Celentung Selaawi Kian Marak Digemari Kaula Muda

0
8 views
Ilustrasi.
Serba Berbahan Baku Bambu.

“Produk Inovasi Piranti Musik Tradisional”

Garut News ( Sabtu, 05/10 – 2019 ).

Kesenian permainan Calung, dan angklung sejak lama dikenal sebagai piranti musik tradisional khas masyarakat tatar Sunda/Jawa Barat berbahan baku bambu.

Bahkan tak hanya dikenal pada lingkungan masyarakat Sunda melainkan juga masyarakat internasional. Demikian pula dengan perangkat seruling yang berbahan baku bambu pula.

Namun celentung, lengkapnya celentung selaawi ? Apa gerangan ? Bagi kebanyakan orang tampaknya masih asing terdengar di telinga. Kendati kini, celentung mulai naik daun menjadi tren mainan baru yang melekat pada warga di wilayah Kecamatan Selaawi Garut, khususnya dalam budaya bermusik tradisional.

Celentung merupakan alat musik baru berbentuk pipa bulat memanjang berbahan baku utama bambu hitam (Gigantochloa atroviolacea), ditambah kayu, dan fiber elastis.

Bambu digunakan bagian ujung ruasnya dipotong pendek berukuran terpendek 27 centimeter, dan terpanjang 33 centimeter. Bagian atasnya dilobangi memanjang dari atas ke bawah pada dua sisi ruas berukuran panjang lobang berkisar enam centimeter hingga terpanjang 14 centimeter.

Kemudian diberi bandulan kecil berkayu keras ditempelkan pada ujung per kawat setelah diikat tambahan ruas bambu pada bagian sisi ruasnya. Sehingga ketika digerak-gerakkan menghasilkan bunyi ‘tung, tung, tung’, atau ‘ngelentrung’.

Sedangkan satu set celentung terdiri 14 buah (satu setengah oktav).

Memainkan celentung sangat mudah dengan cara menggoyangkannya secara beraturan. Bunyi khas bernada diatonis (do re mi fa sol la si do) dikeluarkannya menjadi daya tarik tersendiri terutama bagi kalangan muda mudi. Memainkan celentung membawa keceriaan, dan kesenangan tersendiri.

Maka tak heran, alat musik hasil kreasi Camat Selaawi Ridwan Effendi pada 2016 itu cepat digemari masyarakat terutama para kawula muda, dan menjadi ciri khas tren bermusik tradisional warga Selaawi terkini. Kendati baru diperkenalkan resmi ke masyarakat luas pada peringatan Hari Jadi Garut ke-206 pada 2016.

Selain mudah dimainkan, celentung juga bisa dipadukan dengan beragam alat musik lainnya.

Menurut Ridwan, penciptaan celentung terinspirasi dari pagelaran alat musik bambu “Angklung” di Saung Aklung Udjo Bandung pada 2016, dan tiktak awi yakni mainan anak-anak terbuat dari bambu pemberian pakar bambu terkemuka Pon S. Purajatnika.

Sedangkan di wilayah kerjanya Selaawi kaya potensi bambu, mulai ketersediaan bahan baku hingga sumber daya manusianya. Sehingga terbetiklah ide mengeluarkan ragam inovasi produk bambu termasuk alat musik bambu.

Dengan bantuan ahli pembuatan alat musik Oman berusia sepuh warga Kampung Desa Putrajawa Selaawi, terlahirlah alat musik bambu dinamainya Celentung Selaawi lantaran mengeluarkan bunyi tung, tung, tung, atau ngelentrung.

Dibantu beberapa rekan lainnya, semakin disempurnakan, dan dikembangkan hingga benar-benar laik ditampilkan.

“Semoga celentung ini memberi warna baru, sekaligus menambah koleksi alat musik tradisi dari bambu yang ada sebelumnya. Juga bisa menambah nilai ekonomis masyarakat, dengan banyaknya permintaan alat musik celentung, serta meningkatkan kunjungan wisata budaya, baik wisatawan domestik maupun mancanegara,” imbuh Ridwan, Jum’at (04/10-2019).

Melindungi dari pembajakan pihak lain, Ridwan pun mendaftarkan kepemilikan hak cipta atas Celentung elaawi tersebut ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia belum lama ini.

********

(Abisyamil, JDH/Fotografer : John Doddy Hidayat).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here