Benci

0
6 views

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Ahad, 10/01 – 2016 ).

Ilustrasi.
Ilustrasi.

“Luapkan kemarahanmu. Hanya kebencianmu yang dapat menghancurkan aku.”

—Darth Vader kepada Luke Skywalker, dalam satu adegan duel dalam Return of the Jedi 

Kebencian adalah kekuatan.

Kemarahan adalah tenaga. Darth Vader memahami ini. Dan mungkin juga para perumus kata dan tindakan politik sejak abad ke-20: dari Hitler sampai dengan Donald Trump, dari Stalin sampai dengan IS, dari Ku Klux Klan sampai dengan Pol Pot, dari Pengawal Merah sampai dengan FPI.

Mereka kobarkan rasa marah, mereka sebar-luaskan rasa benci, dan kemudian mereka jadikan keduanya “ideologi”—dan sejak itu entah berapa kemenangan dirayakan dan berapa juta mayat bergelimpangan.

Kemarahan, kebencian, kekerasan—masing-masing berbeda dan tak senantiasa punya hubungan sebab-akibat. Tapi betapa sering kita menyaksikan ketiganya bertaut, baik dalam sejarah maupun dalam imajinasi.

Di Indonesia kita berkali-kali menemukan itu. Sebelum “Revolusi Sosial” di Sumatera Timur pada 1946, sebelum “pemberantasan G-30-S/PKI” pada 1965, dalam Babad Tanah Jawi bisa kita baca bagaimana Sultan Amangkurat II memperlakukan Trunajaya, pemberontak yang pernah jadi sekutunya dan kemudian dikhianatinya itu.

Sang sultan muda menerima sang pemberontak yang kalah di istananya dengan sangat ramah—seakan-akan ia tak punya dendam dan benci. Tapi segera setelah sang tamu menyambut salamnya, ia perintahkan para bupati yang berkumpul di balairung menghunus keris mereka. Trunajaya pun ramai-ramai ditikam. Tubuhnya hancur.

Sultan memerintahkan agar bagian hatinya dipotong-potong, untuk dibagikan kepada para bupati yang harus mengunyah dan menelannya di situ juga. Kemudian kepala Trunajaya dipisahkan dari lehernya dan diletakkan sebagai alas kaki di depan pintu, agar tiap orang yang keluar-masuk menginjak bagian jasad yang bergelimang darah dan berbau anyir itu.

Mungkin kita perlu melihat diri sendiri di cermin dengan lebih lengkap—termasuk melihat adegan itu sebagai bagian lanskap hidup kita. Kita punya narsisisme yang sering jadi mithos dan filsafat. Dalam Serat Dewa Ruci dikisahkan bagaimana Bhima menemui dewa yang misterius itu dan mendapat ajaran bahwa manusia tinitah luwih, ditakdirkan jadi makhluk yang unggul.

Tapi kemudian kita menyaksikan, dalam Bharatayudha, perang perebutan takhta dan pembalasan dendam itu, bagaimana sang kesatria membunuh Dursasana: ia minum darah korbannya, lalu ia beri kesempatan Drupadi, perempuan para Pandawa itu, mencuci rambutnya dengan darah segar itu.

Tampaknya di sana hendak diperlihatkan, “makhluk yang unggul” tak terpisahkan dari kebinatangan: humanisme hanyalah bentuk lain cinta diri sendiri. Selalu ada dalih untuk kekejian: kita memaklumi mengapa Bhima dan Drupadi begitu buas. Babad Tanah Jawi tak mengecam apa yang terjadi pada Trunajaya.

Bisa dimengerti mengapa humanisme kemudian digugat. Dan bukan tanpa alasan. Sampai jam ini, pembunuhan dan kebuasan tak juga usai setelah ribuan tahun berlangsung.
Violence, the bloody sire of all the

world’s value

Kata-kata Robinson Jeffers dalam sajak dari tahun 1940 ini, setelah Perang Dunia I, mengandung nada sarkastis—dengan rasa kecewa kepada manusia sebagai sumber sejarah. Maka sang penyair yang meninggalkan kota dan membangun sendiri rumah terpencil di pantai dekat Carmel, California, itu memilih:
We must unhumanize our views a little, and become confident

As the rock and ocean that we were made from.

“Menidak-manusiawi-kan pandangan kita”, bagi sang penyair, justru memperkuat kita: kita bisa percaya diri sebagaimana batu karang dan lautan dari mana kita terjadi.

Tapi “animisme” seperti ini tak akan didengar. Sejak manusia merasa dipilih Tuhan. Apa beda mendasar Yoshua dan amarah Tuhan yang membantai semua penduduk Kota Yerikho dalam Perjanjian Lama dengan pasukan IS yang menyembelih tawanan mereka dengan kebencian yang diperam? Tidak ada.

Saya ingat yang dikatakan Vaclav Havel dalam sebuah simposium tentang “anatomi kebencian” di Oslo, akhir Agustus 1990: bagi seorang pembenci, “Kebencian lebih penting ketimbang sasarannya.”

Ia tak membenci seseorang tertentu, melainkan apa yang ia anggap diwakili orang itu: jalinan hambatan untuk mencapai apa yang mutlak, “pengakuan mutlak, kekuasaan mutlak, persamaan diri secara mutlak dengan Tuhan, kebenaran, dan ketertiban dunia”.

Tapi benci tak bisa sendiri. Darth Vader ingin agar Luke Skywalker membenci, menghancurkan, dan kuat. Untuk berkuasa.

Tapi ia gagal. Dalam Return of the Jedi, yang menang dalam pergulatan hati itu adalah sesuatu yang juga kuno tapi sering terselip: kasih sayang, empati, juga pada momen yang paling mustahil.

********
Goenawan Mohamad/Tempo.co