Biji Makanan Pokok Afrika sub-sahara Ditebar di Garut

0
131 views

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Jum’at, 24/03 – 2016 ).

Camat Garut Kota U. Basuki Eko Mendampingi Bambang Sarjito Pada Penanaman Perdana Sorgum di Kampung Cimerang Kelurahan Sukanegla.
Camat Garut Kota U. Basuki Eko Mendampingi Bambang Sarjito Pada Penanaman Perdana Sorgum di Kampung Cimerang Kelurahan Sukanegla.

Biji makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-sahara, berupa sorgum (Sorghum bicolor L.) ditebar pada lahan marginal seluas sepuluh hektare di Kampung Cimerang Kelurahan Sukanegla Kecamatan Garut Kota, Jawa Barat.

Vegetasi serbaguna bisa digunakan sumber pangan, pakan ternak, dan bahan baku industri tersebut, selain bisa dijadikan diversifikasi pangan juga diharapkan menjadi pengganti gandum. Menyusul impor gandum setiap tahunnya mencapai 10 juta metrik ton bernilai Rp40 triliun.

Demikian antara lain dikemukakan Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional “Asosiasi Petani Sorgum Seluruh Indonbesia” (APSSI), Bambang Sarjito saat penanaman perdana komoditi itu, Jum’at (24/03-2016), pada areal dikelola 42 “gabungan kelompok tani” (Gapoktan).

Didesak pertanyaan Garut News di Kampung Cimerang, Sarjito katakan di Seluruh Indonesia kalangan petani penanam sorgum mencapai sekitar 50 ribu hektare berbiaya produksi setiap hektarenya Rp1,6 juta, masing-masing untuk pembelian benih Rp300 ribu, serta pupuk organik cair Rp1,3 juta.

Marzuki.
Marzuki.

Mudah ditanam, bahkan sekali tanam bisa dipanen tiga kali setiap tahun, kemudian sekali panen menghasilkan Rp10 juta per hektare, katanya.

Kepala Bidang Perencanaan APSSI Marzuki mengemukakan pula, peluang pangsa pasar lokal memerlukan 1.500 ton buah sorgum per hari.

Sedangkan potensi ekspornya sekitar 500 ribu ton setiap bulan, dengan negara tujuan India, Belgia, Korea, dan Jepang, yang diharapkan bisa segera terpenuhi dari produktivitas para petani yang dipasarkan melalui Koperasi APSSI, katanya pula.

Telisik Tim Liputan Garut News, kini terdapat persoalan pokok antara lain berupa kebijakan tata niaga komoditi jagung, yang mengesankan tak jelas.

Sekjen APSSI Kabupaten Garut, M. Suherman Tunjukan Lokasi Tanam Pengembangan Komoditi Sorgum.
Sekjen APSSI Kabupaten Garut, M. Suherman Tunjukan Lokasi Tanam Pengembangan Komoditi Sorgum.

Mata dagangan ini diimpor pemerintah dengan nilai sekitar Rp3.000 per kilogram, sedangkan produk jagung lokal di antaranya dari “Nusa Tenggara Barat” justru dihargai sekitar Rp2.000 per kilogram, aneh.

Bisakah produktivitas sorgum dapat sepenuhnya memenuhi kebutuhan pakan ternak dengan harga memadai? Jawabnya terpulang pada mekanisme pasar maupun penerapan tata niaganya di kemudian hari.

Juga diperoleh informasi, Koperasi APSSI menerima produk petani sorgum dengan harga Rp2 ribu per kilogram untuk buah, serta Rp200 per kilogram untuk daunnya.

Penanaman Perdana Sorgum.
Penanaman Perdana Sorgum.

Dalam pada itu, sumber-sumber lainnya mengungkapkan sebagai bahan pangan kelima, sorgum berada pada urutan kelima setelah gandum, jagung, padi, dan jelai.

Sehingga akhir 2012, pada sejumlah kesempatan Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan sorgum bisa mengurangi impor gandum mencapati jutaan ton.

Dia bersama jajarannya berniat mengembangkan sorgum secara nasional pada 2013. Dengan target areal tanam awal 15.000 hektare, sorgum bakal dibudidayakan di sejumlah daerah, termasuk Sumba, serta NTT.

Ironis, hingga pertengahan 2013, sorgum “Dahlan” seharusnya memasuki panen pertama. Malahan justru menjadi nyaris tak terdengar lagi gaungnya.

*********