Budaya Sunda Tergerus Lunturnya Jati Diri Bangsa

0
60 views
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Garut News ( Jum’at, 08/12 – 2017 ).

Oleh : Muhamad Hasanudin.

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Republik Indonesia secara resmi dan diakui oleh dunia, merdeka pada 1945. 72 tahun negara ini merdeka. Pada perjalanannya pascakemerdekaan, Indonesia terus “terseok-seok” mencari jatidiri negeri.

Salah satunya dengan cara mengadopsi ragam perkembangan peradaban dunia. Sebagai fenomena biasa dan lumrah terjadi. Bagi negara baru merdeka sangat diperlukan sebagai usaha mencapai tujuan kedaulatan, dan perdamaian dunia, sehingga pada beberapa tahun silam banyak konsolodasi politik negara sangat gencar dilakukan pemerintah.

Modivikasi Angklung. (Foto : John Doddy Hidayat).

Langkah diambil pemerintah kala itu, tentu mampu merubah konstelasi politik dalam negeri. Pelbagai budaya dan pergaulan dunia mulai masuk tanpa melalui proses filtrasi terlebih dahulu.

Budaya barat sangat pesat perkembangannya di negeri ini, dan banyak kaum muda hari ini meyakini budaya barat sebagai “kiblat” peradaban dunia masa kini. Meski pada dasarnya hal itu kemunduran sangat luar biasa.

Sekuler, liberal, moderat dan paham-paham lain masuk secara bebas, positif dan negatif dari paham-paham tersebut, bercampur di negeri berbudaya ini.

Masuknya budaya dan pergaulan luar tentunya bisa membawa efek negatif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Lantaran budaya dan pergaulan masuk dengan bebas dan leluasa, membawa berbagai isme-isme sebenarnya bertolak belakang dengan budaya yang ada.

Miniatur Babancong Karya Warga Binaan Rutan Garut. (Foto : John Doddy Hidayat).

Narkoba, sex bebas, dan beragam hal negatif sebelumnya tak pernah ada dalam budaya sunda khususnya, berhasil menenggelamkan eksistensi budaya sunda. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Karena pemuda sebagai pelaku pelestari yang dianugerahi budaya berperadaban tinggi oleh kaum tua tak mampu percaya diri dalam mengemban amanah untuk melestarikan budaya sendiri. Maka kebudayaan sekuler, dan liberal pun menjadi “batu sandungan” yang menjadi-jadi

Karena itu. tidaklah terlalu berlebihan apabila penulis beranggapan hingga kini Indonesia terus di kriminalisasi kemerdekaannya, dan diperkosa secara terus-menerus, sehingga tak ada keberanian melawan, dan menghentikan kebudayaan barat dengan kekuasaan dan kekuatan budaya-budaya dari Sabang sampai Merauke.

Dengan demikian, sedikit demi sedikit kondisi budaya Indonesia mulai tergantikan dan akhirnya tenggelam kedasar sejarah. Mulai dari sosial, budaya, bahasa dan lain-lain.

Budaya sunda menjauh dan terus di jauhi, tak hanya oleh kalangan muda tetapi juga kalangan tua. Kalangan muda terpengaruhi pergaulan liberal atau bahkan sekuler, sedangkan kaum tua kian dipengaruhi kondisi ekonomi kian melilit kehidupannya dan seolah-olah pikirannya  diperbudak harta kekayaan namun terus saja miskin.

Melestarikan budaya sunda tentu tak hanya tugas anak muda. Saatnya bangsa ini sadar  melestarikan budaya kewajiban bagi seluruh warga negara. Tua ataupun muda, laki-laki ataupun perempuan, masyarakat kecil ataupun pemerintah seluruhnya memiliki tanggung jawab sama untuk melestarikan budaya terutama budaya sunda bagi masyarakat Jawa Barat.

Budaya sunda jatidiri bagi warga sunda. Budaya sunda selalu terkenal dengan kehidupannya ramah, sopan, santun, berbudi pekerti luhur ditopang spiritual yang kuat, menunjukan budaya sunda seharusnya mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman yang begitu pesat.

Sebuah kualitas budaya yang tinggi mampu bertahan dan menyelaraskan budaya dengan kondisi zaman. kondisi budaya sunda hari ini seolah-olah terus di kebiri  zaman, Lantaran tak mampu menyesuaikan dengan kondisi zaman. Menjadikan budaya sunda semakin tua dan dijauhi kaum muda atau generasi-generasi penerus,

Kaum tua seperti lupa untuk mewarisi kebudayaan sunda atau hanya sekedar menitipkan budaya sunda dengan memberikan pendidikan kebudayaan sunda secara nyata kepada generasi muda.

Sebuah solusi yang kiranya bisa kita ambil permasalahan diatas adalah perlu adanya “peremajaan” kembali budaya sunda sebagai upaya menyesuaikan dengan perkembangan zaman tetapi tidak mengurangi esensi dari budaya sunda itu sendiri.

Budaya sunda harus kembali ada dan bergairah di dunia pendidikan, harus ada dan bergairah di dunia kemasyarakatan setelah beberapa tahun terakhir budaya sunda dikebiri dan bahkan dihabisi oleh system yang lupa akan jati dirinya sendiri.

Hari ini waktunya untuk kita semua bergotong royong mengembalikan eksistensi budaya sunda pada kehidupan nyata.

Dengan konsep peremajaan budaya sunda ini dipastikan budaya sunda akan tetap lestari. Contoh kecil dalam lingkungan sekolah akan tercipta kondisi pendidikan atau sekolah yang berbudaya, Lingkungan kemasyarakatan yang berbudaya dan aspek-aspek kehidupan lain yang berbudaya.

Jatidiri masyarakat sunda tentunya tak boleh hilang dari kehidupan orang sunda itu sendiri, kegiatan-kegiatan kebudayaan harus kembali di gelar seperti pagelaran wayang golek dengan edukasi-edukasi khusus bagi remaja, jalan cerita dibuat khusus bagi anak-anak, remaja, pemuda dan kalangan tua.

Membuat organisasi remaja atau sanggar-sanggar tari, pencak silat dan lain sebagainya yang tidak lupa untuk berkolaborasi dengan kemoderenan yang membuat remaja, pemuda tertarik untuk ikut serta melestarikan budaya sunda.

Tentu begitu banyak budaya sunda yang bisa diaktualisasikan dengan kemoderenan sehingga budaya sunda tak pernah tua atau bahkan mati tergerus zaman, jangan sampai dimasa yang akan datang kita hanya mampu menceritakan sejarah budaya sunda, “dulu masyarakat Jawa Barat memiliki budaya sangat mendasar yakni budaya sunda”.

Marilah bersama-sama bersatu menjadikan Jawa Barat sebagai provinsi benar-benar berbudaya sunda sebagai jatidiri berbangsa dan bernegara. Jauh dari bahaya-bahaya liberal, sekuler dan lain-lain, yang terus diadopsi dari barat. Dan sudah barang tentu kondisi ini berbenturan dengan budaya sunda. Kelestarian budaya sunda ditentukan oleh masyarakat sunda itu sendiri.

********