Cegah Kemungkinan Konspirasi “Mengadu-domba” di Garut

0
101 views
Masjid Agung Garut.

Garut News ( Selasa, 07/11 – 2017 ).

Masjid Agung Garut.

********** Banyak warga Garut heran adanya penolakan terhadap rencana kehadiran Ustaz Bahtiar Natsir, dan Ahmad Shabari Lubis pada Tabligh Akbar di Alun Alun/Lapang Otto Iskandardinata depan Masjid Agung, Sabtu (11/11-2017). Sehingga diperlukan sikap elegan yang bisa mencegah kemungkinan adanya konspirasi untuk mengadu-dombakan Umat Islam di Garut

Menyusul terdapatnya penolakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) kabupaten setempat. Sehingga menimbulkan riak juga reaksi tak kalah keras dari umat Islam lainnya.

“Ada apa ini? Mengapa harus ditolak? Sedang terjadi apa umat Islam di Garut ini sampai terjadi pro dan kontra gara-gara acara Tabligh Akbar?,” ungkap Moch. Rizki Fauzi Ihsan mahasiswa Uniga, Selasa (07/11-2017).

Dia berpendapat, mereka tak setuju kehadiran Ustaz Bahtiar Natsir, sebaiknya enggak usah datang menghadiri Tabligh Akbar. Lebih baik berdiam diri saja di masing-masing rumahnya, atau bepergian menikmati liburan ke tempat wisata.

Dikemukakan, penolakan terhadap Ustaz Bahtiar Natsir tersebut justeru menjadikannya penasaran untuk datang menghadiri acara Tabligh Akbar.

“Lanjutkan saja acara Tabliq Akbar-nya dengan penceramah Bahtiar Natsir. Saya sebagai generasi muda ingin tahu, seberapa bahayanya isi ceramah itu,” ujarnya.

Ungkapan senada dikatakan Ucang Darmawan penduduk Kecamatan Pangatikan. Dia menyesalkan penolakan terhadap Ustaz Bahtiar Natsir, dan Ahmad Shabari Lubis yang akan mengisi Tabligh Akbar itu.

Dia yakin masyarakat Garut terutama kalangan ulama, dan kyai di Garut memahami soal-soal keagamaan. “Lanjutkan saja. Kenapa ditolak,” tegasnya.

Sebagian warga lainnya mencurigai munculnya pro kontra rencana kehadiran Ustaz Bahtiar Natsir, dan Ahmad Shabari Lubis ini terjadi karena ada pihak tertentu sengaja membenturkan sekelompok umat Islam dengan kelompok umat Islam lainnya agar umat Islam terpecah belah. Apalagi pro kontra tersebut terkesan lebih tampak di kalangan elit masyarakat.

“Seorang ulama mau memberikan tausiyah, kok dilarang ? Kalau tak setuju, ya enggak usah hadir ! Atau baiknya, hadir dan dengarkan dulu tausiyahnya. Kalau memang ada isi ceramahnya dinilai keluar dari seharusnya, barulah ditegur. Itu pun mesti faham betul materinya, dan argumentasinya dapat dipertanggungjawabkan,” kata Ny. Hilda warga Panawuan Kecamatan Tarogong Kidul.

Menurutnya, umat Islam dari kalangan mana pun dan organisasi apapun hendaknya selalu arif juga elegan menyikapi ragam kemungkinan merebaknya konspirasi untuk mengadu domba umat Islam. Termasuk di Garut sekarang.

“Sebaiknya mereka yang tak sependapat itu saling komunikasi dan koordinasi saja. Jangan sampai saling cakar mencakar yang akhirnya merugikan umat Islam sendiri,” imbuhnya.

Hasyim asal Desa Cintarakyat Tarogong Kidul malahan merasa heran adanya hiruk pikuk pro kontra Tabligh Akbar yang akan menghadirkan Ustaz Bahtiar Natsr dengan Ahmad Shabari Lubis ini.

“Warga kami banyak yang NU. Tetapi biasa-biasa saja. Enggak terdengar ada ribut-ribut soal Ustaz Bahtiar Natsir itu,” ujarnya.

*********

(NZ/ Fotografer : John Doddy Hidayat).