Berdamai dengan Paradoks

0
41 views

J. Sumardianta, guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta

Garut News ( Kamis, 20/11 – 2014 ).

Ilustrasi. Sulit Lurus. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Sulit Lurus. (Foto : John Doddy Hidayat).

Seorang dosen berkali-kali dicalonkan sebagai dekan di sebuah perguruan tinggi swasta terkemuka di Yogyakarta.

Dia bersaing dengan banyak kandidat lain. Namun dia tidak pernah terpilih sekali pun. Yang ditetapkan sebagai dekan malah para kompetitor yang memiliki defisit dalam banyak hal.

Pada awalnya, sebagaimana diakuinya sendiri, dia terjebak dalam situasi yang sangat tidak nyaman. Siapa sih yang tidak kecewa bila sesuatu yang diidamkannya tidak bisa diraih?

Meski demikian, si dosen tetap bekerja secara profesional. Perasaan kecewa berat merupakan fakta manusiawi.

Namun fakta lainnya membuktikan bahwa ia tetap memiliki integritas dan sangat dicintai mahasiswanya. Berbeda dengan para dekan terpilih, kehidupan keluarga dosen yang satu ini bisa dijadikan teladan.

Dia berfokus pada keluarga. Dosen hebat ini teguh memegang prinsip: jika Anda bahagia bersama keluarga di rumah, pekerjaan Anda akan sangat terbantu.

Biduk keluarganya tidak oleng karena dia setia kepada cahaya mercusuar yang menyinari kehidupan personal serta profesionalnya.

Pintu perspektif baru telah terbuka baginya.

Kedamaian hidupnya ditemukan dalam situasi yang amat kontradiktif: diperbudak kekecewaan atau terus berpengharapan.

Kebahagiaan hidupnya ditemukan dalam kondisi paradoksal: menerima fakta tragis tapi indah, bahwa tidak semua kompetisi bisa dimenangi.

Sebuah percobaan ilmiah terhadap binatang yang dilakukan Martin Seligman (2005), pelopor psikologi positif, menguak bukti mencengangkan.

Hewan-hewan seperti anjing, tikus, dan kecoa menjadi pasif dan menyerah jika sebelumnya mengalami kejadian berbahaya yang membuat mereka merasa tidak berdaya.

Para hewan itu, sesudah mengalami kejadian berbahaya yang membuat tidak berdaya, bersedia menerima kejutan listrik yang menyiksa dan menunggu kejutan listrik datang lagi tanpa ada usaha melarikan diri.

Ketidakberdayaan ataupun optimisme jelas merupakan hasil dari proses belajar. Orang-orang tersisih secara potensial mengalami ketidakberdayaan yang bisa dipelajari.

Bila berhasil melawan pentunadayaan itu—seperti halnya dosen yang tidak pernah terpilih menjadi dekan di atas—mereka bisa mengembangkan optimisme yang terkondisikan.

Optimisme memberikan perlindungan. Pesimisme membuat orang semakin lemah. Optimisme bersifat abadi.

Pesimisme bersifat sementara dan temporal. Itulah rumus kebahagiaan yang terpenting. Si dosen menerapkan model belajar ABC.

Keyakinan (belief/B) akan sebuah kemalangan (adversity/A) menimbulkan konsekuensi (consequence/C).

Dosen itu memperlambat proses ABC melalui cara berpikir yang lebih akurat dan fleksibel. Dia belajar soal kegigihan, ketekunan, dan daya juang dalam mengatasi tantangan dan kesengsaraan secara langsung.

Inilah hikmah berharga bagi para pemangku kepentingan sebelum memutuskan bahwa seseorang harus diangkat sebagai pemimpin: pilihlah pemimpin yang tidak terbelah jiwanya karena tertekan oleh beban kerja.

Pilihlah pemimpin yang bisa membereskan persoalan keluarga, bukan pemimpin yang menjadikan jabatan sebagai arena penegakan harga diri karena keluarganya semrawut. *

******

Kolom/Artikel : Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here