Bank Mutiara Sempoyongan Lagi

by

Garut News ( Kamis, 26/12 ).

Ilustrasi, Brankas. (Foto : John).
Ilustrasi, Brankas. (Foto : John).

Bank Century, kini menjadi Bank Mutiara, kembali membuat dunia perbankan panas-dingin.

Bisik-bisik semula terbatas pada kalangan bankir menjadi semakin jelas: bank itu mengalami kemerosotan rasio kecukupan modal (CAR ) parah, hanya 5,52 persen, per Oktober lalu.

Angka itu jauh di bawah ketentuan minimal delapan persen ditetapkan BI.

Kekhawatiran bakal terjadi rush alias penarikan besar-besaran dana nasabah pun merebak.

Bank lain cemas tersambar efek tak diharapkan.

Meredam kekhawatiran itu, Bank Indonesia meminta Lembaga Penjamin Simpanan menyuntikkan dana Rp1,5 triliun untuk penyisihan pencadangan aktiva produktif.

Dengan begitu, rasio kecukupan modal Bank Mutiara bisa kembali normal.

Apa terjadi di Bank Mutiara sesungguhnya pengecualian dari situasi perbankan Indonesia relatif sehat.

Sesuai dengan data Bank Indonesia per September 2013, rata-rata rasio kecukupan modal bank masih berada pada kisaran 18 persen.

Tingkat kredit seret juga terjaga pada level 1,86 persen, jauh di bawah ketentuan maksimal lima persen.

Jadi, tak ada alasan cemas.

Pemerintah dan bank sentral kudu berada di garda terdepan menjelaskan fakta itu.

Obat paling mujarab bagi penyakit panik akibat informasi tak jelas, keterbukaan.

Fakta sejumlah perusahaan milik Honggo Wendratno, Mukhamad Misbakhun, dan bekas pemilik Bank Century, Robert Tantular, gagal membayar utang bersamaan patut pula dibuka dan diselidiki.

Mereka debitor lama menerima kucuran kredit saat Bank Mutiara masih bernama Bank Century di bawah komando Robert Tantular.

BPK pernah menyebutkan pembiayaan perdagangan alias letter of credit senilai US$ 22,5 jua dikucurkan Bank Century ke PT Selalang Prima Internasional milik Misbakhun penuh patgulipat.

Selalang mengajukan pinjaman untuk pengadaan kondensat.

Bank Century meminta mengimpor dari Grains and Industrial Product Trading di Singapura.

Tetapi Selalang malah menanamkan duit US$ 22,5 juta itu ke Kellett Investment Incorporate, perusahaan investasi di Hong Kong.

Kellett ambruk akibat krisis ekonomi dunia 2008.

Utang debitor lama itu semula macet, kemudian direstrukturisasi manajemen baru pada 2011 dan kembali lancar.

Namun tiba-tiba, April-Mei lalu, mereka menghentikan cicilan pembayaran tanpa penjelasan.

Bank Mutiara langsung menggolongkan kredit perusahaan-perusahaan itu dari kolektibilitas dua menjadi lima alias macet.

Total utang perusahaan-perusahaan itu mencapai Rp840 miliar.

Ada pula kredit macet di era manajemen baru sebesar Rp174,8 miliar.

Gagal bayar itu membuat tingkat kredit seret Bank Mutiara melonjak menjadi 11,69 persen.

Pemerintah ,dan Bank Indonesia perlu bahu-membahu mengungkap motif pengemplangan kredit bersamaan tersebut.

Jika terdapat indikasi pidana, polisi dan jaksa kudu dilibatkan bertindak.

Beberapa perusahaan itu sudah seperti pepesan kosong.

Apabila dipailitkan, potensi pembayarannya nol persen.

Untuk meminimalkan kerugian, pemerintah bisa menggugat para debitor ini, secara perdata dan meminta pengadilan menyita aset mereka di tempat lain sebagai jaminan.

Ketenteraman, dan keamanan nasabah bank kudu dijaga.

Para penjahat bank tak boleh lagi dibiarkan bebas berkeliaran seolah-olah kebal hukum.

Moral hazard ini, kudu dilawan dengan bahasa mereka kenal: bukan kekayaan akan mereka peroleh, melainkan kemiskinan.

***** Opini/Tempo.co