Belajar dari Jembatan Cisomang

0
30 views
Ilustrasi. Kondisi Sarana Urat Nadi Perekonomian Masyarakat di Desa Sindangsari Cisompet, Garut, Jabar, Kini Semakin Rapuh dan Kian Membahayakan Nyawa Manusia.

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Senin, 26/12 – 2016 ).

Ilustrasi. Kondisi Sarana Urat Nadi Perekonomian Masyarakat di Desa Sindangsari Cisompet, Garut, Jabar, Kini Semakin Rapuh dan Kian Membahayakan Nyawa Manusia.
Ilustrasi. Kondisi Sarana Urat Nadi Perekonomian Masyarakat di Desa Sindangsari Cisompet, Garut, Jabar, Kini Semakin Rapuh dan Kian Membahayakan Nyawa Manusia.

Jembatan Cisomang merupakan contoh nyata betapa ketergesa-gesaan bisa berisiko fatal. Didirikan sebagai bagian dari pembangunan jalan tol Purwakarta-Bandung-Cileunyi (Purbaleunyi) pada 2002, proyek ini dikebut untuk memenuhi tenggat pelaksanaan peringatan 50 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 2005 di Bandung, Jawa Barat.

Kini, pilar Jembatan Cisomang, bagian dari jalan tol itu, retak. Tanpa perbaikan, jembatan panjang yang berdiri di atas jurang sedalam puluhan meter itu bisa ambruk.

Sudah benar keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono membatasi kendaraan pelintas jembatan. Untuk sementara, hanya sedan, jip, pikap, atau truk kecil yang boleh melintas. Truk-truk besar dan bus yang rutin lalu-lalang Jakarta-Bandung melalui jalan tol ini, mulai Jumat pekan lalu, dialihkan ke jalan nasional non-tol.

Cara ini memang menimbulkan kemacetan. Apalagi pembatasan itu diterapkan saat liburan Natal dan tahun baru. Tapi tak ada pilihan lain. Keselamatan pengguna jalan merupakan prioritas utama. Kita berharap perbaikan pilar jembatan yang diperkirakan perlu waktu tiga bulan itu bisa tepat waktu.

Retaknya pilar jembatan ini mesti menjadi pelajaran bagi pemerintah yang sedang gencar membangun jalan tol Trans Jawa. Pembangunan infrastruktur, apalagi berlokasi di daerah yang secara geologis rawan, tidak boleh grusa-grusu. Pembangunan harus didasari perhitungan teknis yang matang. Proyek jangan dikebut untuk kepentingan citra politik.

Jalan tol Cipularang merupakan contoh pembangunan infrastruktur yang tergesa-gesa. Mulai dibangun pada masa pemerintahan Megawati pada 2002, ruas jalan tol sepanjang 120 kilometer itu selesai dalam waktu tiga tahun. Artinya, setahun tergarap 40 kilometer, atau rata-rata 110 meter per hari.

Kerja ngebut itu dilakukan agar para delegasi KAA, yang puncak acaranya berlangsung di Bandung, bisa melintas dengan mobil dari Jakarta. Jalan tol memang selesai tepat waktu. Tapi, belakangan, muncul berbagai masalah.

Doyongnya kaki Jembatan Cisomang hanyalah salah satu masalah pada konstruksi yang baru berumur 11 tahun itu. Sebelumnya, beragam kejadian bermunculan. Misalnya, amblesnya jalan di kilometer 72 sepanjang 60 meter pada Januari 2014.

Penyebabnya adalah pergeseran permukaan tanah, sehingga muncul retakan yang membahayakan. Pernah juga tebing di kilometer 118 longsor pada April lalu.

Pemerintah Jokowi harus berhati-hati dalam membangun ruas jalan tol Trans Jawa. Pembangunan asal jadi untuk mengejar target sebelum Pemilu 2019 bisa menimbulkan banyak masalah. Apalagi, kondisi geologis sejumlah ruas Trans Jawa mirip Cipularang, yakni membelah gunung dan membutuhkan banyak jembatan seperti Cisomang.

Berbagai penyakit konstruksi jalan tol Cipularang harus menjadi pelajaran bagi pemerintah dan perusahaan penggarap. Kerja yang terburu-buru akan menimbulkan beban perawatan dan perbaikan yang mahal di kemudian hari. Dan ujung-ujungnya, khalayaklah yang dirugikan.

**********

Tempo.co