You are here
Bilik Rumah Disulap Jadi Warung Narkoba POLKAM 

Bilik Rumah Disulap Jadi Warung Narkoba

Kediri, Garut News ( Ahad, 15/12 ).

Ilustrasi Rd. Dicky Chandra Pada Gelar Budaya Tanpa Penyalahguna Narkoba Diselenggarakan Jajaran Seksi Pencegahan BNNK Garut. (Foto: John).
Ilustrasi Rd. Dicky Chandra Pada Gelar Budaya Tanpa Penyalahguna Narkoba Diselenggarakan Jajaran Seksi Pencegahan BNNK Garut. (Foto: John).

Siapa sangka bilik-bilik rumah dijadikan tempat transaksi, dan konsumsi narkoba.

Ternyata tak hanya ditemukan di Jakarta, tetapi bilik seperti itu  mudah sekali ditemukan di daerah Madura.  

Segala jenis narkoba dijajakan di tempat-tempat tersebut.

Bahkan ketika sang konsumen tak memiliki uang, mereka cukup membawa kendaraan bisa ditukar suguhan narkoba hingga puas.

Sangat ironis sekali fakta ini terungkap di Madura.

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Timur, Iwan Ibrahim mengungkapkan, sindikat narkoba bermain pada sejumlah titik di Madura sangat licin.

“Sistem pengamanan mereka kuat, sehingga jika diibaratkan dengan istilah ring, sindikat di sana itu bisa dikatakan hingga ring tujuh,” katanya.

Aparat belum bisa berbuat banyak.

Dengan pengamanan seperti itu petugas tak bisa begitu saja masuk ke daerah rawan tersebut, lantaran jika salah perhitungan justru petugas mendapatkan masalah di lapangan.

Banyaknya pasokan narkoba berakhir di tangan konsumen, terkait erat maraknya penyelundupan dari luar negeri melalui beragam pintu masuk.

Pengungkapan sejumlah kasus penyelundupan pada sejumlah bandara ternyata beberapa di antaranya mengarah ke Madura.

Menyikapi ini, Iwan berharap agar peran tokoh masyarakat seperti ulama bisa memberikan pencerahan pada warga, sehingga mereka tak lagi gemar datang ke bilik mengonsumsi narkoba,  agar bisnis tersebut habis ditelan bumi.

 “Depenalisasi”

Tingkat kesadaran penyalah guna narkoba melapor di Jawa Timur, khususnya wilayah Surabaya bisa dinilai bergairah, sebab banyak penyalah guna datang ke Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) untuk direhabilitasi.

Uniknya, tak hanya penyalah guna narkoba ramai mendatangi IPWL, namun orang-orang dengan depresi akibat masalah rumah tangga, hingga gangguan kejiwaan juga meminta pertolongan direhabilitasi.

“Jadi kalo ada anggapan IPWL itu sepi peminatnya di seluruh Indonesia, saya bisa katakan itu kurang tepat, nyatanya di Jawa Timur, kesadaran pecandu melapor itu tinggi,” kata Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Timur, Iwan Ibrahim, saat menghadiri kegiatan Focus Group Discussion, di Kediri, Sabtu (14/12).

Kondisi IPWL di Jawa Timur memang sedikit kontras dengan IPWL di tempat lain.

Sepi peminat atawa kurang bergairahnya IPWL ditentukan banyak faktor.

Dari aspek penyedia layanan IPWL, rupanya banyak belum siap memberikan pelayanan prima, sedangkan dari pihak lain, pecandu narkoba takut melapor lantaran pelbagai alasan.

Seperti dikatakan dr Kusman Suriakusumah, masalah rendahnya kesadaran pecandu narkoba melaporkan dirinya dipengaruhi sejumlah faktor seperti tangkut ditangkap aparat, malu, takut biaya mahal, dan bosan (sebab penyakit adiksi ini bisa kambuh).

Dikatakan, jika kesadaran melapor itu masih rendah, maka upaya depenalisasi ala ‘paksa’ sah-sah saja dilakukan.

Contoh kasus seperti ini banyak.

Beberapa waktu lalu, ada orang tua jengah melihat anaknya mengonsumsi narkoba, kemudian melapor pada BNN untuk menangkap anak tersebut nantinya ditempatkan di panti rehabilitasi.

“Mekanisme seperti itu bisa diambil, sepanjang memang ada orang tua atawa bisa bertanggung jawab dengan cara seperti ini,” imbuh mantan Deputi Rehabilitasi BNN.

Diestimasikan Tiga Pecandu Narkoba Setiap RT di Kediri”

Jumlah penduduk Kediri diperkirakan mencapai 300 ribu dengan prevalensi penyalahguna narkoba dua persen, bisa diestimasikan sekitar enam ribu pecandu membutuhkan bantuan dijangkau, dan direhabilitasi.

Jika terdapat dua ribu RT di Kediri, maka diestimasikan tiga pecandu setiap RT.

Pecandu butuh dijangkau, sebab mereka enggan melaporkan dirinya, selain takut ditangkap, mereka merasa malu, takut mengeluarkan biaya mahal, dan merasa bosan penyakit adiksi ini bisa kambuh kapanpun.

Lantaran komunitas pecandu itu tersembunyi, maka terdapat pelbagai langkah bisa diambil memancing mereka datang ke tempat pelayanan rehabilitasi.

Kusman menyarankan pada pejabat di daerah agar mendirikan posko kesehatan di titik-titik rawan penyalahgunaan narkoba.

“Berikan saja layanan kesehatan umum jangan gembor-gemborkan masalah narkoba, setelah berjalan lama, maka banyak pecandu datang, tadinya konsultasi kesehatan menjadi konsultasi masalah adiksinya”, ujar Kusman pada peserta diskusi fokus mengenai pentingnya dekriminalisasi dan depenalisasi terhadap penyalah guna narkoba, di Kediri, Sabtu (14/12).

Selain cara itu, upaya penjangkauan kudu dimaksimalkan.

“Kudu ada relawan mau dan sanggup menjangkau mereka, dan mengajak mereka berobat,” kata Kusman.

Namun jika masih sulit sekali dijangkau dengan cara seperti itu, maka bisa dilakukan cara ‘penangkapan’ terhadap penyalah guna narkoba atas permintaan keluarga atawa pihak bisa mempertanggungjawabkannya.

“Keluarganya atau kerabatnya bisa melaporkan, dan BNN membantu mengamankan si penyalah guna narkoba nantinya dibawa langsung ke pusat rehabilitasi,” imbuh Kusman.

Menanggapi pentingya pendirian pos kesehatan di daerah, Wali Kota Kediri, dr Samsul Ashar katakan pihaknya menciptakan program kepedulian korban narkoba dengan cara menyediakan pos kesehatan di setiap kelurahan.

Berada di bawah koordinasi pemerintah, dan dibantu komponen masyarakat, pusat kesehatan ini memiliki tim berfungsi melayani para pecandu narkoba, korban HIV/AIDS, dan korban kekerasan anak.

“Penanggulangan narkoba kudu serius, lantaran itulah kami membentuk tim di pos kelurahan ini sebagai langkah menekan angka penyalahgunaan narkoba,” katanya.

Keseriusan pucuk pimpinan Kediri ini bukan hanya lantaran ia paham bahaya penyalahgunaan narkoba, tetapi lantaran berpijak pada rasa simpati, dan empati terhadap para korban penyalahguna.

“Seandainya hal ini terjadi pada keluarga kita, tentu kita sedih, sebab saya punya pengalaman merawat korban penyalahguna narkoba masih duduk di bangku SMP, saya khawatir masa depannya menjadi terpuruk sebab stigma terus melekat, sehingga kita kudu empati, pada mereka,” katanya pula.

“Pil Koplo Marak, Masyarakat Was-Was”

Penyalahgunaan dan peredaran pil koplo jenis dobel L kembali merebak marak di Jawa Timur, menjadi kekhawatiran masyarakat.

Sempat sepi diperbincangkan, namun 2011 obat penenang ini kembali menjadi pembicaraan sebab beredar luas illegal pada beberapa titik di Jawa Timur.

Mengomentari hal ini, dr Nova Riyanti Yusuf, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, mengaku prihatin maraknya obat ini.

“Kemain saya membaca ada pengangguran bawa 10 ribu butir pil koplo, pertanyaannya untuk apa pil sebanyak ini, sebab itulah ini kudu diantisipasi dan diselidiki lebih lanjut,” kata Nova saat menjadi pembicara kegiatan diskusi terarah dekriminalisasi dan depenalisasi penyalah guna narkoba di Kediri,Sabtu (14/12).

Bahkan ia mengingatkan pada para orang tua agar jangan bangga dulu ketika melihat anak-anaknya terlihat wirid penuh penghayatan hingga geleng-geleng kepala, sebab bisa jadi akibat pengaruh pil tersebut.

Sosialisasi pada masyarakat mengenai bahaya penyalahgunaan pil koplo ini kudu dilakukan gencar.

Fenomena penyalahgunaan pil ini sangat memprihatinkan.

Bahkan pil ini menyerang lingkungan pesantren.

Walikota Kediri, dr Samsul Ashar menghimbau agar warga semakin waspada lantaran penyalahgunaan, dan peredarannya masuk  ke semua lini, termasuk santri.

“Pil ini bahkan bisa disembunyikan di lipatan baju koko, peci dan jilbab,” kata Walikota yang paham permasalahan narkoba sejak lama.

Mengomentari maraknya pil ini, Tommy Sagiman, anggota Kelompok Akhli BNN,  katakan ini bisa disebabkan sisa stok produksi cukup banyak sehingga diselewengkan pabrik produsen obat tersebut, dijual pada sindikat.

Kepada aparat kepolisian, ia menyarankan agar melakukan penyelidikan lebih mendalam, agar jaringan peredaran obat ini bisa segera diputus.

“Selidiki batch pada pil tersebut sehingga bisa diketahui sumbernya dari mana,” beber Tommy.

Demikian dikemukakan Kepala Bagian Humas dan Dokumentasi BNN, Kombes Sumirat Dwiyanto dari Jakarta kepada Garutr News.

**** John.

Related posts

Leave a Comment