Bencana

0
11 views

Garut News ( Ahad, 04/01 – 2015 ).

Ilustrasi. Mercu Suar. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Mercu Suar. (Foto : John Doddy Hidayat).

10 Mei 1883, seorang penjaga mercusuar di sebuah titik di Laut Jawa merasa bahwa fondasi menara itu beralih.

Laut tampak berubah putih, seakan-akan sejenak beku, seperti cermin yang menakutkan.

Itulah tanda-tanda awal tsunami dan ledakan besar Krakatau yang dicatat dan digambarkan kembali oleh Simon Winchester dalam Krakatoa: The Day the World Exploded: August 27, 1883.

Dari pelbagai dokumen sejarah, kita tahu betapa mengerikannya bencana itu. Hampir seluruh Pulau Krakatau lenyap.

Energi yang menggelegak dari letusan itu diperkirakan empat kali lebih besar ketimbang ledakan bom thermonuklir.

Asap vulkanis yang membubung ke angkasa mengitari bumi beberapa bulan. Warna langit senja di mana-mana berubah, sampai ke New York.

Bahkan merah dan jingga yang tampak di latar lukisan Edvard Munch yang terkenal, “Teriak” yang menggambarkan wajah seseorang yang ketakutan diduga berasal dari efek Krakatau di angkasa Norwegia.

Sekitar 40 ribu orang tewas. Tsunami yang berbareng dengan ledakan itu mengempaskan gelombang setinggi 40 meter dan menghancurkan Kota Merak dan sebagian wilayah Lampung.

Seratus dua puluh tahun sebelum Winchester menuliskan bukunya, hanya dua bulan setelah bencana besar itu, sudah ada sebuah naskah yang ditulis seseorang yang tak dikenal, yang merekam kesaksiannya.

Syair Lampung Karam, terbit pada 1883, ditulis dalam aksara Jawi. Penulisnya Muhammad Saleh. Bulan ini, naskah itu terbit sebagai Krakatau: The Tale of Lampung Submerged, dalam bahasa asli dan bahasa Inggris, terjemahan John H. McGlynn dari The Lontar Foundation.

Mula-mula, pada bulan Rajab, demikian syair ini bercerita, turun abu putih sampai setebal “dua jari”. Kemudian suara gemuruh menggelegar dan angin kencang melabrak.

Dan pada sebuah pagi hari Ahad, setelah “guruh menderu-deru” seperti suara kapal api yang mendekat, ombak yang besar pun melanda.

Pukul lima nyatalah hari,

Gaduhlah orang di dalam kali,

Perahu berlaga sama sendiri,

Airnya datang tidak terperi.

Sepanjang 345 bait, syair ini melukiskan bagaimana bencana itu menghabisi nyawa dan harta pelbagai dusun.

Muhammad Saleh agaknya reporter pertama dalam sejarah Indonesia yang melaporkan semua itu secara faktual: “Bukan hamba membuat dusta.”

Sebagai balada, bentuk syair memang biasa ditulis untuk mengisahkan sebuah peristiwa yang masih hangat.

“Sesungguhnya inilah gaya jurnalistik pada abad naskah,” tulis Ian Proudfoot dan Virginia Hooker dalam penutup buku terjemahan McGlynn ini.

Tentu, bentuk syair punya keterbatasan untuk jadi sebuah reportase. Harus mengikuti bait dan rima yang sudah tertentu, kesaksian tentang karamnya wilayah Lampung di abad ke-19 ini tak seleluasa deskripsi Abdullah bin Abdulkadir Munsyi tentang perubahan sosial di Singapura di masa Raffles dalam Hikayat Abdullah.

Penyusun Syair Lampung Karam harus membatasi kata-katanya.

Tapi bentuk syair ini memberi peluang bagi sikap seorang pencatat: berbeda dengan puisi liris modern, ada jarak emosional antara dia dan apa yang disampaikannya.

Kita bahkan tak tahu, sejauh mana bencana itu menimpa penulisnya atau keluarganya.

McGlynn pantas dihargai karena ia merawat jarak emosional itu dengan menyusun kuatren-kuatren yang memakai rima yang teratur, meskipun dengan bunyi dan variasi kata yang lebih beragam (bahasa Inggris memungkinkan itu) dan dengan makna yang terkadang menyimpang.

Dalam keteraturan itu, versi asli Lampung Karam tak menimbulkan gerak dan progresi yang membuat kita terpukau.

Laporan di dalamnya mencakup wilayah yang luas, tapi tak dibangun dengan suspens melalui waktu yang berjenjang.

Banyak deskripsi yang nadanya tak meninggi atau merendah. Kisah seperti berulang-ulang biarpun tentang tempat dan kejadian yang berubah-ubah.

Hampir seluruhnya sebuah monotoni.

Tapi pada dasarnya: sebuah harmoni. Muhammad Saleh, sebagai seorang muslim zaman itu, tak ingin menggugat nasib yang menimpa orang banyak yang tak bersalah tapi seakan-akan menerima laknat itu.

Ia bahkan tak mengisyaratkan kemarahan meskipun, menurut Winchester, bencana Krakatau berpengaruh pada antagonisme penduduk Islam di Banten kepada kekuatan kolonial.

Di bait 274 digambarkan bagaimana putri sang pejabat Belanda (“Tuan Kontelir”) hilang dipukul gelombang seperti kebanyakan penduduk.

Di bait 280-281 dikisahkan bagaimana bahkan di antara orang-orang yang berniat membunuhnya ada yang mengasihaninya hingga ia selamat.

Dalam beberapa bait sejak 344, kita bertemu dengan Residen yang dengan ramah membantu para korban.

Bencana bisa membuat orang protes, tapi juga bisa membuat kita bersama berkabung. Meskipun tanpa khotbah, tanpa petuah.

Goenawan Mohamad/Tempo.co