Catatan Sains 2013

Dian Basuki,
Peminat Masalah Sains

Jakarta, Garut News ( Senin, 30/12 ).

Ilustrasi, Lorong. (Foto: John).
Ilustrasi, Lorong. (Foto: John).

Bagi sebagian anak Indonesia, sains dan matematika sangat mengasyikkan.

Berulang kali anak Indonesia meraih prestasi dalam forum-forum kompetisi sains dan matematika internasional.

Di antara rasa bangga itu, sebuah catatan patut dibubuhkan atas hasil PISA (Programme for International Student Assessment) 2012, yang diumumkan pada Desember ini.

Sejak tahun 2000, Indonesia mengikuti survei yang diadakan Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD) tiga tahun sekali.

Setiap kali pula Indonesia menempati posisi bawah, bahkan kali ini nyaris menjadi juru kunci dari 65 negara peserta.

Rata-rata skor matematika anak Indonesia 375, membaca 396, dan sains 382.

Capaian ini di bawah rata-rata skor OECD, yakni 494, 496, dan 501.

PISA mengukur kecakapan anak-anak usia 15 tahun dalam menerapkan kemampuan matematika, sains, dan membaca untuk memahami persoalan di dunia nyata.

Karena itu, hasil PISA memberikan gambaran umum mengenai tingkat literasi dalam ketiga aspek itu.

Pendekatan ini berbeda dengan TIMMS (Trends in International Mathematics and Science Study) yang lebih berfokus pada penguasaan konsep.

Dalam soal-soal PISA itu, terkandung assessment atas kemampuan menalar dan kecakapan berpikir.

Seorang anak mungkin menguasai konsep matematika atau sains tertentu, tapi ketika ia diminta memahami atau memecahkan suatu persoalan di dunia nyata dengan pengetahuannya itu, ia mungkin bingung bila tak menguasai ‘cara bernalarnya.

Apa yang sangat diperlukan anak-anak dalam menghadapi tantangan yang kian kompleks pada masa mendatang bila bukan kemampuan bernalar (dan karakter-yang tidak dinilai dalam PISA)?

Terlepas dari kritik terhadap PISA-niscaya tak ada pendekatan yang sempurna-hasil tersebut memperlihatkan betapa scientific literacy anak-anak Indonesia tertinggal.

Tujuh peringkat teratas PISA 2012 ditempati oleh Shanghai, Singapura, Hongkong, Taiwan, Korea Selatan, Makau, dan Jepang.

Finlandia, yang dikenal memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia, ada di urutan ke-12.

Negara OECD yang masuk 10 besar adalah Liechtenstein, Swiss (ke-9) dan Belanda (ke-10).

Sementara Inggris di urutan ke-12 dan Amerika Serikat di peringkat ke-36-turun drastis dari urutan ke ke-23 dalam PISA 2009.

Vietnam secara tak terduga menempati peringkat ke ke-17, tepat di atas Austria dan Australia serta persis di bawah Jerman.

Kemunduran Barat mencemaskan banyak pihak.

Dalam buku Unscientific America: How Scientific Illiteracy Threatens Our Future (2011), Sheril Kirshenbaum dan Chris Mooney mengungkapkan kecemasan mereka terhadap literasi sains bangsa Amerika.

Riset yang dilakukan John Miller (2007) menunjukkan bahwa sekitar 28 persen warga dewasa Amerika saja yang mendapat kualifikasi scientifically literate.

Sejumlah bangsa Asia memang bersungguh-sungguh menangani isu literasi ini, antara lain Cina dan Korea selatan.

Telaah tentang materi assessment PISA memang perlu.

Namun hasil tersebut telah gamblang memperlihatkan bahwa dalam isu literasi sains dan matematika, Indonesia dalam kondisi kritis.

Prestasi dalam berbagai kompetisi internasional menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia memiliki potensi besar dalam sains dan matematika.

Yang diperlukan adalah kerangka kerja strategis berjangka panjang, sebagaimana yang dijalankan Cina dan Korea, bukan solusi pragmatis dan instan.

**** Kolom/artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment