Batman-Robin

by

Qaris Tajudin, qaris@tempo.co.id

Jakarta, Garut News ( Senin, 25/11 ).

Ilustrasi. (Foto: John).
Ilustrasi. (Foto: John).

A: Siapa superhero yang paling bego?
B: Superman dong, dia kan pakai kolor di luar.
A: Salah.
B: Yang benar siapa?
A: Batman.
B: Kenapa?
A: Dia punya sayap, tapi enggak bisa terbang.
B: Ha-ha-ha, boleh juga.
A: Tapi ada lagi yang lebih bloon dari Batman.
B: Loh, siapa lagi?
A: Robin.
B: Memang kenapa dengan Robin?
A: Sudah tahu Batman bego, masih diikutin juga.

Tebak-tebakan ini tentu hanya bercandaan anak tongkrongan.

Ada logika dan fakta yang sengaja dibolak-balik supaya lebih lucu.

Meski dimaksudkan untuk bercanda, kita bisa melihat banyak hubungan Batman-Robin seperti dalam tebak-tebakan itu di kehidupan sehari-hari.

Sebelum membahasnya dengan sok serius, mari kita berkenalan dulu dengan Robin.

Robin bukan nama seseorang, tapi lebih seperti jabatan untuk siapa saja-laki atau perempuan-yang berperan sebagai asisten Batman dalam memberantas kejahatan di Kota Gotham.

Menurut DC Comics, ada lima Robin sepanjang sejarah komik Batman.

Mereka datang dan pergi-bahkan ada yang mati-tapi Bruce Wayne tetap ada di sana sebagai Batman sejati.

Hubungan Batman-Robin ini dapat dengan jelas kita lihat di dunia politik.

Kita tentu sering mengeluhkan wakil rakyat atau kepala pemerintah daerah (bupati dan gubernur) yang berkelakuan dan berkomentar bodoh.

Keputusan yang mereka keluarkan justru menyengsarakan rakyat.

Belum lagi korupsi yang mereka lakukan.

Tapi kita kerap lupa, di balik para wakil rakyat dan bupati yang berbuat ketololan seperti itu, ada ribuan, bahkan jutaan, “Robin” yang memilih mereka.

Tidak sekali, mereka bisa memilih para politikus itu berulang-ulang.

Bahkan, tak jarang pejabat yang sudah divonis bersalah dalam kasus korupsi kembali menang dalam pemilihan.

Pertanyaannya kan sederhana: Kalau memang mereka tak becus dan korup, kenapa dipilih?

Tentu saja, pendidikan rendah para pemilih itu berperan dalam pilihan yang tak tepat itu.

Tapi tidak selamanya begitu.

Saya pernah berdebat dengan seorang “Robin” yang lulus S-2, tapi begitu sengit membela “Batman”-nya yang korup.

Seperti seorang Robin sejati, dia pasrah bongkokan pada Batman.

Tak ada keraguan sedikit pun.

Dia yakin tuduhan korupsi itu hanya konspirasi untuk menghancurkan sang Batman.

Karakter Robin memang seperti itu, yakin bahwa Batman adalah pahlawan yang benar-benar super.

Jika meragukannya, Anda bisa dikira sebagai antek Joker atau Penguin-musuh-musuh utama Batman.

Teman saya itu-seperti juga “Robin” yang lain-tak sadar bahwa kehadiran mereka sebenarnya tidak dibutuhkan “Batman”.

Tentu, suara dan kerja keras mereka untuk menggaet suara diperlukan oleh para politikus.

Tapi, saat mulai beraksi, politikus Batman tak lagi menengok para pendukungnya yang begitu setia.

Keputusan harus menyerang siapa dan apa misi utama mereka kali ini tetap ada di tangan Batman.

Dan yang mendapat tepuk tangan keras saat misi berhasil tetaplah Batman.

Selain di dunia politik, hubungan Batman-Robin ini bisa kita lihat di bidang keagamaan.

Ada begitu banyak kelompok keagamaan yang dipimpin oleh pemuka agama yang kerap mengeluarkan komentar tolol dan hasutan.

Tapi mereka bisa eksis karena memang ada begitu banyak Robin yang bertepuk tangan setiap kali Batman mengeluarkan komentar bodoh.

Lalu, kenapa ada begitu banyak Robin yang memuja politikus atau pemuka agama yang justru menjadi “Pangeran Kegelapan”?

Mungkin karena seperti Batman, para politikus dan pemuka agama itu selama ini memakai topeng.

***** Sumber : Kolom/artikel : Tempo.co