You are here
Jenderal Faisal Tanjung dan Kunci Gerbang DPR 1998 ARTIKEL 

Jenderal Faisal Tanjung dan Kunci Gerbang DPR 1998

Selasa , 23 May 2017, 10:00 WIB Red: Muhammad Subarkah Oleh Selamat Ginting* “Buka! Kau buka pintunya! Jangan sampai terjadi pertumpahan darah!” Suara bariton yang menggelegar itu disampaikan Menko Polkam, Jenderal (Purn) Feisal Tanjung melalui telepon genggamnya kepada seseorang di ruang kerjanya, kantor Menko Polkam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, pertengahan Mei 1998. Saat itu saya sedang di ruang kerjanya bersama empat wartawan lainnya mewawancarai Jenderal Tanjung. Pertanyaan seputar tewasnya empat mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta oleh aparat kepolisian.

Read More
Mimpi al-Ghazali ARTIKEL 

Mimpi al-Ghazali

Red: Budi Raharjo REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Erdy Nasrul Pada suatu malam, Hujjatul Islam Imam al-Ghazali bermimpi. Dia ditanya, “Apa yang telah Allah perbuat terhadap kamu?” Kemudian al-Ghazali menjawab, Allah telah mendudukkan dia di hadapan Sang Pencipta. Kemudian Allah menanyakan, perbuatan apa yang akan diajukannya. Pengarang Maqashidul Falasifah ini menyebutkan seluruh amal perbuatannya. Allah kemudian menolak semuanya, kecuali satu amal. Pada suatu hari ‎seekor lalat hinggap di ujung pena al-Ghazali untuk minum. Sementara sang imam ketika itu sedang menulis.

Read More
Tragedi Buku di Tanah Tercinta ARTIKEL 

Tragedi Buku di Tanah Tercinta

Sabtu , 20 May 2017, 06:00 WIB Red: Maman Sudiaman Oleh : Asma Nadia REPUBLIKA.CO.ID, Ada satu pertanyaan yang diajukan penyair Taufik Ismail ketika melakukan survei kepada tamatan SMA dari berbagai negara. Berapa banyak buku (sastra–non pelajaran) yang wajib dibaca seorang lulusan SMA? Hasilnya cukup membuat kita mengurut dada.

Read More
Wahai Muslim, Jangan Pernah Lupakan Pembantaian Bosnia! ARTIKEL 

Wahai Muslim, Jangan Pernah Lupakan Pembantaian Bosnia!

Jumat , 19 May 2017, 15:47 WIB Red: Agung Sasongko Oleh: Muharom Ahmad* REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — ‘’Jangan pernah lupakan Serbenica!’’ Ucapan ini dikatakan berulangkali oleh peminat sejarah asal Belanda sesampainya bus yang membawa rombongan ‘Tour Klasik Himppuh ke Balcan’ sampai di Serbenica. Hasan yang mengaku sempat tinggal di kawasan Serbenica pada masa konflik yang membunuh 250 ribu orang itu, berkata dengan penuh emosional. Perkataannya yang semula lancar kini tersendat. Kerongkongannya terasa tersumbat dan kedua matanya berurai air mata. Dia mengaku hatinya hancur kembali ketika mengingat kembali kebrutalan tentara Serbia terhadap…

Read More
Siasat Perusak Reputasi ARTIKEL 

Siasat Perusak Reputasi

Jumat , 19 May 2017, 08:55 WIB Red: Fitriyan Zamzami REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yusuf Maulana* Awalnya, Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi masih terngiang dengan peristiwa pembantaian Muslimin di Yerusalem pada 1099. Maka, saat 88 tahun kemudian, ketika ia berhasil memukul mundur tentara Eropa dari kota suci itu, hasrat membalaskan dendam atas kekejian lawannya hadir serta-merta. Dan di sisi inilah Shalahuddin mampu mengendalikan hasrat membalaskan dendam. Tidak ada narasi pembantaian umat Nasrani, selain beberapa orang elit tentara yang dikenali melampaui kemanusiaan ketika melawan perlawanan muslimin.

Read More
Saling Mengebor Luka ARTIKEL 

Saling Mengebor Luka

Jumat , 19 May 2017, 06:00 WIB Red: Maman Sudiaman Oleh : Nasihin Masha REPUBLIKA.CO.ID, Luka itu semakin dalam, luka itu sudah terlalu dalam. Namun mata bor tetap melekat-menghunjam, dan terus ditekan-diputar. Sakit. Kadang menyeringai, kadang murka. Kadang tersenyum, kadang terbahak. Rasa perih masih bisa disimpan. Luka itu menjadi panas, sakit pun bersemayam menjadi tabiat.

Read More
Pelajaran Berharga dari Genosida Muslim Bosnia ARTIKEL 

Pelajaran Berharga dari Genosida Muslim Bosnia

Rabu , 17 Mei 2017, 11:24 WIB Red: Agung Sasongko Oleh: Ahmad Muharom* REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pada abad ke-13, Bosnia adalah negara dengan mayoritas Muslim. Mereka hidup damai dengan kaum minoritas. Pada masa itu, setidaknya ada 45 persen dari 4,7 juta warga Bosnia memeluk agama Islam. Sisanya adalah Kristen Ortodoks, Katolik, Protestan, dan lainnya. Arus modernisasi membuat penduduk Bosnia mengikuti gaya Eropa pada umumnya. Identitas agama tidak lagi terlihat mencolok. Semua hidup berdampingan dengan damai dalam bingkai kerukunan antarumat beragama.

Read More