Banyak Pengguna Jasa BPJS RSHS Bandung Memilukan

0
1,396 views

Esay/Foto : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Rabu, 20/05 – 2015 ).

Salah Seorang Pasien Terbaring Tak Berdaya Menunggu Tempt Tidur Kosong.
Salah Seorang Pasien Terbaring Tak Berdaya Menunggu Tempt Tidur Kosong.

Investigasi lapangan selama beberapa hari menelisik kondisi pengguna jasa kesehatan atawa pasien berobat rawat inap melalui “Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial” (BPJS) pada “Rumah Sakit Hasan Sadikin” (RSHS) Bandung, Jawa Barat, ternyata banyak bernasib memilukan.

Terutama kondisi para pasien yang berdatangan dari luar daerah Bandung dan sekitarnya, selain proses pengurusan administrasi yang cukup panjang, melelahkan, dan berliku juga menelan waktu, tenaga dan pikiran.

Menunggu dan Terus Menunggu.
Menunggu dan Terus Menunggu.

Lantaran sejak keluarga pasien mengambil nomor pendaftaran, meski berdatangan pagi maupun sebelum pukul 06.00, tetapi nomor urut yang bisa diperoleh umumnya mencapai di atas angka lima ratusan.

Sehingga umumnya paling cepat mendapatkan pemanggilan setelah pukul 12.00 atawa bersamaan tuntasnya waktu istirahat pegawai.

Kondisi tersebut, diperparah pula cukup banyaknya pasien rawat inap masih belum mendapatkan tempat tidur di kamar, sehingga terpaksa banyak pula menunggu sambil terbaring selama beberapa hari bahkan pekan pada beberapa titik lokasi komplek bangunan rumah sakit tersebut.

Pendaftar BPJS Terus Membludak.
Pendaftar BPJS Terus Membludak.

Padahal berdasar telisik Garut News, kerap ditemukan ruang rawat inap pasien yang tempat tidurnya kosong maupun masih belum ditempati.

Malahan acap pula keluarga pasien terpaksa menempuh proses pengurusan administrasinya dari awal.

Setelah mendapatkan penanganan atawa penindakan pun, proses administrasi masih terus berlanjut di antaranya setiap hendak mengambil obat berdasar resep dokter.

Setelah mendatangi dan antri di apotik jasa layanan BPJS, kemudian keluarga pasien diwajibkan mendatangi ruangan lain di antaranya guna mendapatkan indek, atau hasil klarifikasi. Dilanjutkan kembali  lagi ke apotek. setelah di masing-masing ruangan antri cukup lama .

UGD.
UGD.

Para pensiunan pun, yang semula menjadi peserta Asuransi Kesehatan dan Asabri, acap merasa dipersulit meski membayar iuran asuransi sejak puluhan hingga lebih 30 tahun lalu.

Padahal sejak BPJS digulirkan  1 Januari 2014, program tersebut semestinya bisa memenuhi harapan masyarakat. “Lantaran kewajiban konstitusional negara menjamin kesehatan warganya dipertaruhkan di sini”.

Program itupun merupakan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan UU No. 24/2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ini sangat penting sebab menyangkut jaminan kesehatan bagi sedikitnya 176 juta penduduk.

Pada prinsipnya, program menjadi bagian dari system jaminan sosial itu, semacam asuransi massal bagi Penduduk Indonesia.

bandung13Lewat program ini, masyarakat miskin mendapat bantuan membayar premi asuransi kesehatan sebesar Rp19.225 per bulan.

Untuk non-pegawai negeri, premi yang kudu dibayar mulai dari Rp25.500 hingga Rp59.500.

Sedangkan pegawai negeri, anggota TNI, dan Polri membayar premi lima persen dari gaji per keluarga per bulan.

Besaran angka premi itu, memang tak bisa memuaskan semua pihak. Namun manajemen beserta seluruh pengelola BPJS berkewajiban mengantisipasi sedini mungkin terkait jika terjadi pembengkakan biaya pengobatan.

Kalangan dokter dan rumah sakit khawatir premi itu tak akan cukup melayani lonjakan permintaan pelayanan kesehatan.

Sebaliknya, kalangan buruh merasa premi itu terlalu berat.

Mereka juga merasa tak perlu kudu membayar premi BPJS karena UU No. 3/1992 tentang Jamsostek menyebutkan, biaya kesehatan ditanggung pengusaha.

Masih ada soal lain, terbatasnya pengertian masyarakat tentang pentingnya mengikuti program BPJS Kesehatan.

Banyak belum paham, program ini sebetulnya menguntungkan mereka. Di sisi lain, pedoman pelayanan peserta BPJS pun acap masih simpang-siur.

RSHS dibangun pada 1917 – 1919 dengan arsitek F.J.L Gijsel. Nama Rumah Sakit ini semula “Algeemenee Bandoengsche Ziekenhujs” (Rumah Sakit Umum Bandung).

Pada 1927 menjadi “Gemeentelijk Juliana Ziekenhujs”, dan dikenal dengan sebutan Rumah Sakit Rantja Badak, kemudian pada Jaman Jepang menjadi Rumah sakit Tentara “Tyukugun Byoln”.

Berdasar Perda Kota Bandung nomor 19/2009, bangunan asli Rumah Sakit itu sebagai “Bangunan Cagar Budaya”.

**********

Pelbagai Sumber.