Bupati Garut Ibaratkan Loyalitas PNS Bak Pelacur

by

Garut News ( Jum’at, 02/05 – 2014 ).

Bupati Rudy Gunawan. (Foto : John Doddy Hidayat).
Bupati Rudy Gunawan. (Foto : John Doddy Hidayat).

Banyak kalangan, terutama PNS dan keluarganya, menyesalkan ungkapan Bupati Garut Rudy Gunawan mengibaratkan loyalitas “Pegawai Negeri Sipil” (PNS) atawa birokrat terhadap atasan maupun siapapun pimpinannya seperti loyalitas “pelacur”.

Ucapan tersebut mengemuka dari mulut Rudy Gunawan saat pria berlatar belakang profesi advokat itu, berinteraktif pada sebuah radio penyiaran swasta, di Garut, Kamis (01/05-2014).

Rudy pun sempat beberapa kali minta maaf atas ucapannya itu, setelah di antara pemirsa mengingatkannya.

Namun ucapan tersebut masih menjadi perbancangan hangat.

Lantaran, ucapan tersebut dinilai tak pantas meluncur dari mulut seorang pejabat negara, padahal semestinya menjadi panutan dan tauladan, baik pada tutur kata atawa sikap.

Apalagi pada pelbagai kesempatan, Rudy kerap mengingatkan para pejabat “Satuan Kerja Perangkat Daerah” (SKPD) maupun staf di lingkungan Pemkab Garut agar senantiasa menjaga kewibawaan Bupati sebagai simbol mewujudkan Kabupaten Garut bermartabat, katanya.

“Terlepas dari ada tidaknya pembenaran loyalitas PNS terhadap atasannya itu ibarat pelacur, tetapi ucapan Bupati konon berpendidikan tinggi ini sangat tak pantas. Tak setiap PNS ‘melacurkan diri’ pada atasannya. Jauh lebih banyak lagi PNS hanya mau patuh pada pimpinan amanah, dan bukan koruptor!” protes Hidayat, seorang PNS di Kabupaten Garut.

Dia berharap Rudy tidak lagi asal berbicara.

Menurutnya, penilaian Rudy tentang loyalitas PNS diibaratkan pelacur itu bisa menjadi preseden sangat buruk.

“Jika PNS itu pelacur, lalu Bupati, Wakil Bupati, atau Sekda-nya sebagai apa?” ucapnya.

Senada dikemukakan Adah (67), pensiunan PNS penduduk Kelurahan Pataruman, Tarogong Kidul.

Dia berpendapat, ucapan Rudy tersebut cenderung merendahkan kedudukan PNS, khususnya di lingkungan Pemkab setempat merupakan bawahannya sendiri.

Padahal ucapan seorang Bupati bukan saja mengandung konsekuensi pribadi, melainkan melekat sebagai public figure sekaligus pejabat negara, berdampak besar terhadap masyarakatnya.

“Kalau seorang pemimpin tak bisa menjaga lidahnya. Kemudian apa mesti diteladani dan dipatuhi? Program Garut Nyantri, Nyakola, dan Rebo Nyunda pun takkan ada gunanya kalau begitu. Nyunda itu kan bukan dilihat dari cara berpakaian seperti jawara dan beriket kepala. Tetapi lebih pada bagaimana berperilaku nyunda dengan tutur sapanya santun, ramah, halus perasaan, pandai menghargai orang lain, dan selalu berpikiran positif,” ungkap Adah.

Kendati begitu, Adah berharap ungkapan diucapkan Rudy itu tak bermaksud menghina atawa merendahkan martabat PNS, melainkan sekadar mengingatkan supaya tak terjadi seperti demikian.

******

Noel.