You are here
Benarkah Dunia Semakin Buruk? ARTIKEL 

Benarkah Dunia Semakin Buruk?

Bjørn Lomborg, Direktur Copenhagen Consensus Center

Jakarta, Garut News ( Senin, 09/12 ).

Ilustrasi, Bentangan Hamparan Samudera Hindia. (Foto: John).
Ilustrasi, Bentangan Hamparan Samudera Hindia. (Foto: John).

Selama berabad-abad, mereka yang optimistis dan yang pesimistis saling berargumentasi mengenai keadaan dunia yang mereka saksikan.

Mereka yang pesimistis menyaksikan sebuah dunia tempat bertambahnya jumlah penduduk berarti berkurangnya pasokan pangan, di mana meningkatnya permintaan akan sumber daya berarti terkurasnya sumber daya dan perang, serta-pada dekade akhir-akhir ini-di mana meningkatnya kapasitas produksi berarti meningkatnya polusi dan pemanasan global.

Mereka yang optimistis berpikir sebaliknya.

Namun, daripada memungut fakta-fakta dan cerita-cerita untuk membenarkan naratif kemunduran atau kemajuan, kita sebaiknya membandingkan seluruh bidang eksistensi manusia untuk melihat apakah dunia benar-benar bertambah baik atau bertambah buruk.

Bersama 21 ekonom terkemuka di dunia, saya mencoba melakukan perbandingan itu dengan menyusun suatu kartu skor yang meliputi rentang waktu selama 150 tahun.

Dengan menggunakan kartu skor yang mencakup 10 bidang-termasuk kesehatan, pendidikan, perang, ketidaksetaraan gender, polusi udara, perubahan iklim, dan keanekaragaman hayati-ekonom-ekonom tersebut menjawab pertanyaan yang sama: seberapa besar ongkos yang harus dibayar untuk masalah ini setiap tahun sejak 1900 sampai 2013, beserta prediksi untuk tahun 2050?

Dengan menggunakan valuasi ekonomi klasik, dari kematian, buruknya standar kesehatan, niraksara, sampai rusaknya kawasan rawa-rawa dan meningkatnya kerusakan akibat badai yang dipicu pemanasan global, ekonom-ekonom itu menunjukkan besarnya ongkos yang harus dibayar untuk setiap masalah yang dihadapi.

Untuk memperkirakan besarnya masalah, pemanasan global dibandingkan dengan total sumber daya yang ada untuk memperbaikinya.

Perkiraan ini menunjukkan besarnya masalah tersebut sebagai pangsa dalam produk domestik bruto (PDB).

Kecenderungan yang terjadi sejak 1900 kadang-kadang sangat mengejutkan.

Mungkin mengagetkan bahwa perubahan iklim dari 1900 sampai 2025 ternyata sebagian besar membawa manfaat, karena hal itu meningkatkan kesejahteraan sebesar kira-kira 1,5 persen dari PDB per tahun.

Ini karena pemanasan global membawa efek yang bercampur aduk, yang dalam pemanasan global moderat banyak manfaatnya.

Di satu pihak, karena CO2 berfungsi sebagai pupuk, tingginya level CO2 merupakan berkah bagi pertanian yang membawa dampak yang paling positif, setara dengan 0,8 persen dari PDB.

Selain itu, pemanasan global yang moderat berarti mengurangi kematian akibat cuaca yang dingin daripada yang terjadi dalam cuaca yang panas.

Ia juga mengurangi perlunya penghangat ruangan yang berarti pengurangan ongkos sebesar kira-kira0,4 persen dari PDB.

Di sisi lain, pemanasan global meningkatkan kadar stres air, dengan ongkos yang harus dibayar sekitar 0,9 persen dari PDB.

Ia juga membawa efek negatif terhadap ekosistem, seperti kawasan rawa-rawa, yakni sekitar 0,1 persen.

Namun, dengan naiknya suhu, ongkos akan meningkat dan manfaat menurun, sehingga menyebabkan terjadinya pengurangan yang dramatis pada net benefits.

Setelah 2070, pemanasan global akan menjadi net cost, sehingga memerlukan tindakan yang cost-effective sekarang dan pada dekade-dekade yang akan datang.

Untuk meletakkan persoalan pada perspektifnya, kartu skor ini juga menunjukkan bahwa persoalan lingkungan yang besar adalah polusi udara di dalam ruangan.

Saat ini, polusi udara dalam ruangan dari dapur dan penghangat ruangan yang menggunakan bahan bakar yang buruk menyebabkan kematian lebih dari 3 juta orang setiap tahun, atau setara dengan ongkos yang harus dibayar sebesar 3 persen dari PDB global.

Namun, pada 1900, ongkos yang harus dibayar mencapai 19 persen dari PDB, dan diharapkan turun menjadi 1 persen dari PDB menjelang 2050.

Dalam arti ekonomi, ongkos yang harus dibayar karena buruknya kesehatan pada awal abad ke-20 tercatat mencapai 32 persen dari PDB global.

Sekarang, angka itu sudah menurun sampai 11 persen, dan menjelang 2050 bakal turun separuh dari angka tersebut.

Walaupun mereka yang optimistis itu tidak sepenuhnya benar, gambaran keseluruhannya jelas.

Sebagian besar dari topik dalam kartu skor menunjukkan perbaikan sebesar 5-20 persen dari PDB.

Dan, secara keseluruhan, kecenderungannya bahkan lebih jelas.

Secara global, masalah yang ada telah berkurang drastis, sebanding dengan sumber daya yang ada untuk menanganinya.

Sudah tentu, ini tidak berarti persoalan sudah selesai.

Walaupun dianggap kecil, masalah yang muncul di bidang kesehatan, pendidikan malnutrisi, polusi udara, kesetaraan gender, dan perdagangan tetap menonjol.

Namun mereka yang realistis sekarang harus merangkul pandangan bahwa dunia bertambah baik.

Lagi pula, kartu skor menunjukkan kepada kita di bidang mana tantangan-tantangan yang cukup besar harus dihadapi guna tercapainya dunia yang lebih baik pada 2050.

Kita harus membimbing masa depan kita bukan berdasarkan cerita-cerita yang menakutkan, atau bahkan suara lantang kelompok penekan, yang paling lantang bersuara, melainkan berdasarkan penilaian yang obyektif di mana kita bisa berbuat yang terbaik.

**** Kolom/Artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment