BNN Ajak Kementerian Kunjungi Balai Besar Rehabilitasi Lido

by

“Tak hanya melibatkan humas kementerian, BNN juga mengajak kalangan jurnalis berperan sebagai partner kerja humas menyebarluaskan informasi pada publik” 

Jakarta, Garut News ( Jum’at, 04/10 ).

Ilustrasi Kepala BNNK Garut, AKBP Widayati, BA Susun Implementasi Strategi P4GN. (Foto: John).
Ilustrasi Kepala BNNK Garut, AKBP Widayati, BA Pimpin Penyusunan Implementasi Strategi P4GN. (Foto: John).

Badan Narkotika Nasional (BNN) menggelar Forum Pertemuan Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas) di Balai Besar Rehabilitasi BNN – Lido, Kamis (03/10).

Forum ini, ajang silaturahmi para pelaku kehumasan berasal dari pelbagai kementerian/lembaga, sekaligus sarana sosialisasi terkait kebijakan/program institusi penyelenggara, dalam hal ini BNN.

Berthemakan “Penyalah Guna Narkotika Butuh Rehabilitasi, Rangkul dan Dekati Mereka”, sehingga BNN mengajak seluruh humas kementerian/lembaga lebih mengenal rangkaian proses rehabilitasi dijalani para penyalahguna Narkoba.

Di tempat ini para peserta juga bisa melihat pelbagai aktivitas, dan program dijalankan para residen (penyalahguna Narkoba menjalani rehabilitasi) pada upaya mereka meninggalkan ketergantungan terhadap Narkoba.

Tak hanya melibatkan humas kementerian, BNN juga mengajak kalangan jurnalis berperan sebagai partner kerja humas menyebarluaskan informasi pada publik.

Karena itu, BNN menghadirkan Dr Suprawoto, S.H., M.Si Staf Ahli Menkominfo Bidang Sosial Ekonomi Budaya, menyampaikan informasi seputar perkembangan peran media massa di Indonesia.

Suprawoto katakan, pada era teknologi tinggi saat ini, perkembangan informasi begitu cepat.

Isu beredar sangat mudah berkembang pada masyarakat.

Disinilah peran humas kementerian sangat dibutuhkan mengendalikan perkembangan berita agar terus berada pada koridor tepat.

Sehingga humas kudu berada pada lingkaran utama sebuah kepemimpinan institusi, agar mengetahui setiap latar belakang kebijakan dikeluarkan.

Sedangkan dr Budyo Prasetyo, SpKJ, Direktur Penguatan Lembaga Rehabilitasi Komponen Masyarakat (PLRKM) BNN, memaparkan gambaran dampak buruk penggunaan Narkoba terhadap tubuh seseorang, baik fisik maupun mental.

Budyo juga menjelaskan tahapan kudu dilakukan pada proses rehabilitasi pecandu Narkoba.

Kepala BNN, Drs Anang Iskandar, S.H., MH mengingatkan, rehabilitasi menjadi satu hal penting menangani permasalahan Narkoba.

Menurutnya, Indonesia tak terlepas dari penyalahgunaan Narkoba jika tak terdapat upaya penekanan jumlah supply dan demand peredaran gelap Narkoba di Indonesia.

Penelitian antara BNN dengan Puslitkes UI tahun 2011 menunjukkan, jumlah penyalahguna Narkoba di Indonesia mencapai 2,2 % atawa setara 3,7 – 4,2 juta jiwa.

Angka cukup tinggi tersebut, menunjukkan permintaan kebutuhan Narkoba pun cukup tinggi.

Strategi dan kebijakan BNN lakukan, mengubah paradigma masyarakat tentang penyalahguna dan pecandu Narkoba melalui dekriminalisasi dan depenalisasi pecandu Narkoba.

Saat ini, jumlah penyalahguna Narkoba menjalani rehabilitasi medis dan sosial hanya 18.000 pecandu setiap tahunnya.

BNN pun hanya mampu menampung 2.000 orang di antaranya.

Jika dibandingkan jumlah pecandu mencapai angka empat juta, upaya rehabilitasi menjadi amat penting dilakukan.

Anang Iskandar berpendapat, dekriminalisasi dan depenalisasi pecandu Narkoba sangat penting.

Secara global, masyarakat beranggapan kecanduan Narkoba pelanggaran hukum serius, dan setimpal jika pelakunya diberi hukuman penjara.

Sedangkan, kenyataannya dibutuhkan pecandu Narkoba bukanlah hukuman pidana, melainkan pertolongan rehabilitasi medis dan sosial.

Hal tersebut, menjadi salah satu dasar terbentuknya Peraturan Pemerintah No. 25/2011 tentang Institusi Penerima Wajib Lapor.

Namun, tak berjalan maksimal jika tak terdapat perubahan paradigma masyarakat terhadap pecandu Narkoba.

Pada rangkaian perhelatan itu, peserta berkesempatan meninjau pelbagai layanan di Balai Besar Rehabilitasi, dan berinteraksi dengan beberapa konselor memberikan penjelasan seputar program, dan aktivitas dijalani para residen.

Pada kegiatan ini, turut ditampilkan beragam produk kerajinan tangan (vokasional) karya residen atawa mantan penyalahguna, tergabung pada Rumah Dampingan.

Rumah Dampingan, sebuah program pasca rehabilitasi memfasilitasi mantan penyalahguna Narkoba agar tetap menjaga kepulihannya, dan produktif.

Kegiatan tersebut, mengusung visi dan misi terkait pentingnya peran rehabilitasi mendukung para pecandu supaya sembuh dari ketergantungan Narkoba.

Melalui kegiatan ini, BNN juga berharap, informasi pentingnya rehabilitasi bagi para pecandu bisa tersampaikan, tentunya melalui peran kehumasan pada masing-masing instansi.

Demikian dikemukakan Kepala Bagian Humas dan Dokumentasi BNN, Kombes Sumirat Dwiyanto dari Jakarta kepada Garut News, Jum’at (04/10).

***** John.