You are here
Berjuang bagi Korban Narkoba Tak Perlu Tunggu Lama KESRA 

Berjuang bagi Korban Narkoba Tak Perlu Tunggu Lama

Jakarta, Garut News ( Kamis, 31/10 ).

Ilustrasi Narkoba. (Foto : John).
Ilustrasi Narkoba. (Foto : John).

Masalah adiksi narkoba di Indonesia menyentuh level darurat.

Karena itu, mutlak diperlukan penanganan serius semua pihak.

Pada konteks penanggulangan masalah narkoba,  peran serta kaum ibu pada dasarnya bisa memberikan pengaruh besar membantu pemulihan korban narkoba.

Berdasar pengamatan dr Aisah Dahlan, seorang pakar adiksi Indonesia, penanganan narkoba oleh kaum perempuan khususnya kaum ibu bisa dimaksimalkan.

Menurut dia, seseorang tak perlu menunggu waktu bertahun-tahun membekali dirinya dengan ilmu adiksi, kemudian baru berjuang.

“Dengan pemahaman baru sedikitpun, para kaum perempuan bisa memberikan peran berjuang menanggulangi masalah narkoba”, imbuh Aisah, menyajikan materi adiksi dalam program Pembekalan Rehabilitasi Adiksi Berbasis Masyarakat Pada Organisasi Masyarakat Wanita Keagamaan, di Wisma Wanita Islam, Jakarta Timur, Selasa (29/10).

“Pada hari ini kita belajar tentang inti-inti adiksi dari level sederhana, sehingga nanti bisa diaktualisasikan pada kehidupan sehari-hari”, ungkap dr Aisah.

Sesuai pengalaman pernah dilakukannya, penanganan terhadap korban narkoba, dari cara sederhana yakni dengan mencoba mengubah kebiasaan buruk penyalahguna narkoba.

“Hal penting kudu diingat, berikan apresiasi atawa pujian ketika ia melakuan perubahan baik, dan berikan teguran ketika dia melakukan kesalahan”, imbuh Aisah, menyerukan.

Selain hal itu, kemampuan pendampingan dan konseling juga sangat diperlukan nantinya dalam menjalankan upaya rehabilitasi.

Pada upaya pendampingan, pejuang di bidang rehabilitasi kudu memiliki kemampuan mengarahkan si pecandu narkoba agar terhindar dari penyalahgunaan narkoba kembali.

“Nasehat-nasehat itulah menjadi kekuatan bagi mereka tetap clean dari penggunaan narkoba”, katanya.

“Ajarkan mereka trik-trik terhindar dari segala godaan narkoba, baik dorongan diri, maupun lingkungan”, imbuhnya pula.

Ketika ditanya tentang potensi Pengurus Pusat Wanita Islam (PPWI) menanggulangi masalah narkoba, Aisah menilai ormas ini memiliki elemen-elemen memadai mendukung gerakan rehabilitasi adiksi berbasis masyarakat atau CBU (Community Based Unit). .

Karena itu, BNN menggandeng organisasi masyarakat PPWI ikut terlibat memberikan pelayanan rehabilitasi berbasis masyarakat atau Community Based Unit (CBU).

Sri Bardiyati, Kasubdit  Komunitas Terapeutik Direktorat Penguatan Lembaga Rehabilitasi Komponen Masyarakat, katakan ke depan lembaga rehabilitasi seperti ini dimaksimalkan pada sektor pendampingan, dan konseling korban narkoba.

Selain itu, juga dikatakan, dalam aspek preventif, ibu-ibu PPWI ini bisa menularkan informasi penting tentang bahaya narkoba pada masyarakat di tengah kegiatan pengajian, atawa kegiatan-kegiatan sosial lain.

Harapan BNN, ke depan lembaga ini pun bisa mengarahkan para penyalahguna narkoba melaporkan diri ke Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL), selanjutnya dilakukan rehabilitasi pada mereka.

Kepada seluruh peserta pembekalan nantinya berjuang penanganan narkoba, Aisah Dahlan berpesan korban adiksi narkoba kudu segera diberikan pertolongan, lantaran para penyalahguna narkoba masih memiliki kesempatan memerbaiki kehidupannya.

“Sekalipun sel-sel otak mereka terbakar, tetapi mereka masih memiliki kesempatan menjadi lebih baik”, pungkas Aisyah pula.

Demikian dikemukakan Kepala Bagian Humas dan Dokumentasi BNN, Sumirat Dwiyanto dari Jakarta kepada Garut News, Kamis (31/10).

****** John.

 

Related posts

Leave a Comment