Bupati Diingatkan Segera Fokus Wujudkan Gebrakan Perubahan

Garut News ( Rabu, 19/02 – 2014 ).

Ketika Berkampanye. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ketika Berkampanye. (Foto: John Doddy Hidayat).
Kampanye tematik di Kabupaten Garut direspon beragam masyarakat.

Sebagian menyambut baik, juga terdapat sebagian justru memertanyakannya.

Ketua DPD Laskar Indonesia kabupaten setempat, Dudi Supriadi, berpendapat setiap hari bertema itu, dinilai upaya pencitraan Rudy-Helmi, kini terbebani capaian kinerja seratus hari pertama masa kerjanya.

Karena itu, diingatkan agar Rudy tak terjebak kegiatan-kegiatan tak substantif atawa hanya meninabobokan masyarakat.

Melainkan hendaknya segera mulai fokus pada upaya mewujudkan gebrakan perubahan seperti dijanjikannya pada kampanye.

Kata Dudi, persoalan disiplin tugas dan kewajiban melekat pada setiap seluruh aparat birokrasi, mulai pimpinan SKPD hingga staf di bawahnya.

Begitu pula soal kampanye program kebersihan juga prioritas melekat pada Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan sebagai leading sektor.

Sehingga tak bisa program tersebut dijadikan prioritas bagi SKPD lainnya.

SKPD lain hanya mendukung bagaimana program itu terlaksana baik.

Sarana Tempat Merokok di Lingkungan Disdik Garut, Juga Tak Jelas Pemanfaatannya. (Foto: John Doddy Hidayat).
Sarana Tempat Merokok di Lingkungan Disdik Garut, Juga Tak Jelas Pemanfaatannya. (Foto: John Doddy Hidayat).
Sama halnya program Bebas Rokok.

Itu melekat pada Dinas Kesehatan kudu didukung SKPD terkait lain agar pelaksanaannya berjalan baik.

Program menanaman pohon melekat pula pada Dinas Kehutanan, dan program wisata pada Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan.

“Yang paling lucu, program berbagi pada setiap Kamis. Maksudnya apa, dan arahnya ke mana ? Enggak jelas. Pemkab itu kan bukan perusahaan atawa lembaga sosial bisa begitu saja berbagi-bagi sesuatu, terutama menyangkut anggaran. Pada pengelolaan keuangan pemerintah itu tak ada istilah berbagi melainkan penerima manfaat. Tetapi itu pun semuanya diatur berdasar Undang Undang dan peraturan lain berlaku. Lalu Pemkab mau berbagai apanya ?” kata Dudi.

Karena itu, imbuh Dudi, sebaiknya Rudy menyetop kebijakan atawa kegiatan sekadar “lips service” maupun pencitraan.

Rudy justru kudu mulai fokus pada hal-hal lebih visioner, sesuai jargon perubahan selama ini diusungnya.

“Yang dikampanyekan setiap hari bertema itu kan bukan hal anyar, bukan terobosan. Terobosan itu mesti bisa mengubah satu keadaan pada keadaan lain. Misalnya bagaimana membereskan penginventarisiran dan pengelolaan aset, dan barang milik daerah selama ini menjadi kendala mencapai Garut mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian pada pengelolaan keuangan daerah. Bagaimana Garut lepas dari ketertinggalan. Bagaimana rakyat tadinya miskin menjadi tak miskin,” katanya.

Garut kini memiliki Tema Kampanye setiap harinya, mulai soal kedisiplinan hingga menyemarakkan berwisata ke obyek wisata lokal.

Wacana Kampanye Harian tersebut, disampaikan Rudy Gunawan saat memimpin Apel Pagi pada pekan kedua pasca dilantik menjadi Bupati Garut, bersama pasangannya Helmi Budiman sebagai Wakil Bupati belum lama ini.

Rudy menyarankan dalam seratus hari pertama pemerintahannya, masyarakat Garut, khususnya para pegawai Pemkab, senantiasa menjadikan hari Senin hari penerapan sikap Disiplin, Selasa Hari Bebas Asap Rokok, Rabu berbudaya Sunda atawa Nyunda, Kamis Berbagi, Jum’at Kebersihan, Sabtu Menanam Pohon, dan Ahad Hari Berwisata pada Obyek Wisata Lokal Garut.

Tetapi pelaksanaan Kampanye Tema Harian ini, tampak belum berjalan efektif.

Termasuk pada kalangan para pegawai Pemkab sendiri.

Pada Selasa (18/02-2014), masih banyak pegawai Pemkab merokok di lingkungan kantornya.

Padahal Selasa dikampanyekan Hari Bebas Asap Rokok.

Sebagian lainnya terlihat merokok di ruangan bebas merokok memang sebelumnya terdapat pada beberapa tempat.

Begitu pun, Rabu (19/02-2014) dikampanyekan Hari Nyunda, tak terdapat pemandangan mencolok terkait hari Nyunda tersebut.

Hanya beberapa pegawai, kebanyakan pejabat eselon dua dan tiga, sejumlah SKPD terlihat mengenakan pakaian adat Sunda, seperti berbaju pangsi, dan mengenakan ikat kepala.

Sedangkan lainnya masih memakai seragam PNS sebagaimana biasa.

Pada kegiatan apel pagi pun, bahasa digunakan masih berbahasa Indonesia.

Umumnya para pegawai menyatakan belum bisa menerapkan Tema Kampanye Harian dicanangkan Bupati, lantaran belum terdapat kejelasan mengenai aturan, serta petunjuk pelaksanaan maupun Juknisnya.

“Itu kan baru wacana. Saya sendiri belum menginstruksikan pada pegawai lain sebab edarannya belum ada, seperti apa teknisnya,” kata Pelaksana Teknis Sekretaris DPRD Kabupaten Garut, Dedy Mulyadi.

Namun, Dedy sendiri pada Rabu ini berpakaian khas adat Sunda, lengkap beragam aksesoriesnya, terumpah, baju, dan celana hingga ikat kepala.

******

Zainul, JDH.

Related posts

Leave a Comment