Berdamai dengan Gempa

0
14 views
Sejumlah kerusakan akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu (29/9). Foto: Ant/BNPB

Sabtu 29 Sep 2018 12:36 WIB
Red: Joko Sadewo

“Masyarakat harus mulai menyadari bahwa hidup di wilayah yang rawan bencana”

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Ichsan Emerald*

Sejumlah kerusakan akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu (29/9). Foto: Ant/BNPB

Kabar buruk bagi bangsa ini kembali terjadi di Donggala, Sulawesi Tengah. Kabar buruk itu berupa gempa berkekuatan berkekuatan 7,4 Skala Richter (SR) menurut BMKG pada Jumat petang 28 September 2018 pukul 17.02.

Gempa yang berpusat Donggala itu memicu rentetan kejadian seperti Tsunami setinggi 1,5 meter di Palu, Sulawesi Tengah dan hancurnya beberapa mal, tempat ibadah dan rumah.

Hingga saat ini pemutakhiran data masih terus dilakukan, hal itu karena jaringan komunikasi terputus di wilayah terdampak. Beberapa jam kemudian, gempa terjadi di wilayah lain yang jaraknya cukup jauh yaitu Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh sebesar 4,5 SR.

Kemudian tak jauh dari Donggala, Gempa bumi berkekuatan 5,5 Skala Richter (SR) mengguncang Sigi, Sulawesi Tengah pada Sabtu (29/9), pukul 04.24 WIB.

Sebelumnya cerita sedih berasal dari Tanah Lombok dimana gempa menyebabkan 460 orang meninggal dunia, 7.733 korban luka-luka, 417.529 orang mengungsi. Selain itu 71.962 unit rumah rusak, 671 fasilitas pendidikan rusak, 52 unit fasilitas kesehatan, 128 unit fasilitas peribadatan dan sarana infrastruktur.

Berdasarkan catatan BMKG dan BNPB, terjadi lima kali gempa besar berkekuatan hingga 6,9 di wilayah tersebut. Selain itu diikuti rentetan kecil gempa yang terjadi bahkan hingga 2 ribu kejadian.

Terlepas dari korban jiwa, seharusnya anak-anak Indonesia akrab dengan bencana terutama gempa bumi dan tsunami. Alasannya jelas, apalagi sering didengung-dengungkan oleh kita sendiri. Kita tinggal di wilayah yang disebut Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik.

Artinya kita tinggal di atas tanah yang mudah bergejolak akibat aktivitas patahan (sesar) yang bisa menyebabkan gempa. Sayangnya sebagian bahkan banyak dari kita tak sadar bahwa kita seharusnya lekat dengan bencana.

Beberapa waktu lalu, ketika diwawancara wartawan Republika, Pakar Geologi Surono juga berkeluh kesah tentang hal ini. Ia mengatakan pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat Indonesia dalam mengantisipasi musibah gempa cenderung masih minim.

Bahkan menurut dia, mindset orang Indonesia cenderung kurang peduli terhadap suatu hal yang belum tentu kapan akan terjadi, seperti halnya gempa. Seseorang memang tidak mati karena guncangan gempa, namun justru meninggal karena tertimpa bangunan.

“Orang tewas karena tertimpa bangunan, ya berarti bangunannya lah yang harus kita perkuat. Supaya jika terjadi gempa bangunan itu ya boleh rusak tetapi tidak boleh mematikan manusia. Hanya itu yang bisa dilakukan,” kata Mbah Rono beberapa waktu lalu.

Mbah Rono yang sempat menjabat sebagai Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM tersebut juga menganggap, selama ini pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan relawan-relawan di daerah sudah cukup sering memberikan imbauan kepada masyarakat terkait kegempaan.

Oleh karena itu, dia mengajak masyarakat untuk memperkaya pengetahuan, dan respect jika digelar simulasi gempa di daerah masing-masing.

“Kalau kita nunjukkin latihan (simulasi kegempaan) di Jepang itu kan mereka sudah pengalaman ya. Tapi seharusnya lebih pengalaman Indonesia dong, karena Indonesia lebih sering gempa ketimbang Jepang,” jelas dia.

Berdasarkan data BMKG, Indonesia bisa mengalami tujuh hingga 10 kali guncangan gempa. Akan tetapi karena guncangannya memiliki magnitudo rendah atau di laut sehingga sering diabaikan masyarakat.

Jika dirunut dari tahun 2002 di dunia telah terjadi 12 gempa besar yang menewaskan lebih dari 1.000 jiwa, dan yang perlu diketahui bersamaan empat gempa di antaranya terjadi di Indonesia. Tahun 2004 gempa besar di Aceh, 2005 di Nias, lalu pada tahun 2006 terjadi di Yogyakarta, dan tahun 2009 di Padang, Sumbar.

Sadar gempa

Ketika penulis menyaksikan gempa melalui kiriman video melalui aplikasi pesan Whatsapp, putra kami yang berusia empat tahun juga ternyata memperhatikan dari belakang. Ia pun bertanya apa yang sedang terjadi hingga orang mengucapkan takbir.

Penulis pun menjawab ada gempa di wilayah tertentu di Indonesia. Ia pun langsung bertanya kenapa orang-orang lari dan lain sebagainya. “Ayah kalau ada gempa bukannya ngumpet di bawah meja pake bantal atau ke kamar mandi,” begitu Raya, putra kami.

Penulis pun langsung teringat bahwa ia kadang bermain gim Little Panda Earthquake Safety Tips. Meski belum pernah merasakan terjadinya gempa tapi secara teori putra kami mengetahui apa yang harus dilakukan. Sehingga sepatutnya kesadaran akan bencana dibangun sejak dini.

Penulis pun langsung teringat ketika pertama kali meliput gempa Tasikmalaya pada 2009 lalu. Ketika itu penulis meliput di wilayah Pengalengan, Kabupaten Bandung. Tertulis di catatan Republika, pria bernama Yayan. Ia mengaku sepanjang 40 tahun lebih ia hidup baru pertama kali merasakan gempa.

Rumah dua tingkatnya hancur sehingga ia terpaksa harus tinggal di tenda pengungsian. “Baru pertama kali saya merasakan gempa. Saya pikir disini (Pengalengan) nggak bakal pernah gempa,” ucapnya.

Beberapa orang lainnya, yang Republika tanya juga mengaku baru pertama kali merasakan gempa. Sehingga mereka mengaku tidak tahu-menahu soal langkah yang dilakukan sebelum, sesaat dan sesudah gempa.

Maka sudah seyogya setiap pihak kini mulai berdamai dengan bencana. Caranya dengan lebih peduli bencana. Minimal dari keluarga dan dunia pendidikan yang sepatutnya sadar bencana.

Soal pendidikan, menurut penuturan Otto Emil, yang pernah tinggal di Kota Tsukuba Jepang, seluruh level pendidikan berperan aktif mengingatkan soal bahaya gempa. Pemerintah Kota pun turun tangan, tak hanya datang saat pembukaan alias seremonial saja.

“Seluruh pintu apartemen di tempel kertas soal latihan bencana, petugas pun aktif mengingatkan tiap pekan. Lagipula nggak hanya gempa badai topan juga kemungkinan bisa terjadi di Jepang. Bahaya kebakaran dilatih juga,” tuturnya.

*) Penulis adalah redaktur Republika.co.id

*******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here