Banjir

0
91 views

– Toto Subandriyo, penulis

Garut News ( Rabu, 18/02 – 2015 ).

Ilustrasi. Banyak Areal Pesawahan di Garut Beralih Fungsi Menjadi Hutan Beton.Atawa Komplek Perumahan. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Banyak Areal Pesawahan di Garut Beralih Fungsi Menjadi Hutan Beton.Atawa Komplek Perumahan. (Foto : John Doddy Hidayat).

Dalam perspektif ekologi, dalam kondisi alam dan lingkungan yang normal, siklus air akan berjalan secara alami.

Air yang berlebih pada musim hujan akan disimpan dalam tanah, akifer, waduk, danau, rawa, sungai, bendung, sumur-sumur resapan, dan situ.

Adapun sisanya akan terbuang ke laut dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Pada musim kemarau, air yang tersimpan tersebut akan keluar menuju sungai, sehingga tetap tersedia dalam kondisi cukup.

Jika kondisi alam dan lingkungan telah rusak, siklus alami air tersebut akan mengalami gangguan. Daya tampung sungai, akifer, rawa, danau, dan bendung menjadi sangat terbatas.

Fenomena banjir Jakarta kali ini merupakan “panen buah” dari apa yang telah ditanam sebelumnya. Ribuan hektare hutan belukar serta vegetasi lainnya dikonversi menjadi bangunan fisik dengan permukaan kedap air.

Ilustrasi. Hutan di Garut Juga Banyak Beralih Fungsi Menjadi Sawah, Kemudian Kembali Menjadi Hutan Beton. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Hutan di Garut Juga Banyak Beralih Fungsi Menjadi Sawah, Kemudian Kembali Menjadi Hutan Beton. (Foto : John Doddy Hidayat).

Daniel Goleman (2009), dalam buku berjudul Ecological Intelligence, telah mengingatkan bahwa perilaku dan tindakan manusia yang tidak ramah terhadap lingkungan akan mengakibatkan bencana berupa defisit ekologis.

Implikasinya, terjadilah penurunan laju resapan air ke dalam tanah dan meningkatnya laju air larian (run-off).

Keduanya merupakan penyebab utama terjadinya bencana banjir bandang. Sebuah literatur menyebutkan, betonisasi yang masif di Jakarta menyebabkan peningkatan volume air larian dari 20 persen menjadi 95 persen.

Eksploitasi air tanah di Jakarta yang tidak terkendali selama ini telah menyebabkan defisit ekologi yang sangat parah.

Sebuah studi lingkungan menyebutkan bahwa air yang bisa disedot dari perut bumi Jakarta maksimum hanya 38 juta meter kubik per tahun.

Namun, saat ini, air tanah yang dieksploitasi di Jakarta setiap tahun berjumlah 320 juta meter kubik, atau 10 kali lipat daripada yang seharusnya.

Penyedotan air tanah yang tidak terkendali tersebut menyebabkan terjadinya penurunan permukaan tanah (land subsidence).

Penurunan muka tanah di Jakarta saat ini mencapai 3-5 sentimeter per tahun. Dalam 25 tahun, permukaan tanah Ibu Kota Jakarta akan menurun hingga 75-125 sentimeter.

Di Jakarta Utara, laju penurunan muka tanah bahkan lebih ekstrem lagi, yakni 28 sentimeter per tahun.

Untuk mengatasi banjir di Jakarta, dibutuhkan langkah-langkah strategis, mendasar, dan berkelanjutan dari hulu hingga hilir.

Penanganan masalah itu harus dilakukan secara sinergis dan terpadu, bukan sekadar tambal-sulam. Keterlibatan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi/kabupaten/kota di sekitar Jakarta merupakan sebuah keharusan.

Saatnya Jakarta mengupayakan penyerapan air hujan sebanyak-banyaknya ke tanah melalui konsep ekodrainase seperti dilakukan oleh kota-kota besar di Eropa, misalnya Berlin dan Paris.

Jakarta harus menciptakan sebanyak-banyaknya lumbung air pada musim hujan untuk dimanfaatkan pada musim panas.

Juga diperlukan revitalisasi dan pembangunan situ, danau, sumur-sumur resapan, lubang biopori, waduk, dan ruang terbuka hijau.

*******

Kolom/Artikel : Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here