Cara Pikir Fatalistik: Lahirnya Generasi Picik

0
33 views
Ilustrasi.

Oleh: DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum.

Garut News 9 Jum’at, 12/08 – 2016 ).

Ilustrasi.
Ilustrasi.

– Bosan rasanya menghadapi orang-orang yang hanya bisa mempunyai pilihan “this or that” – alias kalau bukan begini, pasti begitu. Seakan-akan dunia ini hanya monokromatik.

Kalau mau sehat, alamat enggak bisa makan enak. Kalau mau nilai bagus di sekolah, alamat Puasa nonton televisi. Kalau mau karir sukses, alamat perkawinan di ujung tanduk. Kalau pabrik rokok tutup, petani tembakau mati.

Bukankah sehat juga tetap bisa makan enak? Tuhan menciptakan rasa nikmat di lidah bukan sesuatu yang berdosa kok. Tergantung jenis makanan enak apa yang dimakan.

Begitu pula menjadi juara di sekolah tidak sama dengan jadi anak kuper. Tetap masih bisa menonton televisi bahkan semalam sebelum ujian, karena belajar itu bukan sistem kebut semalam – melainkan pemahaman ilmu yang dicicil sedikit demi sedikit.

Tetap menanjak di karir, dengan hubungan keluarga yang semakin mesra – karena tujuan mencari uang justru untuk kebahagiaan keluarga.

Begitu pula petani tembakau tetap hidup, jika tembakau dialihkan sebagai bahan baku pestisida alami, bukan pemati bangsa manusia.

Jika ditelaah dalam bahasa pelatihan motivasi yang sedang marak itu, bisa jadi hal yang di atas tadi adalah fenomena kebiasaan perilaku ‘menang-kalah’ yang semestinya bergeser menjadi ‘menang-menang’. Jika mau menang beneran di semua area kehidupan.

Ketika pembiaran jadi pilihan

Kenyataannya, praktik tidak berjalan semulus teori. Mengapa? Sekali lagi, masalah pembelajaran, pembiasaan dan pembiaran.

Tanpa sadar orangtua mengajari anak hanya punya dua pilihan. Lebih celaka lagi, pembelajaran dilakukan dengan cara klasik punishment and reward. Anak hanya sekadar mengejar apa yang menguntungkan (termasuk bila berbohong ternyata ampuh) dan menghindari yang menyakitkan.

Jika semua gagal dan akhirnya menemukan jalan buntu, pembiaran menjadi opsi. Tak pelak, dunia kesehatan juga begitu rupanya.

Jika di kamar praktik, dokter irit bicara dan hanya memberi perintah: “jaga pola makan ya” atau nasehat klasik, ”perbanyak olah raga dong” – tanpa menjelaskan detil makanan yang sebaiknya dikonsumsi seperti apa, mengapa begitu dan apa jalan keluarnya bila sering ke luar kota atau rutin dinner meeting, maka pasien diabetes dengan kegemukan sudah tentu akan merasa patah arang.

Fatalistiknya? Obat satu-satunya jalan keluar. Padahal, tidak menyelesaikan masalah sama sekali. Semua asosiasi kesehatan di muka bumi ini mengakui, jalan terbaik adalah perbaikan gaya hidup dan pola makan – karena penyakitnya berasal dari situ.

********

Editor : Bestari Kumala Dewi/Kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here