Belajar dari Prancis, tak Terbuai Kejayaan Masa Lalu

0
31 views
Jimmy Gani (kiri) dan istrinya Roesfini Damayanti (kanan) Foto: Dokumen pribadi

Selasa 16 Okt 2018 18:33 WIB
Red: Karta Raharja Ucu

“Prancis yang kaya akan kejayaan masa lalu tetap berbenah mengikuti perkembangan zaman”

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Jimmy Gani*

Jimmy Gani (kiri) dan istrinya Roesfini Damayanti (kanan)
Foto: Dokumen pribadi.

Teringat sekitar 34 tahun silam saya mengikuti ayah untuk berangkat ke Washington DC, Amerika Serikat, dalam rangka penugasan beliau sebagai seorang diplomat. Kami sempat mampir dan berkunjung ke Kota Paris dalam perjalanan dari Indonesia menuju Amerika Serikat itu.

Sebagai seorang anak remaja yang banyak keingintahuan, tentu kenangan tersebut memberikan kesan tersendiri terhadap kota Paris dan negara Prancis yang sudah begitu majunya. Indonesia saat itu masih berkutat dengan banyak problematika pembangunan dan berada dalam tahapan sebagai negara berkembang.

Tentunya melihat Paris yang begitu banyak bangunan megahnya, memberikan kenangan tersendiri terhadap arti dari kemajuan suatu bangsa bagi seorang remaja seperti saya saat itu.

Kenangan tersebut seolah kembali lagi pada benak saya dalam kunjungan ke Prancis kali ini. Memang sudah beberapa kali kami mampir lagi ke Prancis dalam beberapa tahun terakhir, tetapi belum sempat berkontemplasi terhadap apa yang dilihat karena waktu kunjungan yang begitu singkatnya.

Kali ini saya dan istri, Roesfini Damayanti (Iin), berkunjung untuk waktu yang relatif lama, sekitar lima hari. Kunjungan pada tiga hari pertama kami habiskan di kota Dijon, yang berada sekitar 300 kilometer dari kota Paris.

Di sana misi utama kami adalah berkunjung ke Burgundy School of Business, yang mana memiliki kerjasama dengan sekolah tinggi yang kami pimpin, IPMI Internasional Business School.

Pada hari ketiga, kami pun berpindah kota menggunakan kereta cepat TGV menuju Paris. Baru pada hari kelima melanjutkan perjalanan ke Dubrovnik, Kroasia, untuk mengikuti konvensi tahunan Eduniversal 2018 dimana para pimpinan sekolah bisnis dari seluruh dunia berkumpul.

Dalam kesempatan ke Dijon, kami mendapatkan banyak cerita dari Dr. Stephan Bourcieu, Dekan Burgundy School of Business, yang menceritakan betapa perubahan terjadi di Kota Dijon, ibu kota Provinsi Burgundy.

Beliau bercerita Dijon merupakan kota tua yang sekitar 200 tahun lalu memiliki peran besar terhadap ekonomi dan politik Prancis.

Dalam ceritanya tersebut, beliau berkata Pemimpin Burgundy pada saat itu bahkan bisa lebih besar kekuatan kekuasannya dari Raja Prancis sekalipun, berkat kekuatan perekonomiannya yang ditopang oleh industri wine dan spirit.

Perguruan Tinggi yang telah dipimpinnya selama 12 tahun terakhir itu didirikan pada 1899 oleh seorang filantrofi yang beringinan untuk dapat menghasilkan tenaga-tenaga terampil untuk mengelola usaha yang berkembang di Dijon.

Tentunya kejayaan masa lalu Dijon dan Burgundy ini tidaklah abadi. Mereka juga mengalami masa-masa yang tidak mudah, yang mengharuskan mereka berubah. Saat ini Dijon yang memiliki sekitar 200 ribu penduduk, banyak juga dihuni mahasiswa asing.

Hal ini berkat dari mulai dibukanya pelaksanaan pendidikan tinggi menggunakan bahasa Inggris, yang merupakan hal baru bagi Prancis.

Secara tradisional, mereka sangat nasionalistik dan cenderung mempertahankan bahasa Prancis sebagai bahasa pengantar dalam pendidikannya. Ini merupakan perubahan yang cukup mendasar, mengingat pride masyarakat Prancis yang tinggi terhadap bahasa dan budayanya.

Namun mereka menyadari, tanpa perubahan ini mereka dapat tenggelam dalam persaingan global yang semakin sengit.

Pada hari ketiga kami di Prancis, kami sudah berangkat dari kota Dijon menuju ke kota Paris pada pukul 9 pagi. Perjalanan yang memakan waktu kurang dari 2 jam ini dilalui dengan nyaman dan lancar.

Sesampai di Paris, kami dijemput Pak Hengki, sopir yang dikirim Bu Rani dan Pak Agung Kurniadi, Wakil Dubes (Deputy Head of Mission) RI di Prancis. Tempat pertama yang kami tuju adalah Istana Versailles yang sangat terkenal megahnya di luar Kota Paris.

Saking ramainya antrean, kami harus menunggu sekitar dua jam untuk dapat memasuki wilayah istana. Walaupun cukup melelahkan, pengalaman untuk keliling di dalam lingkungan istana memberikan pembelajaran terhadap bagaimana Prancis di masa lalu.

Isi dalam istana Versailles ini begitu megah dan mewah, menggambarkan betapa jayanya Kerajaan Prancis pada zaman itu.

Para bangsawannya mampu memiliki tempat tinggal yang begitu luas dan dipenuhi barang-barang dengan nilai artistik tinggi. Tidak bisa terbayang berapa nilai istana beserta isinya apabila dihitung saat ini.

Pembelajaran terhadap kejayaan Prancis ini berlanjut lagi pada saat kami berbincang-bincang dengan kawan kami Ibu Rani dan Pak Agung, di kediaman resmi Wakil Duta Besar RI di Prancis. Dari mereka kami mendapatkan banyak pelajaran betapa Prancis saat ini sedang mengalami banyak perubahan.

Sejak krisis pada 2008, negara-negara Eropa memang mengalami stagnansi pertumbuhan ekonomi, bahkan terjadi penurunan di banyak negara. Prancis masih beruntung karena dapat mengandalkan pemasukan devisa melalui kunjungan wisatawan mancanegara yang terus berdatangan untuk berkunjung ke negeri nan menawan ini.

Mereka mengandalkan bangunan-bangunan megah dan cantik yang sudah berdiri ratusan tahun untuk menarik minat wisatawan. Tidak kurang dari 89.000.000 wisatawan yang berkunjung ke Prancis, padahal mereka hanya memiliki sekitar 67.000.000 penduduk. Jumlah pengunjung tersebut menempatkan Prancis sebagai negara paling banyak dikunjungi wisatawan di seluruh dunia.

Walaupun memiliki banyak sisa kejayaan ini, Prancis terus berbenah diri. Mereka menyadari negara lain pun bersaing untuk menarik wisatawan datang ke negara mereka. Salah satu hal menarik yang kami perhatikan adalah mulai digunakannya bahasa Inggris dalam bercakap di beberapa tempat wisata.

Sewaktu kami membeli tiket untuk naik perahu mengelilingi kota Prancis dengan mengarungi sungai Seine, penjual tiketnya lumayan fasih berbahasa Inggris. Dalam perjalanan di kapal pun, bahasa yang digunakan untuk menjelaskan mengenai objek-objek wisata di sekeliling adalah bahasa Prancis, kemudian diikuti dengan bahasa Inggris.

Selain itu, saat kami diajak untuk malam di restoran Prancis oleh Ibu Rani dan Pak Agung, pramusajinya pun fasik berkomunikasi dalam bahasa Prancis. Hal ini bukan sesuatu yang dapat kami temui dalam beberapa kunjungan kami sebelumnya.

Kejayaan masa lalu memang patut untuk diingat-ingat dan disyukuri, tetapi bukan menjadi jaminan kejayaan itu dapat terus dipertahankan pada masa mendatang. Perubahan demi perubahan pun harus dilakukan untuk mengikuti perkembangan zaman, terutama melihat ketatnya persaingan yang ada.

Dari pengalaman singkat kunjungan ke Prancis kali ini pun kami berpikir. Indonesia juga pernah mengalami kejayaan masa lalu yang luar biasa. Saat ini pun kita berupaya melakukan perubahan-perubahan mengikuti perkembangan zaman.

Akhir-akhir lumayan banyak prestasi yang diukir, walaupun banyak pula perbaikan yang harus dilakukan. Semoga kita semua dapat berkontribusi untuk memastikan perbaikan-perbaikan di berbagai sektor dapat terus dilakukan, dan Indonesia terus jaya. Aamiin.

*) Executive Director & CEO IPMI International Business School, Founder & Chairman, Proven Force Indonesia Group

*******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here