BSM SMPN 1 Kersamanah Diduga “Ditilap” Sekolah

by

Garut News ( Senin, 10/03 – 2014 ).

Ilustrasi. Kini Terdapat Mobil Unit Bioskop Keliling di Garut. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Kini Terdapat Mobil Unit Bioskop Keliling di Garut. (Foto : John Doddy Hidayat).

Banyak orangtua murid SMPN 1 Kersamanah di Kabupaten Garut, Jabar, memertanyakan tak utuhnya dana “Bantuan Siswa Miskin” (BSM) diterima para siswa.

Mereka menduga “ditilap” atawa disunat pihak sekolah berdalih biaya pembangunan sarana prasarana sekolah.

Besarnya pemotongan BSM Tahun Anggaran 2013 itu juga bervariatif, tergantung jenjang kelas ditempuh murid bersangkutan.

Setiap siswa kelas satu, misalnya, hanya menerima dana BSM sebesar Rp225.000,-

Padahal dana BSM seharusnya mereka terima sebesar Rp300 ribu per siswa.

Sehingga terdapat pemotongan dari pihak sekolah sebesar Rp75.000 per siswa.

Bahkan siswa kelas dua hanya menerima dana BSM Rp425 ribu per siswa, seharunya Rp575 ribu per siswa.

Terdapat pemotongan sebesar Rp150 ribu per siswa bagi siswa kelas dua penerima manfaat BSM.

Begitu pun setiap siswa kelas tiga. Besaran pemotongan BSM-nya lebih parah lagi, mencapai Rp250 ribu.

Sehingga murid penerima dana BSM pada kelas tiga SMPN 1 Kersamanah tersebut, hanya Rp325 ribu per siswa, seharusnya sebesar Rp575 ribu,-

Diduga, pemotongan ini dilakukan pihak sekolah tanpa setahu Komite Sekolah bersangkutan.

Demikian antara lain dinyatakan Ketua Komite SMPN 1 Kersamanah, Jaja Anshori.

“Kami pun mendapat laporan bahkan pengaduan beberapa orangtua siswa dana BSM anaknya tak diterima utuh dari sekolah. Diduga beralasan pembangunan sekolah. Kita jelas sangat menyesalkan pemotongan terhadap bantuan tunai dana BSM dari Pemerintah melalui Bank Jabar Banten ini,” sesal Jaja, Senin (10/03-2014).

Kata Jaja, jika pihak sekolah sengaja memotong dana BSM, itu pelanggaran. Lantaran, dana BSM diberikan Pemerintah menunjang kebutuhan sekolah siswa-siswa miskin.

Dana BSM bukan untuk membangun sekolah.

Dia juga mengaku heran tindakan pihak sekolah.

Padahal pada pertemuan pihak sekolah dengan Komite, dan para orang tua penerima dana BSM sebelumnya, dana pembangunan takkan diambil dari BSM, katanya.

Dikemukakan, jumlah murid SMPN 1 Kersamanah mencapai seribu.

Para orangtua siswa, selain tak menyetujui pemotongan BSM juga jengkel kerapnya pemotongan dilakukan terhadap beragam bantuan untuk siswa.

“Saya heran, setiap ada bantuan siswa, selalu saja pihak sekolah melakukan pemotongan. Bukan hanya BSM, tetapi dana bantuan lainnya,” keluh orang tuasiswa enggan disebut namanya.

Kepala SMPN 1 Kersamanah, Jaenudin, sendiri sulit dihubungi atawa diminta tanggapan tudingan pemotongan dana BSM di sekolahnya.

*****

Noel, JH.