Caleg Beken Gagal ke Senayan

by

Garut News ( Jum’at, 02/05 – 2014 ).

Ilustrasi. Indah Nikmati Perjalanan Meski Bukan Ke Senayan. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Indah dan Nyaman Nikmati Perjalanan Meski Bukan Ke Senayan. (Foto : John Doddy Hidayat).

Jangan lagi mencari Marzuki Alie di Senayan.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat yang juga Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ini diprediksi gagal terpilih kembali menjadi anggota legislatif.

Nasib serupa juga mendera dua menteri dari partai yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu.

Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Roy Suryo serta Menteri Hukum Amir Syamsuddin tak punya cukup suara untuk duduk sebagai legislator.

Deretan nama petinggi partai politik yang sudah terkenal tapi gagal mendapatkan kursi DPR ternyata lumayan banyak.

Dari Partai Demokrat, di antaranya ada Sutan Bhatoegana, Max Sopacua, dan Ramadhan Pohan (Wakil Sekjen).

Dari Partai Golkar, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso, yang berlaga di daerah pemilihan Surabaya dan Sidoarjo, masuk kotak.

Sekjen Partai Amanat Nasional Taufik Kurniawan; dan Suhardi, Ketua Partai Gerindra, juga wasalam.

Banyak faktor penyebab gagalnya sejumlah elite partai.

Nama mereka yang begitu terkenal-kerap tampil di televisi dan dikutip media massa-bukan jaminan bagi mereka untuk dipilih.

Para analis menduga ada tiga faktor penting yang mengganjal nama-nama tenar ini: persaingan antar-caleg, terutama sesama partai, yang kian ketat; politik uang yang masih menggila; keengganan caleg turun di daerah pemilihan; dan kejenuhan masyarakat pemilih terhadap muka-muka lama-apalagi yang namanya kerap disebut-sebut dalam perkara korupsi.

Kompetisi caleg dari partai yang sama makin ketat ketika kemenangan ditentukan berdasarkan suara terbanyak-bukan lagi nomor urut.

Ambil contoh Priyo Budi Santoso, yang berkompetisi di daerah pemilihan Jatim I.

Golkar ternyata cuma mendapat satu kursi.

Priyo kalah bersaing dengan Adies Kadir, Ketua Golkar Surabaya, yang rajin “menyapa” konstituennya.

Namun boleh jadi Priyo dihukum masyarakat pemilih lantaran pernah disorot dalam kasus korupsi pengadaan salinan Al-Quran.

Roy Suryo, meski juara di baliho yang semarak di Yogyakarta, kalah suara dibanding koleganya separtai, Ambar Tjahjono.

Masyarakat jenuh dengan muka-muka lama, apalagi sebagian dari mereka terindikasi terlibat kasus korupsi.

Kebetulan sebagian nama beken itu masuk kategori “caleg hitam” yang pernah disebutkan Indonesia Corruption Watch tahun lalu.

Berhubung yang merilis ICW, pasti hubungannya tak jauh-jauh dari perkara korupsi.

Komitmen mereka terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia pun sangat diragukan.

Mereka mungkin dihukum oleh konstituennya sehingga tak boleh lagi melenggang ke Senayan.

Sorotan media massa ihwal sikap mereka yang kurang mendukung upaya pemberantasan korupsi malah menjadi bumerang.

Sebagai Ketua DPR, Marzuki Alie pernah menyalahkan warga pesisir Mentawai yang dihantam tsunami.

Dia juga pernah melontarkan pernyataan kontroversial perihal pembubaran Komisi Pemberantasan Korupsi.

Tumbangnya nama-nama terkenal itu kudu dijadikan pelajaran penting bagi partai politik, terutama dalam memasang caleg.

Nama beken tak selalu memikat suara pemilih.

******

Opini/Tempo.co