Belajar dari Piala Dunia

– Endang Suryadinata, Penggemar Bola dan Sejarah

Jakarta, Garut News ( Sabtu, 12/07 – 2014 ).

Ilustrasi. Lapangan Sepak Bola Pinggiran Situ Bagendit, Garut, Jawa Barat. (Foto : John DH).
Ilustrasi. Lapangan Sepak Bola Pinggiran Situ Bagendit, Garut, Jawa Barat. (Foto : John DH).

Menurut filsuf eksistensialis Prancis, Albert Camus, sepak bola mengajarkan soal moral dan tanggung jawab.

Ini nyata dari 32 tim nasional yang berjuang di Piala Dunia Brasil.

Mereka menang dan menghindari kekalahan, tapi tetap dengan mematuhi aturan main.

Mereka patuh terhadap apa pun keputusan wasit.

Untuk itu, kita bisa belajar banyak dari Piala Dunia untuk menyikapi hasil pemilihan presiden 9 Juli 2014.

Tentu saja, setiap tim ingin menang di Brasil.

Ilustrasi. Kegiatan Sekolah Sepak Bola “JFC” Kabupaten Garut, Jum’at (20/06-2014).Foto : John DH.
Ilustrasi. Kegiatan Sekolah Sepak Bola “JFC” Kabupaten Garut, Jum’at (20/06-2014).Foto : John DH.

Malah, guna meraih kemenangan, kadang sepak bola dikaitkan dengan perang.

Luiz Felipe Scolari, pelatih timnas Brasil, meyakini bahwa sepak bola ibarat perang, sehingga timnas Brasil bisa mengalahkan Kolumbia 2-1 dalam perempat final sebelum kalah telak 1-7 oleh Jerman dalam semifinal, Rabu dinihari lalu.

Yang patut dipuji adalah sikap yang ditunjukkan oleh tim yang menang.

Lihat para pemain Jerman selepas laga semifinal itu.

Mereka memeluk Scholari, sebagian yang lain mencoba menghibur pemain tuan rumah yang hancur hatinya.

Para pemain Jerman sungguh memiliki spirit yang pernah dimiliki Jenderal Erwin Rommel.

Meski Rommel berada di pihak Nazi, dialah satu-satunya jenderal Jerman yang ketika Perang Dunia II mendapatkan penghormatan dari lawannya (sekutu).

Jenderal yang terkenal dengan Korps Afrikanya itu dikenal tidak pernah menembak atau membunuh musuh yang tidak bersenjata.

Sikap kesatrianya benar-benar dijaga, karena agaknya dia tahu etika perang dari ayahnya yang pendeta.

Akhirnya, ketika semua jenderal Nazi dibantai para sekutu, Rommel justru tercatat sebagai satu-satunya jenderal yang mendapatkan penghormatan dari para lawannya.

Kebesaran Jenderal Rommel mengingatkan kita akan pepatah “menang tanpa ngasorake”, menang tanpa merendahkan pihak yang kalah.

Jadi jangan arogan bila menang.

Lalu, bagaimana kekalahan harus dihayati?

Bukan hanya kemenangan yang membuat pertandingan menjadi semarak.

Kita melihat di babak penyisihan, hasil seri hanya membuat kita seperti dilanda kekecewaan.

Meskipun begitu, jika ada tim yang kalah, khususnya di babak 16 besar, perempat final, semifinal, dan tentu saja final, pertandingan jadi ramai.

Mengenai kekalahan ini, kita boleh belajar dari rakyat Kolumbia, Swiss, atau Aljazair.

Meski tak bisa melaju lebih jauh karena kalah, toh mereka tetap mendapatkan respek dari para pendukungnya.

Rakyat ketiga negara seolah mengingatkan kita untuk menghargai usaha dan kerja keras timnas mereka.

Kita memang mesti belajar bahwa manusia harus bekerja keras untuk mencapai kepenuhannya, kendati upaya itu berakhir tragis dalam kekalahan.

Sydney Newton Bremer, motivator ulung dunia, menuliskan: “kemuliaan manusia kita bukan terletak pada kemenangan saja, tapi terlebih pada upaya bagaimana kita bisa bangkit setelah kekalahan.”

Dalam pilpres 9 Juli 2014, hanya akan ada satu calon presiden yang berhak atas kursi RI-1.

Mohon pihak yang menang dan para pendukungnya bisa tetap rendah hati dan tidak dirasuki arogansi untuk mempermalukan lawan.

Demikian juga, pihak yang kalah tidak tergoda untuk mencari alasan sehingga membuat kerusuhan selepas pencoblosan.

Kita memang harus belajar bagaimana menyikapi kemenangan dan kekalahan secara bijak.

Jika sikap positif dalam menghadapi kemenangan atau kekalahan ditumbuhkan sejak dini, kita berharap pilpres berlangsung dengan damai. *

*******

Kolom/Artikel : Tempo.co

Related posts

Leave a Comment