BANYAK CAGAR BUDAYA GARUT MENDESAK DAPATKAN PERLINDUNGAN

by
Batu Lulumpang, Artefak Peninggalan Tradisi “Megalitik”.

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Jum’at, 25/11 – 2016 ).

Batu Lulumpang, Artefak Peninggalan Tradisi “Megalitik”.
Batu Lulumpang, Artefak Peninggalan Tradisi “Megalitik”.

Kabupaten Garut memiliki cukup banyak sumber daya cagar budaya, namun kini kian mendesak segera mendapatkan perlindungan sebagai upaya melestarikan warisan kebudayaan masa lalu, demi kepentingan pengetahuan, pendidikan, sosial serta budaya generasi sekarang dan mendatang.

Ironinya, perhatian Pemkab setempat terhadap perlindungan sumber daya cagar budaya tersebut, dinilai sangat minim, bahkan nyaris tak ada.

Padahal banyak sumber daya cagar budaya sangat rentan bisa mengalami perubahan, kerusakan, bahkan hilang. Terlebih terus bertambahnya jumlah penduduk, juga meningkatnya berbagai kegiatan atas nama pembangunan daerah.

“Tak ada perhatian Pemerintah Daerah terhadap persoalan sumber cagar budaya itu. Bahkan bukit-bukit diduga mengandung situs cagar budaya pun diruntuhkan untuk material galian C. Entah izin dari Pemprov, atau semaunya. Lihat saja bukit-bukit di daerah Warungpeuteuy, Leles, Leuwigoong, dan Banyuresmi. Garut ada dalam ancaman longsor hebat,” ungkap Sastrawan Budayawan Sunda, HM Usep Romli, Jum’at (25/11-2016).

Malahan tak hanya itu, kata dia, indikasi tak adanya perhatian Pemkab terhadap sumber daya cagar budaya terlihat dari adanya pembiaran aktivitas penambangan galian C terhadap bukit di kawasan situs cagar budaya Punden Berundak Pasir Lulumpang Desa Cimareme Kecamatan Banyuresmi.

“Situs Punden Berundak Pasir Lulumpang di Cimareme menjadi areal galian. Di Cibatu, komplek makam Congkang pun dibuat pabrik tanpa IMB (ijin mendirikan bangunan). Jalan terus…” sesalnya.

Keprihatian sama ditujukannya terhadap DPRD Garut. Dia menilai DPRD pun tak memiliki perhatian terhadap keberadaan sumber daya cagar budaya di Garut.

Pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten membantah pihaknya tak ada perhatian terhadap keberadaan sumber daya cagar budaya di Garut.

Meski, diakui pihak Disbudpar, jangankan perlindungan dan pelestariannya, sekadar melakukan pendataan dan pemetaan obyek sumber daya cagar budaya yang ada di seluruh daerah di kabupaten pun masih kesulitan. Alibinya, belum ada Tim Ahli, dan terbatasnya dukungan anggaran.

“Kita memang belum pernah melakukan pendataan dan pemetaan obyek cagar budaya. Baru pencatatan Tim Registrasi. Pencatatan untuk 42 kecamatan selesai pada 2013 lalu. Sedangkan pendataan dan pemetaan itu harus dilakukan Tim Ahli. Kita beberapa kali mengajukan anggaran kebutuhan ini namun tak pernah ada realisasi,” kata Kepala Bidang Kebudayaan Cecep Saeful Rahmat didampingi Kepala Seksi Cagar Budaya SK Madyaningsih.

Madyaningsih katakan, tak direalisasinya pengajuan anggaran pendataan dan pemetaan obyek sumber daya cagar budaya tersebut, bisa jadi karena alokasi anggaran Pemkab tersedot kegiatan lain lebih prioritas. Tepatnya pembangunan infrastruktur.

Padahal, pencatatan dan pemetaan dibutuhkan memvalidasi obyek-obyek sumber daya cagar budaya sebagai langkah awal menetapkan sesuatu obyek sumber daya cagar budaya agar nantinya bisa ditetapkan upaya perlindungan dan pelestariannya.

Madyaningsih mengemukakan, hingga kini, dari sekian banyak obyek sumber daya cagar budaya di Garut, baru satu ditetapkan Pemerintah Pusat sebagai kawasan cagar budaya, yakni Cagar Budaya Cangkuang di Kecamatan Leles. Kemudian baru satu ditetapkan Pemprov Jabar sebagai cagar budaya, yakni Stasiun Cibatu di Kecamatan Cibatu.

“Yang lainnya, ada sebanyak 180 warisan tak benda se-Kabupaten Garut dibuatkan sertifikatnya oleh Kepala Disbudpar Garut,” ujar Madyaningsih.

Meskipun hingga kini belum juga memiliki Peraturan Daerah (Perda) khusus mengatur soal Cagar Budaya, tetapi pihaknya tetap lebih memokuskan perhatian terhadap pentingnya dilakukan pendataan, dan pemetaan obyek sumber daya cagar budaya.

“Buat apa dibuatkan Perda, kalau ternyata obyeknya pun belum jelas? Nah, kalau obyeknya jelas, baru dibuatkan Perda-nya. Arahnya mau ke mana juga kan jadi jelas,” imbuhnya.

********

(nz, jdh).