Benahi Pelayanan Bandara

Garut News ( Jum’at, 04/04 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto Reproduksi : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto Reproduksi : John Doddy Hidayat).

Keputusan menaikkan tarif “Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara” (PJP2U) atawa airport tax semestinya dikaji lebih matang.

Kenaikan berlaku pada bandara di bawah tanggung jawab PT Angkasa Pura I per 1 April lalu ini, sebaiknya dibatalkan.

Sedangkan rencana PT Angkasa Pura II melakukan hal serupa mesti ditunda dulu.

Masyarakat pengguna bandara berhak mendapatkan pelayanan lebih baik sebelum pengelola membuat keputusan memberatkan mereka.

Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia, yaitu PT Angkasa Pura I dan II, kudu lebih dulu memerbaiki pelayanan.

Dengan perbaikan, kelak para penumpang pesawat di Bandar Udara Juanda, misalnya, ikhlas membayar kenaikan tarif dari Rp40 ribu menjadi Rp75 ribu penerbangan domestik, dan Rp150 ribu menjadi Rp200 ribu pada jalur internasional.

Memang penentuan tarif airport tax, kewenangan pengelola bandara.

Tetapi kewenangan ini semestinya digunakan bijak.

Ini terutama lantaran persepsi umum beredar atas pelayanan bandar udara masih berkisar dari pas banderol, hingga buruk.

Tentu tak semua pelayanan bandara buruk.

Soekarno-Hatta di Cengkareng, misalnya, tahun ini mendapat pujian majalah Skytrax-majalah menjadi rujukan pengelola bandara, dan maskapai dunia-salah satu bandara memuaskan.

Namun ini seolah menjadi pengecualian dibanding deretan bandara lain beruntun akan menaikkan airport tax-nya.

Daftar ketidaknyamanan masih panjang, seperti toilet tak bersih, calo menerobos hingga area tertutup, atawa keluhan ihwal keamanan bagasi penumpang.

Pembenahan masih kudu dilakukan.

Para pengelola bandara perlu membuat terobosan-terobosan cerdas.

Banyak contoh, badan usaha milik negara atawa daerah bisa berkembang profesional, seperti PT Kereta Api Indonesia.

Cara konkret bisa dilakukan menggelar survei kepuasan layanan pada penumpang sebelum terdapat kenaikan airport tax.

Survei ini mencakup apa saja perlu diperbaiki, dan fasilitas-fasilitas perlu ditambah.

Kita juga bisa mudah mencari referensi perbaikan.

Survei Airport Council International, lembaga internasional membantu bandara-bandara di dunia meningkatkan kualitas layanan, memunculkan hasil menarik.

Meski benar bandara-bandara terbaik dunia memiliki kecanggihan teknologi informasi, mayoritas penumpang masih membutuhkan bantuan personal.

Kesimpulan ini bisa dijadikan masukan berarti, memprioritaskan layanan personal yang baik, ramah, dan berkesan di hati penumpang.

Selain itu, PT Angkasa Pura I dan II semestinya lebih terbuka menjabarkan rencana jangka panjang pengembangan usaha.

Pihak pengelola bisa menunjukkan pada khalayak dengan jelas, kenaikan airport tax hanyalah salah satu komponen perbaikan komprehensif.

Misalnya menjadikan bandara pintu gerbang menyenangkan bagi para pendatang, dan menjadi satu paket peningkatan pariwisata, serta bisnis di wilayah tersebut.

******

Opini/Tempo.co

Related posts