Capres van Iklan

-Dianing Widya, novelis, pegiat sosial, @dianingwy

Jakarta, Garut News ( Senin, 20/01 – 2014 ).

Ilustrasi, Politikus Penunggu Pohon. ( Foto : John Doddy Hidayat ).
Ilustrasi, Politikus Penunggu Pohon. ( Foto : John Doddy Hidayat ).

Menjadi presiden, tentulah, sangat menggiurkan.

Berada di tampuk kekuasaan merupakan hal yang menyenangkan, begitu kata Friedrich Nietzsche.

Maka itu, berbagai cara ditempuh untuk menuju tampuk kekuasaan.

Mereka berlomba-lomba memperkenalkan diri kepada rakyat agar dipilih.

Salah satunya, “menjual diri” lewat iklan.

Bahkan terkadang, kelihatannya iklan lebih penting daripada aksi nyata sang calon.

Iklan dipercaya menjadi salah satu media penting untuk mengenalkan diri ke khalayak.

Iklan dibuat semenarik mungkin untuk bisa “melumpuhkan” kesadaran rakyat agar memilih mereka.

Seperti halnya iklan produk, iklan politik membekali diri dengan usaha menawarkan/menafsirkan mimpi-mimpi calon konsumen atau orang banyak.

Maka iklan capres ditampilkan seolah kita tinggal di negeri atas angin.

Dalam iklan, capres seolah hadir mewakili impian orang banyak pada kehidupan ideal: damai, makmur, dan sejahtera.

Mereka juga sosok yang populis dan mengayomi-antara lain direpresentasikan dengan visual sang capres sedang bersama orang-orang kecil.

Ada hiruk-pikuk kehidupan nelayan, petani di sawah, serta senda-gurau buruh yang baru keluar dari tempat kerja.

Orang-orang kecil itu digambarkan begitu bahagia.

Tak berlebihan jika E.B White, esais dan novelis terkemuka Amerika (1899-1985), menyebutkan bahwa para pengiklan adalah para penafsir mimpi-mimpi khalayak ramai, dengan tujuan tertentu.

Mereka mengandalkan kelemahan orang banyak, seperti rasa takut, ambisi, kebanggaan, keegoisan, keinginan, dan ketidaktahuan.

Iklan capres yang mengharu biru sekaligus bikin mual bagi mereka yang melek politik, mungkin menjadi harapan besar bagi mereka yang tidak tahu perkembangan politik mutakhir.

Penampilan sosok yang merakyat dengan berbelanja di pasar tradisional, sosok yang akrab dengan wong cilik, sosok yang menyayangi ibu dan manula, akan dipilih karena dianggap mewakili impian mereka.

Pengiklan meniupkan slogan-slogan dan visual yang membius.

Bahkan mereka tidak hanya membius nalar, tapi juga menggunakan simbol-simbol tertentu untuk meraih simpati itu.

Sebut saja penggunaan salawat.

Sekilas, itu terlihat sah-sah saja.

Namun, jika kita lebih mencermatinya, itu tak lain dari eksploitasi agama untuk kepentingan politik-yang perilaku pelakunya sering tak sejalan dengan keluhuran agama.

Tapi agama, dalam banyak kesempatan, selalu dipakai sebagai komoditas.

Dalam perspektif komunikasi, penggunaan simbol-simbol yang menyentuh emosi atau sentimen tertentu dilakukan untuk memudahkan misi iklan itu sampai.

Sebab, tujuan utama iklan adalah membuat pesan cepat merasuk dan mempengaruhi orang lain untuk bersikap terhadap sesuatu.

Masyarakat yang tinggal di pedesaan, terutama yang akses informasinya terhadap capres itu terbatas, tentu akan mudah saja mempercayai apa yang disampaikan dalam iklan.

Sebagian dari mereka tidak melek Internet, jarang buka situs berita daring, yang menyediakan begitu banyak informasi faktual tentang para capres itu.

Kecuali kelas menengah perkotaan dan pemilih muda, sebagian besar dari mereka pasti tidak akan mudah percaya pada narasi gombal para capres itu.

*****

Kolom/artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment