Bhisma

0
1 views

Senin, 21 April 2014

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Apa yang direnungkan Bhisma, menjelang ajalnya datang?

Dikisahkan dalam Mahabharata, panglima perang tua ini akhirnya roboh dari keretanya.

Ia tergeletak, bersandar pada puluhan anak panah yang menghunjam tubuhnya.

Ia belum tewas.

Matanya memandang ke keluasan medan pertempuran: tamasya yang mengerikan.

Ratusan kereta perang hancur, ratusan kuda dan gajah terbunuh, ribuan jasad manusia tercincang atau remuk.

Bau amis darah menyebar.

Suara rintihan kesakitan terdengar dari tepi ke tepi.

Muram.

Langit seperti tak menghendaki matahari.

Bhisma, seraya menahan sakit, melirik ke sekitarnya.

Perang saudara itu sedang dihentikan.

Ia lihat para kesatria dari kedua kubu yang bermusuhan mengumumkan gencatan senjata dan segera mereka datang menghampirinya.

Dengan baju zirah yang kotor oleh lumpur dan debu, dengan luka-luka di pelipis dan di bahu, mereka datang untuk memberi hormat.

Mereka tahu ia akan segera mati.

Mula-mula Yudhistira yang bersimpuh di sebelah kirinya.

Kemudian pangeran sulung Kurawa, Duryudana, di dekat kaki.

Kemudian yang lain-lain.

Terakhir Arjuna yang hampir dibunuhnya dalam pertempuran sejam yang lalu.

Adakah semua berkabung?

Atau harus menunjukkan diri berkabung?

Apa arti seorang orang tua seperti dirinya, orang yang mungkin tak layak lagi dihormati karena ia tak lagi meletakkan diri sebagai penengah di atas sengketa, malah akhirnya memilih pihak-dengan pilihan yang membingungkan?

Semua tahu (atau barangkali hanya menduga?) hati orang tua itu lebih dekat ke para pangeran Pandawa, tapi Bhisma justru memutuskan menjadi musuh mereka.

Dikisahkan bahwa seraya terbaring itu ia berpesan kepada Yudhistira agar membaca Vishnusahasranama, menyebut 1.000 nama Vishnu.

Apa yang suci, apalagi yang mahasuci, tak dapat diringkas dengan satu sebutan karena tak tepermanai, dan juga karena begitu akrab, seperti rasa di hati yang tak bisa diikhtisarkan dengan satu-dua kata.

“Dharma teragung,” Bhisma berbisik, “adalah Vishnu, yang tak punya awal dan tak punya akhir.”

Kita tak tahu apa reaksi Yudhistira.

Mungkin pangeran sulung Pandawa ini akan tetap terkesima dan bertanya-tanya siapa sebenarnya Bhisma, apa yang membentuknya?

Jangan-jangan Vishnusahasranama itu hendak menunjukkan bahwa dewa dan manusia adalah 1.000 kecenderungan dan keinginan dalam satu sosok, 1.000 paradoks dengan tafsir yang tak punya awal, tak punya akhir.

Legenda tentang orang ini menakjubkan: seorang anak berumur 16 tahun yang menghentikan arus Sungai Gangga dengan hunjaman anak panah.

Seorang pangeran yang untuk kebahagiaan orang lain, ayahnya, memilih melepaskan haknya atas takhta dan menjadi brahmacari, tak akan menikah dan berketurunan.

Tapi ia ternyata juga tak hendak meninggalkan kerajaan.

Ia tak berangkat ke hutan untuk bertapa sebagai vanaprashta.

Ia malah terlibat jauh dalam kekuasaan: ia berperang untuk memperkuat Hastinapura, ia jadi wali raja bagi para pangeran ketika mereka masih anak-anak.

Mungkin itu panggilan tugas.

Tapi mungkin itu juga tanda ia gagal melepaskan diri dari jaringan kepentingan kerajaan.

Ketika Drupadi, perempuan yang dicoba ditelanjangi Pangeran Dursasana di depan umum itu, datang kepadanya minta dibela, di balairung itu Bhisma tak bergerak.

Ia khawatir, bila Dursasana dihukum karena skandal itu, wibawa istana akan guncang.

Ia hanya berkata, lirih, “Jalan dharma itu tak mudah dipahami.”

Ataukah itu justru kearifan yang bukan main, karena justru di saat itu ditunjukkan bahwa kekuasaan hanya sia-sia?

Drupadi tetap tak menyerah. Dursasana tak berhasil.

Ia sendiri, Bhisma, tak berhasil.

Ketika bertahun-tahun yang lalu ia menyatakan sumpahnya yang menggetarkan untuk jadi brahmacari, ia merasa bisa menunjukkan bahwa tak ada takdir yang melekatkan kekuasaan pada diri seseorang.

Kekuasaan seperti senjata: sesuatu yang ampuh, namun bisa ditanggalkan.

Dan sebagaimana senjata, ia bisa berbahaya, juga untuk diri pemegangnya.

Kekuasaan tak hanya bisa aku miliki; ia bisa memiliki aku.

Melepaskan diri dari hasrat kekuasaan, Bhisma manusia bebas.

Tapi di antara para cucunya, tak ada yang mengikuti kearifan itu.

Para Pandawa merasa hak mereka atas takhta benar dan sebab itu mutlak.

Para Kurawa merasa posisi mereka tak bisa dikurangi. Bhisma ternyata tak bisa jadi tauladan: memperoleh takhta baginya bukan harga mati.

Tapi Yudhistira dan Duryudana bersaudara tak bisa membaca tauladan itu.

Dalam hal itu, Bhisma gagal.

Dan bukankah ia sendiri tak sanggup meninggalkan istana dan akhirnya mempertahankan takhta Kurawa di Hastina di peperangan itu?

Di tepi medan Kurusetra, dengan tubuh yang kian lama kian lemah, ia memejamkan matanya.

Di akhir hidupnya ia menyaksikan kesia-siaan yang tak terkira.

Ia sendiri contoh sikap luhur yang tak meyakinkan.

Pangeran Kurawa hampir semuanya terbunuh.

Juga generasi kedua Pandawa.

Apa akhirnya kemenangan jika tak ada anak-anak yang akan melanjutkan kejayaan?

Kekuasaan: tak seorang pun mendapatkan apa yang dicarinya setelah itu.

Mereka yang bertahun-tahun bersengketa dan menyiapkan perang habis-habisan tampaknya lupa cerita dalam Maitri Upanishad: seorang raja meninggalkan istana, hidup bertapa di hutan, dan bertemu dengan seorang aulia yang berkata, “Tuan, di tubuh ini, di himpunan tulang, kulit, otot, sperma, darah, lendir, air mata ini adakah yang baik untuk menikmati hasrat? Dunia melapuk seperti tubuh ngengat, pohon-pohon tumbuh dan kemudian kering.”

Pada hari kesekian, Bhisma menutup mata selama-lamanya.

Di saat itu ia bebas benar-benar.

Goenawan Mohamad.

Tempo.co