Bukan “Hoax”, Kursi Roda Ini Benar-benar Bisa Digerakkan Pikiran!

0
14 views

Garut News ( Jum’at, 29/01 – 2016 ).

Kompas.com menjajal kursi roda teknologi electroencephalography (EEG) yang dikembangkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Rabu (27/1/2016. (Kompas.com).
Kompas.com menjajal kursi roda teknologi electroencephalography (EEG) yang dikembangkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Rabu (27/1/2016. (Kompas.com).

— Mungkin banyak yang mengatakan bahwa lengan robot Wayan Sutawan dari Bali hoax. Namun, jangan sampai Anda meragukan kebenaran kursi roda buatan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini.

Kursi roda yang belum diberi nama itu benar-benar bisa digerakkan hanya dengan pikiran. Kompas.com telah mencobanya pada Rabu (27/1/2016).

Bagaimana bisa, kursi roda itu digerakkan pikiran?

Jadi, ada beberapa komponen penting pada kursi roda. Pertama adalah elektroda penangkap sinyal dari otak yang terpasang pada kupluk atau penutup kepala. Total ada 32 elektroda.

Di bagian belakang kursi roda terdapat perangkat untuk memperkuat sinyal. Sinyal otak punya tegangan kurang dari 60 mikrovolt sehingga harus diperkuat agar cukup untuk menggerakkan sebuah benda.

Penguat Sinyal Kursi Roda EEG. (Yunanto Wiji Utomo).
Penguat Sinyal Kursi Roda EEG. (Yunanto Wiji Utomo).

Data sinyal yang telah diperkuat masuk ke komputer. Sebuah aplikasi khusus yang dikembangkan oleh LIPI kemudian digunakan untuk mengekstrak dan mengidentifikasi sinyal.

“Tujuan ekstraksi sinyal untuk mengetahui ciri sinyal yang dibutuhkan, berapa frekuensinya, berapa amplitudonya,” kata Muhammad Agung, peneliti Balai Pengembangan Instrumentasi yang terlibat pembuatan kursi roda berteknologi EEG ini.

Sinyal yang terpilih kemudian dikirim ke bagian pengontrol. Pengontrol inilah yang kemudian memerintahkan kursi roda untuk bergerak.

Seperti apa rasanya menggerakkan sesuatu dengan pikiran?

Susah ternyata. Kompas.com harus membayangkan bergerak ke kanan dan kiri. Namun, walaupun hal itu sudah dibayangkan, kursi roda kadang tak bergerak dengan tepat.

Untuk membantu saat ingin bergerak, sebuah gambar ditayangkan pada laptop. Gambar itu sederhana, hanya ada kotak di bagian kanan, kiri, atas, dan bawah.

“Ada teknologi yang benar-benar hanya menggunakan pikiran. Namun, itu susah. Jadi, kita gunakan bantuan visual untuk menggerakkan dengan tepat. Ini hanya sebagai pancingan,” kata Agung.

Nah, untuk bergerak maju, Kompas.com menatap kotak bagian atas. Setelah fokus menatap, akhirnya kursi roda benar-benar bisa bergerak maju.

Kursi roda tak punya mode berhenti. Jadi, jika ingin berhenti, Kompas.com harus menatap kotak bagian bawah sesaat. Kadang, kursi roda tak begitu saja berhenti.

Sensor Kursi Roda EEG LIPI. (Yunanto Wiji Utomo).
Sensor Kursi Roda EEG LIPI. (Yunanto Wiji Utomo).

Ada satu momen ketika Kompas.com hampir saja menabrak meja. Untungnya, bagian depan kursi roda dilengkapi dengan sensor sehingga perangkat bisa otomatis berhenti pada jarak 30 sentimeter sebelum menabrak.

Walaupun kita sudah fokus menatap kotak bagian tertentu pada layar, gerakan kursi roda kadang tak selalu tepat. Misalnya, ketika kita menatap kotak bagian kanan agar bisa berbelok ke arah tersebut, kursi roda tetap saja bergerak lurus.

Di situlah sebenarnya yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi para pengembang alat berteknologi EEG.

“Belum ada alat yang benar-benar akurat,” ungkap peneliti Balai Pengembangan Instrumentasi yang memimpin proyek kursi roda EEG, Arjon Turnip.

Menurut Arjon, belum ada satu pun perangkat EEG di dunia yang akurasinya mencapai 100 persen. Tak ada pula yang hanya menggunakan pikiran. Pasti ada bantuan penglihatan untuk memancing sinyal otak.

Agung menuturkan, kunci untuk mengupayakan akurasi pada perangkat EEG adalah perangkat lunaknya. “Harus bisa mengekstrak sinyal dengan baik,” katanya.

Sinyal otak tak seperti sinyal jantung yang rata-rata detaknya sudah diketahui. Sinyal otak cenderung random sehingga harus diekstrak dan diidentifikasi.

Identifikasi salah satunya berdasarkan frekuensi. Misalnya, untuk gerakan maju, frekuensinya 9 hertz. Maka dari itu, perangkat lunak harus bisa mengidentifikasi sinyal pada frekuensi itu.

Identifikasi itu punya tantangan sebab banyak noise dalam sinyal otak. Jika selama fokus bergerak lantas pengguna, misalnya, sekadar berkedip, frekuensinya sudah akan berbeda sehingga menyulitkan gerakan.

Arjon menyebutkan, “Kursi roda EEG ini adalah yang paling canggih di Indonesia.”

Kini, pengembangannya masuk tahun keempat. Program pada tahun ini adalah menguji coba fungsi kursi roda secara terbatas sambil terus menyempurnakannya.

“Kami sudah bekerja sama dengan Rumah Sakit Hasan Sadikin dan ITB (Institut Teknologi Bandung) untuk tahap uji coba ini,” Kata Arjon.

Kemungkinan, produk ini bisa selesai dikembangkan dalam 2-3 tahun ke depan.

Menurut Arjon, perlu sinergi dalam pengembangan teknologi seperti kursi roda EEG. Bukan hanya lembaga penelitian dan universitas yang perlu terlibat. Industri juga.

********
Penulis : Yunanto Wiji Utomo
Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com