Century for Dummies

by

Bina Bektiati
bina@tempo.co.id

Garut News ( Senin, 02/12 ).

Ilustrasi. ( Foto : John).
Ilustrasi. ( Foto : John).

Sebuah stasiun televisi swasta menayangkan debat tentang perkembangan kasus Bank Century.

Yang menjadi fokus adalah untuk pertama kalinya Wakil Presiden Boediono ditanyai oleh Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai saksi.

Salah satu narasumber, dengan suara meyakinkan, mengungkapkan fakta-fakta.

Yang lainnya berkukuh memiliki bukti-bukti yang memperkuat indikasi Boediono bersalah.

Nona pembawa acara-agar tampak melontarkan pertanyaan-pertanyaan tajam-memotong-motong jawaban dan pernyataan para narasumber.

Di tengah kecabuhan debat, yang saya coba simak sepenuh hati, tiba-tiba anak saya yang berusia 15 tahun nyeletuk, “Kasus Century itu, gimana sih?”

Waduh! Bagaimana menjelaskannya?

Saya tak siap dengan jawaban jelas dan simpel untuk kasus yang benihnya dimulai sejak November 2001 itu, ketika rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia menyetujui akuisisi Chinkara Capital Ltd terhadap Bank CIC, Bank Pikko, dan Bank Danpac, yang kemudian menjadi Bank Century.

Pembabakannya terlalu panjang dan kontroversinya pun rumit.

Bagaimana menjelaskan apakah negara dirugikan atau tidak, apakah orang-orang pintar yang memutuskan Bank Century menjadi bank gagal, salah atau tidak.

Padahal, di Indonesia, kasus-kasus yang ada kaitannya dengan korupsi, suap, kolusi bukan hanya Bank Century.

Daftarnya panjang, kerumitannya pun tak terbayangkan.

Kita membutuhkan cara menjelaskan yang simpel, yang bisa digunakan untuk memberikan pemahaman politik dan sejarah kepada remaja 15 tahun, atau siapa saja.

Kita memerlukan Century for Dummies.

Anda pasti masih ingat buku atau kemasan informasi model for dummies, yang isinya penjelasan ramah bagi pemula dalam suatu masalah atau bidang.

For dummies dipelopori Dan Gookin dengan buku DOS for Dummies yang diterbitkan pada November 1991.

Setelah itu, for dummies berkembang banyak ragam dan topik.

Kita bisa meniru model for dummies.

For dummies bukan untuk orang bodoh, melainkan-seperti motonya-dibuat sebagai referensi untuk sebagian dari kita yang ingin paham secara instan.

Tidak semuanya mengikuti perkembangan kasus Century atau yang lainnya.

Padahal informasi tentang berbagai skandal korupsi, kolusi, dan nepotisme di negeri ini perlu dicatat dengan baik, bersih, jelas, serta non-partisan.

Kemasan informasi semacam for dummies ini penting bagi publik, termasuk anak-anak muda.

Kasus-kasus korupsi perlu dicatat dengan baik, jelas, dan simpel.

Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan, bisa menuliskan sejarah setelah Reformasi 1998 khusus korupsi dalam bentuk for dummies.

Mungkin lembaga-lembaga penelitian dan pendidikan tinggi yang punya perhatian dan keprihatinan terhadap menjamurnya korupsi di negeri ini tergerak membuat serial for dummies untuk kasus-kasus korupsi besar.

Komisi Pemberantasan Korupsi pun perlu dalam menjalankan fungsi pencegahan korupsi melalui pendidikan antikorupsi bisa berperan.

Bayangkan, berapa banyak yang telah kita lupa atau tidak pernah paham tentang berbagai kasus korupsi.

Mulai yang menyangkut mantan Presiden Soeharto beserta kroni-kroninya telah menjadi kasus kakap yang tak pernah tuntas terungkap.

Bagaimana asal mulanya, siapa saja aktornya, bagaimana langkah hukumnya, jeratan hukum apa yang menjadi poin-poin yang bisa masuk Soeharto for Dummies, misalnya.

Masih banyak lagi daftarnya, seperti Bulog Gate for Dummies, Cek Pelawat for Dummies, Gayus for Dummies, Hambalang for Dummies, Sapi for Dummies, dan Nazaruddin for Dummies.

Ayo, membuat gerakan “Korupsi for Dummies”, dengan mendokumentasi secara jelas dan simpel kasus-kasus korupsi di Indonesia. Y

ang merasa kreatif, yang jago membuat animasi, yang cerdas memformulasikan storyboard, yang mumpuni menulis jelas dan kocak, bisa bersinergi dalam tim for dummies.

***** Sumber : Kolom/artikel Tempo.co