‘Bertuhan’ Tanpa Tuhan

0
45 views
Ady Amar. (Foto: dok. Pribadi).

Ahad 29 April 2018 12:30 WIB
Red: Agus Yulianto

“Kehidupan saat ini menampakkan dengan jelas watak kapitalistik”

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ady Amar *)

Ady Amar. (Foto: dok. Pribadi).

Bagaimana mungkin Tuhan dihadap-hadapkan dengan makhluknya, bukankah Tuhan itu Pencipta makhluk yang tak pantas “direkatkan” dengan kepentingan politik sesaat.

Akhir-akhir ini muncul manusia berlebihan “menghamba” pada sosok makhluk, yang kebetulan sebagai presiden bernama Pak Jokowi. Mengagumi seseorang itu sah-sah saja, tidak ada yang melarang. Tapi menghadap-hadapkan seseorang yang dikagumi dengan Tuhan, itu perilaku tanpa nalar.

“Tidak ada yang bisa mengalahkan Jokowi kecuali Tuhan.” Ini pernyataan keblinger dan absurd. Pernyataan itu menjadi beda jika penekanannya dengan menggunakan simbol Tuhan. Misal dengan pernyataan, Pak Jokowi tidak akan ada yang mampu mengalahkan, kecuali tangan Tuhan menghendakinya.

Tentu kita tidak akan mendapatkan pernyataan cerdas dari individu atau komunitas yang membonsai akal sehatnya. Pernyataan cerdas dan terukur akan keluar dari mulut melalui nalar sehat.

Kasihan Pak Jokowi, jika terus-terusan mendapat “amunisi” jenis manusia demikian. Dampaknya akan menyurutkan nama beliau, yang seolah pembicaraan-pembicaraan ngawur itu, yang tersebar di ruang publik, adalah narasi pemikiran yang dibangunnya.

Pernyataan tanpa nalar itu semoga tidak disadarinya. Pernyataan yang keluar dari asas kepatutan itu tidak saja menjerumuskan pemahaman individu tapi juga komunitas yang lebih luas. Maka, yang tampak di hadapan publik adalah kelompok yang Teistik tapi juga Ateistik, kelompok yang bertuhan tapi bersikap seolah tidak bertuhan. Kelompok jenis demikian mulai mewabah.

Pandangan yang masuk kategori melecehkan agama dan nilai spiritual adalah merupakan opini subyektif. Moralitas dipandangnya tidak sebagai wujud pemenuhan diri akan nilai-nilai kebaikan, tetapi lebih sebagai pembatas pemenuhan hak individu.

Inilah jenis manusia yang mencoba menceraikan pikiran dan hatinya, guna memunculkan ego formal. Dan itu dikembangkan guna mendapatkan hubungan yang dinamis dengan kehidupan sarat politis dan kepentingan sesaat.

***

Kehidupan saat ini menampakkan dengan jelas watak kapitalistik, manusia tenggelam dalam pandangan antroposentris-sekuler. Kenyataan ini, tanpa disadari, mendorong lahirnya sebuah etika eksploitatif pada hal-hal bersifat materi.

Drama mengecil-ngecilkan Tuhan, dan karenanya lalu berharap membesar-besarkan sosok tertentu, itu akan terus kita jumpai, disebabkan banyak hal, yang terutama adalah pemahaman yang salah atas ajaran agama—apa pun agamanya—dan kepentingan sesaat.

Tuhan tidak menjadi kecil, justru memperolok-olok-Nya itu menunjukkan sikap keberagamaan yang dangkal dan penuh muslihat. Agama menjadi alat negosiasi pada hal-hal keduniawian… Seolah “bertuhan” tapi tanpa Tuhan. Bisa dimaknai sebagai teis-agnostik.

Menjadi menarik jika agama diperlakukan sebagaimana mestinya, didiskusikan, didialogkan, dan direnungkan untuk mencari makna terdalam dan esensial. Agama tidak lalu ditarik-tarik pada syahwat dan hawa nafsu…

Maka Dzun Nun mengatakan, yang termuat dalam Minhajul ‘Abidin Ila Jannah Rabbil ‘Alamiin, karya Hujjatul Islam al-Ghazali:

Engkau melihat segala sesuatu

Yang tak mungkin kau capai

Sementara engkau tidak sabar

Untuk mendapatkan sebagiannya…

Menempuh jalan pintas untuk mendapat pengakuan, meski memperolok Tuhan, tidaklah menjadi soal… Dan kita akan terus menjumpai manusia jenis demikian, hadir di tengah negeri sengkarut dengan ketidakpastian penegakan hukum berkeadilan.

*Pemerhati Masalah Sosial

*******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here