Bupati Mundur Jika Tak Mampu Tanggulangi Kelangkaan Gas

Garut News ( Selasa, 16/09 – 2014 ).

Jadi Barang Langka. (Foto : John Doddy Hidayat).
Jadi Barang Langka. (Foto : John Doddy Hidayat).

Lantaran sangat kecewa pada kelangkaan gas Elpiji tiga kilogram, maka sejumlah penduduk berunjuk rasa di depan kantor Bupati Garut, Jawa Barat, Senin (15/09-2014).

Mereka mendesak Pemkab serius dan segera mengambil langkah nyata penanggulangannya.

Bahkan, seruan mundur terhadap Bupati Garut Rudy Gunawan pun, sempat menyeruak gegap gempita, jika terbukti tak mampu mengatasi persoalan gas Elpiji bersubsidi sangat dibutuhkan masyarakat menengah ke bawah tersebut.

Mereka juga meminta dilakukan penindakan tegas terhadap para pengusaha terindikasi kuat melakukan penyimpangan terkait pendistribusian, serta penjualan gas tak sesuai “harga eceran tertinggi” (HET).

Menyusul sejak sebulan terakhir sebelum kenaikan harga gas Elpiji 12 kg, masyarakat di daerah pelosok atawa pada kawasan perkotaan semakin kesulitan mendapatkan gas Elpiji tiga kilogram.

Kalaupun bisa diperoleh, harganya melambung berkisar Rp20-25 ribu per tabung, malahan ada mencapai Rp30 ribu per tabung.

“Kami minta Bupati turun langsung agar tahu kondisi sebenarnya. Kami juga menuntut Bupati atau pemerintah menetapkan regulasi jelas terkait pengadaan gas Elpiji bersubsidi,” tegas Ahmad, Koordinator Forum Masyarakat Peduli Pengguna Gas Elpiji 3 Kilogram.

Dia memertanyakan pula kebijakan Pertamina, dan peranan pengusaha gas Elpiji terkait kasus kelangkaan gas di Garut.

Termasuk penetapan kuotanya dinilai masih jauh dari kebutuhan.

Ketua Hiswana Migas Garut. Surahmat katakan, pihaknya sebenarnya berusaha memerketat penyaluran gas Elpiji tiga kilogram itu.

Dikemukakan, sebenarnya Elpiji tiga kilogram untuk Garut terdapat penambahan sekitar empat persen per bulan dibandingkan tahun lalu.

Sehingga Garut mendapatkan kiriman 43.343 tabung per bulan, katanya.

“Kami justru dibingungkan aturan pemerintah tahu-tahu menaikkan Elpiji 12 Kg saat kita konsentrasi ke Elpiji tiga kilogram. Makanya harus ada payung hukum, mana berhak dan tak berhak menerima Elpiji tiga kilogram ini,” katanya pula.

Dia berpendapat, kelangkaan Elpiji pun berkaitan perilaku masyarakat. Kata dia, banyak masyarakat kelas atas tak lagi malu membeli Elpiji tiga kilogram, tandasnya.

“Perumahan mewah sekelas Intan Regency saja ada menggunakan gas Elpiji tiga kilogram,” ungkapnya.

Karena itu, diperlukan payung hukum jelas mengatur siapa berhak bisa mendapatkannya.

******

Noel, Jdh.

Related posts

Leave a Comment