Buruh Batik

0
20 views

Heri Priyatmoko,
Anggota Tim Pusaka Kota Surakarta

Garut News ( Kamis, 09/10 – 2014 ).

Ilustrasi. Membatik. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Membatik. (Foto : John Doddy Hidayat).

“Carilah suami tukang ngecap batik, karena lebih banyak duitnya ketimbang pegawai negeri yang bergaji terlalu sedikit.”

Begitulah nasihat orang tua terhadap putrinya pada periode pasca-kemerdekaan hingga 1970-an. Secuil fakta historis, buruh batik pada suatu masa pernah menjadi idaman kaum perempuan lantaran penghasilannya terbilang besar.

Bahkan, jenis pekerjaan ini juga diimpikan para lelaki yang tak bisa bersekolah tinggi.

Saban kali kita merayakan Hari Batik Nasional, yang jatuh pada 2 Oktober, keberadaan buruh batik nyaris terlupakan.

Mereka hidup dalam kesenyapan di tengah kemeriahan perayaan yang bermisi melestarikan warisan budaya Nusantara itu.

Dalam perusahaan industri batik rumahan, pekerjaan buruh batik terbagi menjadi beberapa jenis, sebut saja tukang cap, kuli babar, kuli celep, kuli beret, kuli kerok, pengubeng (pembatik), dan kuli kemplong.

Potret kedekatan buruh dengan juragan diibaratkan seperti daging dan kulit, sulit diceraikan. Hubungan sosial mereka layaknya abdi dalem dengan raja di lingkungan keraton.

Sejarah dunia perbatikan di Surakarta, misalnya, melukiskan ikatan batin antara buruh dan sang majikan dalam sebaris idiom lokal: pejah gesang nderek mbok mase. Terjemahan bebasnya, mengabdi secara total kepada juragan batik.

Memang, tak jarang kelompok buruh menjelma bak prajurit istana sewaktu pecah konflik yang melibatkan juragan mereka dengan perusahaan batik di lain tempat.

Para tukang siap angkat pentungan dan berani ikut tawuran demi membela kehormatan serta usaha milik majikan mereka.

Rasa persaingan yang tinggi antar–perusahaan adalah hal yang lumrah dalam lingkaran bisnis batik. Sejarawan sepuh Soedarmono, melalui tesisnya bertajuk “Pengusaha Batik di Laweyan Solo Awal Abad 20” memotret kenyataan itu dalam sepucuk kalimat: parit merah lawan parit darah.

Spirit kewirausahaan dan etos kerja bos batik kadang menetes ke dalam tubuh si buruh, yang sudah mengabdi di situ selama belasan hingga puluhan tahun.

Saking intimnya, kepercayaan penuh yang diberikan majikan kepada buruh acap tidak terbatas. Sampai-sampai modal untuk mendirikan perusahaan kecil diberikan oleh sang majikan dengan pengembalian secara cicilan.

Inilah realitas apik yang perlu dikabarkan ke sidang pembaca bahwa merebaknya industri batik rumah tangga dan majunya pasar sandang di Jawa bermula dari sambung rasa dan ikatan persaudaraan buruh-majikan.

Eloknya, buruh tidak dibelenggu. Tuannya tidak takut disaingi. Justru mereka memberi peluang seluas mungkin agar buruh melebarkan sayap dan mempraktekkan ilmu yang diperoleh dari tempatnya bekerja.

Buruh yang punya kemampuan lebih, terutama ngecap, menduduki level teratas. Selain itu, mereka gampang bermobilitas vertikal, yaitu naiknya status sosial dari pekerja perusahaan menjadi pengusaha menengah atau besar.

Demikianlah, buruh adalah katup pengaman perusahaan batik sekaligus kelompok yang memegang peran kunci hidup-matinya batik di Indonesia.

Dalam hal ini, tugas pokok pemerintah Joko Widodo adalah memikirkan regenerasi para buruh batik. Pasalnya, usia mereka kian menua dan generasi sekarang emoh bercita-cita menjadi buruh ngecap layaknya pada 1970-an.

Mungkin ini bisa menjadi agenda kerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mendatang.

******

Kolom/Tempo.co

SHARE
Previous articlePresiden Pencitraan
Next articleKisruh Sea World