Berbagai Peristiwa Disaksikan Nabi Saat Menuju Al-Aqsa

0
8 views
Program Berbagi Sembako, Jum'at Berkah (12/03-2021), di Panti Asuhan Harapawan Muhammadiyah Kampung Lio Garut Kota, Dengan 30 Santri.

Kamis 11 Mar 2021 10:52 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Ani Nursalikah

Program Berbagi Sembako, Jum’at Berkah (12/03-2021) Bersama Baitulmal Yadul ‘Ulya, di Panti Asuhan Harapawan Muhammadiyah Kampung Lio Garut Kota, Dengan 30 Santri.

“Peristiwa Isra dan Mi’raj menguji keimanan seorang Muslim”

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dalam perjalanan menuju Masjid Al-Aqsa di Baitul Maqdis, Yerusalem, Rasulullah berhenti beberapa kali untuk melakukan sholat.

Yakni di Thaibah, di Madyan di dekat pohon Musa, di bukit Tursina tempat di mana Allah dahulu pernah berfirman secara langsung kepada Nabi Musa dan di Bait Lahem, tempat di mana Isa bin Maryam dilahirkan.

Dikutip dari buku Kisah Isra Mi’raj Rasulullah SAW terjemah dari kitab Qishotul Mi’raj karya Syeikh Najmuddin al-Ghaithi, dalam perjalanan ini, Rasulullah juga melihat beberapa peristiwa di antaranya ketika jin ifrit mengikutinya dengan membawa obor. Saat itu, Jibril menuntun Rasulullah untuk berdoa agar jin ifrit tersebut lari ketakutan.

اَعُوْذُ بِوَجْهِ اللّهِ الْكَرِيْمِ وَبِكَلِمَاتِ اللّهِ التَّمَّاتِ الَّتِيْ لاّ يُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ وَلاَ فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَآءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيْهَا وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَاَ فِى الأَرْضِ وَمِـنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمِنْ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ طَوَارِقِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِلاَّ طَارِقًـــــا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَّا رَحْمنُ

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Dermawan dengan menggunakan kalimat-kalimat Allah yang tidak mampu dilewati oleh orang yang baik maupun orang yang jahat dari keburukan sesuatu yang diturunkan dari langit, dari keburukan sesuatu yang naik ke sana, dari keburukan sesuatu yang tertinggal di muka bumi, dari keburukan sesuatu yang keluar daripadanya, dari fitnah-fitnah waktu malam maupun siang, dan dari bencana-bencana malam maupun siang, kecuali bencana yang membawa suatu kebajikan, wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.”

Suasana di Panti Asuhan Harapawan Muhammadiyah Kampung Lio Garut Kota, Dengan 30 Santri.

Begitu Rasulullah selesai membacanya, jin ifrit lari tunggang-langgang sehingga ia jatuh terjerembab dan obornya pun padam. Rasulullah juga melihat orang-orang yang sedang bercocok tanam dan langsung memanen hasilnya. Jibril menyebutkan, orang-orang tersebut adalah orang-orang yang pernah berjihad di jalan Allah.

Rasulullah kemudian mencium aroma yang sangat harum yang ternyata berasal dari Masyithah dan keluarganya. Masyithah hingga akhir hayatnya tetap teguh iman kepada Allah meskipun ia dan anak-anaknya dimasukkan ke dalam air mendidih.

Program Berbagi Sembako, Jum’at Berkah Bersama Baitulmal Yadul ‘Ulya Garut, Diselenggarakan Setiap Pekan.

Kemudian Rasulullah mendapati orang-orang yang tengah memecahkan kepala sendiri hingga hancur, lantas kepala itu utuh lagi dan dipecahkan kembali. Ini merupakan gambaran bagi orang-orang yang kepalanya terasa berat untuk diajak sholat fardhu.

Rasulullah juga mendapati beberapa orang yang sedang digembalakan laksana sekawanan unta dan domba tanpa busana. Mereka adalah orang-orang yang tidak mau menunaikan zakat hartanya.

Selanjutnya Rasulullah mendapati orang-orang yang tengah memakan daging busuk. Ini menggambarkan kelompok manusia yang suka berzina.

Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut.

Rasulullah juga melihat seseorang yang sedang berenang di sebuah sungai darah seraya menelan batu. Ini menggambarkan seseorang yang suka memakan harta riba.

Selanjutnya Rasulullah mendapati beberapa orang yang sedang menggunting bibir dan lidahnya dengan menggunakan gunting besi. Dan setiap kali sudah tergunting bibir dan lidahnya itu kembali utuh lagi seperti sedia kala tanpa ada bekas luka. Mereka itu termasuk umat yang pandai mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, ahli fitnah.

Rasulullah juga mendapati beberapa orang yang memiliki kuku terbuat dari timah yang mereka gunakan untuk mencakar-cakar muka dan dada mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang suka menyebar aib orang lain.

Sumbangsih Baitulmal Yadul ‘Ulya Garut pada Masjid Sekitar Ponpesnya.

Rasulullah kembali meneruskan perjalanan, hingga akhirnya tiba di Bait-ul-Maqdis. Beliau memasukinya dari pintu sebelah kanan. Setelah turun dari Buraq, beliau segera menambatkan binatang ini di dekat pintu masjid, tempat yang dahulu pernah digunakan oleh para Nabi untuk menambatkan binatang kendaraan mereka.

Disebutkan dalam suatu riwayat, bahwa sesungguhnya Jibril menghampiri seonggok batu besar. Begitu meletakkan jari-jarinya, seketika batu tersebut hancur-lebur dengan mengeluarkan suara cukup keras sehingga membuat terkejut Buraq yang sedang istirahat.

Rasulullah memasuki masjid dari pintu yang terkena sinar matahari. Beliau dan Jibril sempat sholat sendiri-sendiri dua rakaat. Tidak lama kemudian tiba-tiba sudah berkumpul beberapa orang yang belakangan beliau tahu mereka itu adalah para nabi.

Sumbangsih Baitulmal Yadul ‘Ulya Garut pada Masjid Sekitar Ponpesnya.

Mereka ada yang sedang berdiri, ada yang sedang ruku‘, dan ada yang sedang bersujud. Setelah seruan adzan dikumandangkan dan diteruskan dengan seruan iqamat, mereka pun berdiri dengan membentuk beberapa shaf.

Mereka sedang menunggu yang akan menjadi imam mereka. Tiba-tiba Jibril memegang tangan Nabi Muhammad seraya memberi isyarat supaya beliau maju ke depan sebagai imam dan beliau pun sholat dua rakaat sebagai imam.

“Wahai Muḥammad, Anda tahu siapa yang tadi shalat di belakang Anda?” tanya Jibrīl kepada Nabi begitu selesai sholat.

“Tidak,” jawab Nabi.

“Mereka tadi adalah seluruh nabi yang pernah diutus oleh Allah ta‘ala,” jawab Jibril.

Selanjutnya Nabi mendengar setiap nabi memuji Tuhannya dengan puji-pujian yang sangat indah.

“Kalian semua memuji Tuhan kalian, dan aku pun selalu memuji Tuhanku,” kata Nabi.

Jibril kemudian memberikan gelas berisi khamer dan susu, kemudian Rasulullah memilih susu untuk diminumnya. Jibril berujar bahwa pilihan Rasulullah sebagai fitrah.

Selanjutnya, Rasulullah melakukan Mi’raj yakni perjalanan menuju Sidratul Muntaha. Tentu saja, sebelum mencapai langit ke tujuh atau Sidratul Muntaha, Nabi harus melewati pintu-pintu langit pertama hingga ketujuh.

Di sanalah Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam di langit pertama, Nabi Isa dan Nabi Yahya di langit kedua, Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Idris di langit keempat, Nabi Harun di langit kelima, Nabi Musa di langit keenam, dan Nabi Ibrahim di langit ketujuh.

Akhirnya, Rasulullah telah mencapai Sidratul Muntaha, tempat terakhir tujuan dari Mi’raj tersebut. Saat itulah Rasulullah mendapatkan perintah untuk melakukan sholat 50 waktu. Kemudian atas saran Nabi Musa, Rasulullah kembali dan memohon keringanan sehingga Allah mewajibkan sholat menjadi lima waktu.

Sebenarnya, Nabi Musa kembali menyarankan agar Nabi Muhammad kembali memohon keringanan. Namun, Rasulullah merasa malu harus bolak-balik memohon keringanan.

Rasulullah kemudian kembali turun ke bumi untuk menyampaikan perintah sholat tersebut. Selama perjalanan turun, Rasulullah banyak mendapatkan salam dan senyum dari para malaikat. Namun hanya satu malaikat yang membuat Rasulullah bertanya-tanya yaitu malaikat Malik penjaga pintu neraka yang tidak memberikan senyum barang sedikitpun.

Rasulullah kembali melanjutkan perjalanan untuk turun ke bumi. Banyak hal yang ia lihat dan saksikan. Menjelang subuh, Rasulullah telah sampai di bumi dan menceritakan perjalanan Mi’raj tersebut.

Abu Bakar adalah orang tanpa ragu meyakini apa yang diceritakan oleh Rasulullah adalah kebenaran. Namun, masih banyak orang-orang Quraisy lainnya tidak percaya dengan apa yang disampaikan Rasulullah dan justru menuduh Nabi sebagai tukang sihir.

Khazanah 11 Mar 2021, 13:47 WIB

Terkait Isra Mi’raj, Apa itu Buraq?

‘Buraq adalah kendaraan yang digunakan para nabi’

Saat mengalami peristiwa Isra Miraj diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersama Malaikat Jibril mengendarai makhluk bernama buraq, makhluk yang melegenda di kalangan umat Islam. 

Berdasarkan beberapa hadis dan literatur, telah banyak yang menggambarkan makhluk tersebut. Namun, yang paling menakjubkan mengenai makhluk tunggangan Nabi SAW tersebut adalah kecepatannya yang seperti kilat. Kecepatannya bahkan tidak dapat dijangkau akal, sehingga buraq termasuk salah satu tanda kebesaran Allah SWT.

Buraq berasal dari kata barqu yang memiliki arti kilat. Namun, penggantian istilah dari barqu yang berarti kilat menjadi buraq tersebut jelas mengandung pengertian yang berbeda. Jika barqu itu adalah kilat, maka Buraq dapat diasumsikan sebagai sesuatu kendaraan yang kecepatannya diatas kilat atau sesuatu yang kecepatannya melebihi gerakan cahaya.

Istilah barqu yang berarti kilat tersebut bisa ditemukan dalam beberapa surah dalam Alquran. Salah satunya yaitu di dalam surat al-Baqarah ayat 20:

يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ ۖ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ    

“Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2: 20]).

Melihat penamaan makhluk tersebut, Nabi Muhammad SAW seakan hendak menyampaikan kepada kita bahwa kendaraannya tersebut memang memiliki kecepatan di atas sinar. Suatu kendaraan dengan kecepatan yang sangat jauh meninggalkan teknologi yang ada hingga sampai saat ini.

Para sarjana telah melakukan penyelidikan atau penelitian. Mereka berkesimpulan bahwa kilat atau sinar dapat bergerak sejauh 186.000 mil atau 300 kilometer per detik. Dengan penyelidikan yang memakai sistem paralaks, diketahui pula jarak matahari dari bumi sekitar 93.000.000 mil, dan dilintasi oleh sinar dalam waktu delapan menit.

Menurut akal pikiran kita sehari-hari yang tetap tinggal di bumi, jarak yang demikian jauhnya tidak mungkin dapat dicapai hanya dalam beberapa saat saja oleh buraq. Karena untuk menerobos garis tengah jagat raya saja memerlukan waktu 10 miliar tahun cahaya melalui galaksi-galaksi atau fosil-fosil jagad raya. Namun, kendati di luar nalar peristiwa tersebut tetap harus diimani oleh umat Islam.

Terkait dengan bentuk buraq, di dalam hadits riwayat Imam Muslim yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik diterangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ:  أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ، وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ ، طَوِيلٌ ، فَوْقَ الْحِمَارِ، وَدُونَ الْبَغْلِ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ  

“Didatangkan kepadaku buraq, yaitu hewan (dabbah) yang berwarna putih (abyadh), bertubuh panjang (thawil), lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dan sekali ia menjejakkan kakinya yang berkuku bergerak sejauh mata memandang.” (kitab al-Jami’ al-Sahih juz I, hlm 99).

Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Anas tersebut, Rasulullah menjelaskan bahwa Buraq itu adalah dabbah. Menurut penafsiran bahasa Arab, dabbah adalah suatu makhluk hidup berjasad, bisa laki-laki bisa perempuan, berakal dan juga tidak berakal. Penafsiran tersebut menunjukkan bahwa kita tidak dapat menentukan jenis kelamin hewan tersebut, seperti halnya malaikat.

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW juga pernah bersabda:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِالْبُرَاقِ ، فَرَكِبَهُ هُوَ وَجِبْرِيلُ صَلَّى الله عَلَيْهِمَا، فَسَارَ بِهِمَا، فَكَانَ إِذَا أَتَى عَلَى جَبَلٍ ارْتَفَعَتْ رِجْلَاهُ

“Jibril mendatangiku dengan seekor hewan yang tingginya di atas keledai dan di bawah baghal, lalu Jibril menaikkanku di atas hewan itu kemudian bergerak bersama kami, setiap kali naik maka kedua kakinya yang belakang sejajar dengan kedua kaki depannya, dan setiap kali turun kedua kaki depannya sejajar dengan kedua kaki belakangnya.”

Berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW dan beberapa literatur tersebut, dapat disimpulkan bahwa buraq itu adalah seekor hewan yang warna bulunya putih, tubuhnya panjang, tingginya melebihi keledai dan lebih kecil dari baghal, telinganya bergelombang atau bergerigi, kecepatannya seperti kilat, memiliki empat kaki.

Jika naik kedua kaki belakangnya disejajarkan dengan dua kaki depannya, dan jika menurun kedua kaki depannya disejajarkan dengan kedua kaki belakangnya.

Terlepas dari kecepatan dan bentuk buraq tersebut, peristiwa Isra Mi’raj telah menunjukkan kebesaran Allah SWT kepada hamba-Nya. Hal ini seperti dijelaskan dalam surah al-Isra’ ayat 1:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Mahamendengar, Mahamelihat.” 

******

Republika/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here