Belajar Legawa dari Rakyat Jelata

by

  Sebuah film dokumenter tentang pemilihan presiden dari mata beberapa narasumber karya 19 videografer yang akan ditayangkan di bioskop.

***
Jakarta, Garut News ( Seni9n, 01/09 – 2014 ).

Ilustrasi. Buruh Tani di Garut, Jabar, Rehat Makan Siang. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Buruh Tani di Garut, Jabar, Rehat Makan Siang. (Foto : John Doddy Hidayat).

Di tengah sawah para petani Indramayu itu ngaso sambil selonjor di sebuah gubuk. Mereka berdiskusi dengan serius.

Bukan soal padi, bukan soal panen, apalagi soal tanah yang tak pernah mereka miliki. Mereka membicarakan soal Prabowo dan Jokowi.

“Kalau Prabowo, memang sudah kaya raya dari sananya, tapi Jokowi ini tiba-tiba muncul jadi calon Presiden,” kata salah satu petani yang mengaku memilih Prabowo dan kecewa setelah pengumuman hasil Quick-Count

“Kita kan sudah pernah mendapatkan Presiden seorang pendiri republik, Bung Karno, pernah militer Soeharto, pernah juga intelektual pak Habibie…ya Jokowi itu mewakili rakyat,” kata  Amin Jalalen, sang petani yang nampak mendukung dan memilih Jokowi.

Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).

Debat di tengah sawah itu nampak seru, tetapi tidak membuat mereka saling mengejek apalagi saling cemooh seperti yang kerap terjadi antara pendukung Prabowo Subianto dan Joko Widodo selama kampanye hingga berakhirnya keputusan Mahkamah Konstitusi.

Inilah  sebagian Film dokumenterYang Ketu7uh”  yang disutradarai Dandhy D.Laksono   melibatkan 19 videographer yang merekam berbagai cerita tentang “Indonesia yang baru” yang dimulai dari pemilihan legilslatif hingga pemilihan presiden.

Harus diakui yang semula menarik perhatian khalayak atas film ini adalah trailer yang diunggahkan di media sosial yang memang impresif dan ditonton oleh lebih dari 80 ribu kali.

Bukan saja suntingan yang rapi,  adegan Jokowi pada konser Salam 2 jari di Gelora Bung Karno yang historis yang diambil dari sudut yang tepat serta gabungan musikLetting Go” dari JewelBeat membuat film dokumenter ini adalah karya yang ditunggu banyak orang.

Dengan riuh rendahnya pemilu 2014 ini, yang bisa dikatakan pemilu paling dramatis dan memakan energi dan emosi penduduknya dalam sejarah, Dhandy dan seluruh videographer ternyata tak hanya sekedar berkisah tentang pertempuran kubu Joko Widodo dan Prabowo selama pemilu.

Mereka memilih sudut pandang empat orang narasumber dan memutuskan untuk mengikuti empat orang: Amin Jalalen sang petani dari Indramayu dari Indramayu tadi; Nita buruh cuci harian (Tangerang, Banten);  Suparno seorang kuli bangunan dan Sutara seorang tukang ojek dari Tanah Tinggi, Jakarta.

Hellena Soeisa, co-director , mengakui bahwa mereka memilih subyek dari narasumber yang mereka sudah gunakan pada peliputan untuk film dokumenter sebelumnya.

“Kami juga tidak tahu pilihan politik mereka, sengaja ikuti kehidupan sehari-hari mereka hingga hari coblos,” kata Hellena kepada Tempo.

Dengan demikian, kita segera saja mengetahui  keempat narasumber yang disorot kehidupannya adalah lapis bawah penduduk republik ini yang rata-rata bekerja habis-habisan, tetapi sampai kapanpun tak akan pernah memiliki tanah atau alat produksi.

Kamera mengikuti gang yang kumuh, kehidupan mereka yang tak terlalu memisahkan antara tempat buang air dan dapur; mereka yang tidur di malam hari berdesakan seperti ikan sardencis di dalam kaleng serta sekolah dan masa depan menjadi pembicaraan yang mewah dan sungai yang mengalir menjadi sebuah ‘pusat serbaguna’ (mencuci, mandi dan buang air).

Amin Jalalen dengan fasih menceritakan bahwa seberapa banyak dia bertani, dia merasa dia tak akan pernah memiliki tanah sendiri, padahal “menurut undang-undang katanya tanah dan harta kekayaan alam itu kan digunakan untuk kepentingan rakyat,” katanya dengan fasih.

Kita juga mengikuti kehidupan Nita, buruh cuci di tempat majikannya , maupun di rumah.

Sorotan kehidupan ini menghabiskan waktu yang cukup banyak, sementara footage proses pemilu itu sendiri lebih disorot saat debat capres –yang hanya dipilih saat Prabowo dan Joko Widodo berdebat masalah ekonomi—dan pada saat tanggal 9 Juli masyarakat serta kedua capres mencoblos.

Tidak ada keramaian kampanye yang heboh, tidak ada problem kampanye hitam terhadap Joko Widodo, tidak ada gerak mesin kampanye dari kedua kubu (bukankah kita juga ingin tahu bagaimana cara kerja Koalisi merah Putih di Polonia sehari-hari? Dan bukankah kita juga ingin tahu bagaimana reaksi Joko Widodo sesungguhnya setiap kali ada saja fitnah aneh-aneh yang menerpanya?).

Sembilanbelas videografer mungkin banyak sekali mengambil footage, bahkan Jakarta di waktu malam, di waktu macet, di waktu sepi semua masuk untuk memberi suasana ibukota , tetapi pada akhirnya memang inilah pilihan sutradara Dandhy D. Laksono.

Menjawab pertanyaan Tempo soal dua narasumber yang kebetulan pendukung Prabowo, Dandy menjawab dengan tangkas, “saya tahu ini mungkin akan mengecewakan pendukung Jokowi,” kata Dandy, “tapi kami memang sengaja memilih narasumber dengan blank, betul-betul dari awal kami ikuti saja hidup mereka. Tapi yang penting setelah mereka tahu Prabowo kalah, toh mereka kembali bekerja seperti biasa.”

Di depan kamera, adalah Amin Jalalen, sang petani Indramayu yang paling fasih dan memperhatikan persoalan politik dengan intens.

“Menjadi pejabat atau presiden itu hanya lima tahun,” kata Amin Jalalen, “tapi kita menjadi rakyat selama-lamanya,” katanya dengan nada tegas.

Dia menekankan bahwa pemilu itu untuk rakyat, bukan untuk kursi empuk para calon belaka.

Mungkin itulah sebabnya kita harus mencoba menghargai mengapa dari keempat narasumber itu—yang sejak semula tidak diketahui preferensi politiknya—ternyata dua orang pemilih Prabowo, dan satu orang adalah pemilih Jokowi.

Sutradara nampaknya lupa mencari tahu Sutoro sang tukang ojek tak diberi akhir cerita, sehingga kisah dia terlihat seperti tempelan yang disisipkan dengan cara tak rapi.

Tetapi di luar itu, film ini secara keseluruhan  disunting dengan cukup baik.

Tentu ada beberapa adegan yang bisa dipangkas: adegan seorang perempuan buang air kecil atau adegan orang-orang beramai-ramai jajan bakso tak memiliki relevansi apapun dengan cerita utama film ini.

Adegan-adegan yang tetap terbaik dan menarik adalah bagaimana Rhoma Irama memperkenalkan Titik Soeharto, mantan isteri Prabowo diperkenalkan depan publik sebagai “calon ibu negara” dan Titik nampak keberatan meski malu-malu tersenyum.

Acara kampanye yang kemudian memperlihatkan Rhoma bernyanyi, diikuti Titik yang ikut menggumam “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin” terlihat ironis mengingat apa mereka memahami  lirik lagu yang mereka nyanyikan.

Dari kubu Jokowi, adegan terdahsyat sudah pasti bisa ditebak: adegan Jokowi berlari di atas panggung sebelum membacakan maklumat di depan ribuan relawan di Konser Salam 2 Jari di stadion Gelora Bung Karno, Senayan.

Tentu banyak kamera yang mengambil adegan historis ini. Tak terbayangkan bagaimana editor dan sutradara harus memilih.

Tetapi pilihan mereka tepat: adegan Jokowi berlari di panggung diambil dari layar lebar dan diberi warna yang lebih kental, sementara para pendukung dan relawan yang berdesakan riuh rendah itu kemudian bergerak bagai lautan manusia yang tak bisa dilawan kehendaknya: perubahan!

Dandhy Laksono dan timnya tetap kembali pada tokoh-tokoh utamanya.

Setelah hasil real-count, setelah pasangan Jokowi-JK berpidato kemenangan di Sunda Kelapa, mereka adalah orang-orang biasa yang kembali bekerja mengisi hari.

Tidak kelojotan, tidak marah, tidak ngamuk apalagi menuntut kanan-kiri.

Mereka orang-orang biasa yang sudah menggunakan hak pilihnya dan dengan dewasa menerima hasilnya.

Leila S.Chudori

FILM YANG KETU7UH
Sutradara :
Dandhy D Laksono
Ko-Sutradara : Hellena Souisa
Produser Eksekutif: : Andhy Panca Kurniawan
Jurnalis dan Videografer :  Ahmad Fadli,  Marcellinus Indra, Albert Sanjaya, Ikang Fauzi,  Raffael M Beding,  Muhamad Sridipo,  Rizky Putra Pratama,  Edith Susanto,  Lendi Bambang, Rudi Purwo, Randy Hernando, Tuteh Pharmantara, , Kartono, Yustinus Sapto Hardijanto,  Muhammad Syahnan, Nur Kayat, Bayu Kaiarayya, Jesse Adam Halim,  Ilyas Hasfhi
Produksi : WatchdoC

******* Tempo.co