang tidak masuk akal karena dalam ajaran agamanya, dijelaskan tentang aturan hidup dan akan adanya hari kebangkitan kembali dari kubur serta ganjaran atas segala amalan yang diperbuat.

Cerita Nabi Hud AS memulai dakwahnya dengan menarik perhatian kaum suku Ad. Dengan cara memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala yang telah menciptakan dan mengaruniakan mereka dengan segala kenikmatan hidup. Dia-lah yang seharusnya mereka sembah dan bukan berhala yang mereka buat sendiri. Kemudian Nabi Hud AS menerangkan bahwa dia diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk membawa mereka ke jalan yang benar dan beriman kepada Allah Ta’ala.

Bagi kaum Ad seruan dakwah Nabi Hud AS itu merupakan omong kosong. Mereka melihat bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Hud AS itu akan mengubah cara hidup mereka dan merusak adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Mereka dengan tegas menolak ajakan Nabi Hud AS itu dengan berbagai alasan dan ejekan, bahkan hinaan. Ejekan dan hinaan diterima oleh Nabi Hud AS dengan kepala dingin dan penuh kesabaran.

Kaum Ad menganggap bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Hud AS membuat mereka meninggalkan tuhan-tuhan (berhala) mereka. Kemudian, mereka mempertanyakan tentang tuhan yang disembah Nabi Hud AS yang tidak terjangkau dengan pancaindra mereka. Sebaliknya, kaum Hud menyerukan agar Nabi Hud AS kembali kepada aturan nenek moyangnya.

Nabi Hud AS berkata kepada mereka bahwa sesungguhnya tuhan yang diserukannya ini dapat dirasakan wujudnya dalam diri mereka sendiri. Selain itu, melihat segala ciptaan-Nya berupa alam semesta, langit dengan matahari bulan dan bintang-bintangnya, dan bumi beserta isinya sangat bermanfaat bagi kamu sebagai manusia. Hanyalah Allah Ta’ala yang harus mereka sembah. Allah Yang Maha Esa, tiada bersekutu tidak beranak dan diperanakkan.

Cerita Nabi Hud, Kaum Ad beranggapan bahwa Nabi Hud AS telah mendapatkan kutukan tuhan-tuhan (berhala) sehingga menyebabkan pikirannya kacau. Nabi Hud AS dianggap mengucapkan kata-kata yang tidak masuk akal karena dalam ajaran agamanya, dijelaskan tentang aturan hidup dan akan adanya hari kebangkitan kembali dari kubur serta ganjaran atas segala amalan yang diperbuat.

Ajaran Agama yang dibawa Nabi Hud AS dianggap tidak masuk akal karena menurut mereka tidak akan mungkin manusia dibangkitkan kembali dari kubur setelah mati dan menjadi tulang. Selain itu, menurut mereka azab dan siksaan yang diberitakan oleh Nabi Hud AS hanya berupa ancaman semata. Mereka menganggap berita itu omong kosong dan ancaman kosong belaka. Bahkan mereka menentang adanya azab yang dikabarkan oleh Nabi Hud AS dan menganggapnya sebagai pendusta.

Nabi Hud AS sangat terpukul akan tantangan dan pendirian kaum Ad yang tidak mau meninggalkan berhala-berhala sebagai tuhanya. Nabi Hud AS pun berkata akan ada azab dari Tuhan dan mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari bencananya. Nabi Hud AS berserah diri kepada Allah Ta’ala atas segala tugas yang diberikan kepadanya. Ia akan tetap berusaha sepanjang hayatnya dalam memberi tuntunan kepada kaumnya tentang jalan yang baik yang telah digariskan oleh Allah Ta’ala.

Cerita Nabi Hud, Pembalasan Allah Ta’ala terhadap kaum Ad yang kafir dan tetap membangkang itu diturunkan dalam dua tahap. Tahap pertama berupa kekeringan yang melanda ladang-ladang dan kebun-kebun mereka, sehingga menimbulkan kecemasan dan kegelisahan. Pada saat itu, mereka tidak memperoleh hasil dari ladang-ladang dan kebun-kebunnya seperti biasanya. Akan tetapi, dalam kondisi tersebut, Nabi Hud AS masih berusaha meyakinkan mereka bahwa kekeringan itu adalah suatu permulaan siksaan dari Allah Ta’ala yang dijanjikan dan bahwa Allah Ta’ala pada tahap itu, Allah Ta’ala masih memberi kesempatan kepada mereka untuk sadar dan bertobat dari kesesatan dan kekafiran. Akan tetapi, mereka menganggap janji Nabi Hud AS itu adalah janji kosong belaka. Mereka bahkan pergi menghadap berhala-berhala. Mereka memohon perlindungan dari musibah yang mereka hadapi.

Tantangan mereka terhadap janji Allah Ta’ala yang diwahyukan kepada Nabi Hud AS segera mendapat jawaban. Datangnya azab tahap kedua, yaitu mulai terlihatnya gumpalan awan hitam yang tebal. Kaum Ad menyambutnya dengan gembira karena menganggap itu adalah gumpalan awan hujan akan segera turun membasahi ladang-ladang dan menyirami kebun-kebun mereka. Melihat sikap kaum Ad yang sedang bersuka ria, Nabi Hud AS berkata bahwa awan hitam itu bukan membawa kegembiraan, tetapi yang akan membawa kehancuran sebagai pembalasan Allah Ta’ala untuk membuktikan kebenaran kata-kata yang pernah diucapkannya.

Apa yang diucapkan Nabi Hud AS itu terbukti benar

Cerita Nabi Hud Ternyata, bukan hujan yang turun dari awan yang tebal itu, melainkan angin topan yang sangat dahsyat yang disertai bunyi gemuruh. Hal ini akan merusak bangunan-bangunan rumah dan harta benda dan binatang ternak. Saat itu, kaum Ad menjadi panik. Mereka berlarian mencari perlindungan. Mereka juga kehilangan anak, istri, dan saudaranya. Bencana angin topan itu berlangsung selama delapan hari tujuh malam sehingga menyapu bersih kaum Ad yang congkak itu. Adapun Nabi Hud AS dan para sahabatnya yang beriman telah mendapatkan perlindungan Allah Ta’ala dari bencana yang menimpa kaumnya itu. Setelah keadaan cuaca normal kembali. Nabi Hud AS berhijrah ke Hadramaut, menghabiskan sisa hidupnya sampai ia wafat dan dimakamkan disana. Makamnya yang terletak diatas sebuah bukit dan berada pada lebih kurang 50 km dari kota Siwun. Hingga sekarang sering diziarahi orang.