Bidang PAUD/Dikmas Garut Agendakan FGD Dengan BPS

0
38 views
Solih, SAg,MM.
Ust. Ahab Syihabuddin, SHI.

“Wujudkan Data Base Peningkatan RLS”

Garut News ( Selasa, 10/09 – 2019 ).

Kepala Bidang ‘Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat’ (PAUD/Dikmas) pada Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Solih, SAg,MM katakan pihaknya mengagendakan penyelenggaraan ‘Focus Group Discussion’ (FGD) dengan ‘Badan Pusat Statistik’ (BPS) kabupaten setempat.

Guna diperoleh kesepakatan penerapan metodelogi penentuan kedalaman informasi mengenai ‘Rata-rata Lama Sekolah’ (RLS), sehingga bisa diperoleh validitas data base pada suvei lanjutan secara kuantitatif dalam upaya peningkatan RLS tersebut.

Kemudian pelaksanaan survey juga direncanakan berkolaborasi dengan setiap seluruh 424 Kepala Desa, dan 21 Lurah pada 42 wilayah kecamatan.

Bahkan diselenggarakan oleh aparat desa, serta kelurahan dengan pengawasan Korwil Pendidikan, Penilik juga para pemangku kepentingan lainnya.

Lantaran mereka masing-masing bisa mengalokasikan dana bantuan desa/kelurahan untuk pelaksanaannya, imbuh Solih kepada Garut News di ruang kerjanya, Selasa (10/09-2019).

Menurutnya, jika pada kegiatan survey tersebut setiap desa/kelurahan menyerap biaya Rp50 juta, dipastikan sangat memberatkan apabila dibebankan kepada APBD Garut, sedangkan dana bantuan setiap desa/kelurahan bisa pula pemanfaatannya menunjang peningkatan kualitas SDM.

Dikemukakan, dengan diperolehnya data base dari produk survey setiap desa/kelurahan, selanjutnya dikonsultasikan kepada Bupati bersama Kepala Dinas Pendidikan, guna penentuan formula meningkatkan RLS juga ‘Harapan Lama Sekolah’ (HLS).

Rencana ini pun, mendapatkan tanggapan serta dukungan baik dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut.

Dijelaskan Solih, Bidang PAUD/Dikmas pun selama ini berupaya maksimal, sehingga RLS 2018 bisa 7,50 atau meningkat dibandingkan 2017 silam (7,28). Demikian pula HLS 2018 pada 11,80 atau meningkat dibandingkan 2017 (11,73).

“Keprihatinan DPRD Jabar”

Lantaran sangat prihatin terhadap kondisi RLS penduduk Kabupaten Garut yang hingga kini hanya bisa menamatkan ‘Sekolah Dasar’ (SD), sehingga mewujudkan komitmen upaya maksimal peningkatan SDM kabupaten tersebut pada program prioritas DPRD Jabar.

“Selain peningkatan pada sektor pendidikan, juga bakal diusungnya program peningkatan kualitas derajat kesehatan, serta peningkatan daya beli masyarakat,” ungkap Anggota DPRD Jabar periode 2019-2024, Ust. Ahab Syihabuddin, SHI.

Sebab peningkatan kualitas ketiga komponen ‘Indeks Pembangunan Manusia’ (IPM) itu merupakan kewajiban pemerintah, imbuh Syihabuddin kepada Garut News.

Kendati kini banyak di antara warga Kabupaten Garut berpendidikan formal lulusan diploma hingga bergelar doktor, namun RLS penduduknya hanya bisa menamatkan  ‘Sekolah Dasar’ (SD).

Bahkan berdasar komponen IPM bersumber BPS menunjukan, selama lima tahun terakhir RLS di kabupaten tersebut hanya meningkat 0,82 tahun, dari 6,68 tahun (2010) menjadi 7,50 tahun (2018).

Sedangkan RLS 2018 peningkatannya dibandingkan 2017 silam hanya beringsut 0,22 tahun, dari 7,28 tahun menjadi 7,50 tahun.

Kondisi itu juga diperparah minimnya HLS yang hanya meningkat 0,07 tahun, dari 11,73 pada 2017 menjadi 11,80 di 2018.

Malahan HLS ini selama lima tahun terakhir peningkatannya di bawah dua tahun atau 1,44 tahun, dari 10,36 tahun (2010) menjadi 11,80 tahun pada 2018.

Rendahnya potret perkembangan wajah pendidikan di Kabupaten Garut, juga dialami pada komponen kesehatan maupun ‘Angka Harapan Hidup’ (AHH) yang selama lima tahun terakhir hanya meningkat 0,69 tahun.

Dari AHH 70,34 tahun pada 2010 menjadi AHH 71,03 tahun di 2018, kemudian AHH 2018 (71,03) peningkatannya dibandingkan AHH 2017 (70,84 tahun) hanya beringsut 0,69 tahun.

Disusul Pengeluaran Perkapita Disesuaikan (PPP) meningkat 309 dari 7270 (2017) menjadi 7579 (2018).

Dalam pada itu, capaian IPM Kabupaten Garut 2018 (65,42) meningkat 0,90 dibandingkan IPM 2017 (64,52), dengan peningkatan pertumbuhan IPM nya 0,02 dari 1,36 (2017) menjadi 1,38 (2018).

Capaian IPM Kabupaten Garut 2018 bertengger pada angka 65,42 atau peringkat tiga terbawah dari 27 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat, setelah Kabupaten Cianjur (64,62), dan Kabupaten Tasikmalaya (65,00).

Namun pertumbuhan IPM Garut beringsut naik percepatannya 0,01 persen dari 1,38 persen pada 2017 menjadi 1,39 persen (2018), sedangkan capaian IPM nya meningkat 0,90 digit dari 64,52 pada 2017 menjadi 65,42 (2018).

Sumber BPS juga menyebutkan, capaian IPM Garut 2018 pada 65,42 tersebut, ditunjang komponen AHH (71,03) kemudian HLS (11,80) disusul RLS (7,50) serta Pengeluaran Perkapita Disesuaikan (PPP) pada 7579.

AHH meningkat dari 70,84 (2017) menjadi 71,03 (2018), pada periode sama juga ada peningkatan HLS dari 11,73 menjadi 11,80 demikian pula RLS dari 7,28 menjadi 7,50 meski penduduk kabupaten ini rata-rata hanya lulusan SD.

Sedangkan Pengeluaran Perkapita Disesuaikan (PPP) meningkat dari 7270 menjadi 7579.

Pada bagian lain keterangannya, Ahab Syihabudin menyatakan perlu dilaksanakannya pendataan anak usia sekolah, sehingga bisa memercepat penyalurannya ke lembaga pendidikan formal SMP Terbuka, maupun Paket A, B dan Paket C.

Sebelumnya bisa melalui pendekatan pada setiap kelurahan, antara lain guna mengetahui berapa jumlah yang terkendala memasuki SD, SMP, juga SLA.

*******

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here