You are here
Bukan Corong Partai OPINI 

Bukan Corong Partai

Garut News, ( Jum’at, 20/09 ).

Ilustrasi. (Ist).
Ilustrasi. (Ist).

Tindakan Direktur Utama TVRI Farhat Syukri memaksa redaksi menyiarkan dua jam konvensi calon presiden Partai Demokrat merupakan kemunduran.

Hal itu kembali menjadikan TVRI sebagai corong partai tertentu.

Kebiasaan buruk masa lalu tersebut tak pantas dihidupkan lagi.

Dalih Farhat Syukri menyiarkan acara partai milik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu amat dangkal.

Siaran berlangsung 15 September lalu itu untuk pendidikan politik?

Mengapa hanya acara partai tertentu  disiarkan?

Acara partai politik lain, misalnya Rapat Kerja Nasional PDI Perjuangan awal September lalu mulai mengelus-elus calon presiden Partai Banteng, juga tak kalah menarik, namun tak ditayangkan utuh.

Sejak menyandang status televisi publik, kewajiban utama TVRI melayani kepentingan publik, bukan melayani penguasa atawa partai tertentu.

Itulah amanat Undang-Undang Nomor 32/2002 tentang Penyiaran.

Pada pasal 14 undang-undang itu jelas disebutkan, lembaga penyiaran publik  bersikudufat independen, netral, tak komersial, dan memberikan layanan kepentingan masyarakat.

Itulah sebabnya, KPI pun melayangkan teguran keras dan memanggil direksi TVRI.

Sebagai stasiun televisi publik, TVRI tak boleh sembarangan menayangkan program.

Mereka juga dilarang meniru perilaku stasiun televisi swasta, mendewakan sisi komersial dan menyiarkan siapa saja mau membayar.

Semua kudu dipertanggungjawabkan pada khalayak.

Soalnya, sebagai stasiun televisi pelat merah, sebagian besar biaya operasionalnya dibiayai duit APBN.

TVRI semestinya meniru stasiun televisi publik seperti PBS di Amerika Serikat atau BBC di Inggris.

Setiap sen uang dikeluarkan siaran benar-benar demi kepentingan publik.

Saat berlangsung pemilihan Presiden Amerika Serikat, PBS adalah stasiun televisi paling netral.

Mereka memberi kesempatan sama pada semua kandidat presiden.

Jika benar direksi TVRI ingin memberikan pendidikan politik bagi masyarakat, seharusnya mereka memberikan porsi sama pada semua partai.

Bahkan hal itu semestinya diberikan gratis, agar partai gurem pun bisa mendapat jatah blocking time sama, dan menjual gagasan mereka.

Agar masyarakat tak salah pilih, TVRI juga kudu membuat tayangan mengkritik program partai atawa rekam jejak politikusnya.

Terjadi sekarang, TVRI seolah seperti mengistimewakan partai tertentu.

Maret 2013, stasiun ini menayangkan acara sangat tak bermutu, ulang tahun ke-45 Fraksi Partai Golkar di Balai Kartini, Jakarta.

September ini, mereka memberikan jam tayang pada Partai Demokrat.

Jangan salahkan publik apabila mereka menuding direksi TVRI terkesan sedang menjilat partai penguasa, atawa mencari uang lewat iklan politik terselubung.

TVRI semestinya berada di barisan depan pemberi informasi paling netral.

Mereka tak cuma kudu bebas pengaruh politik, tetapi juga kepentingan kelompok tertentu.

Mereka kudu menghapus total budaya lama, menjadi pengeras suara penguasa.

Keberanian awak redaksi TVRI menentang direksi berkukuh menayangkan konvensi Partai Demokrat, walau gagal, tetap harus diapresiasi.

Begitulah seharusnya stasiun TV publik bekerja.

***** Opini/ Tempo.co

Related posts

Leave a Comment