You are here
Bangsa Nekat ARTIKEL 

Bangsa Nekat

Munawir Aziz, Peneliti tamu di goethe frankfurt university

Jakarta, Garut News ( Kamis, 12/12 ).

Ilustrasi, Lintasan KA Tanpa Pintu di Kadungora, Garut, Jabar. (Foto: John).
Ilustrasi, Lintasan KA Tanpa Pintu di Kadungora, Garut, Jabar. (Foto: John).

Kecelakaan maut di perlintasan kereta api Bintaro Permai, Jakarta Selatan, Senin lalu, menjadi alarm simbolis atas kondisi bangsa ini.

Kereta Commuter Line yang menghantam truk tangki pengangkut bahan bakar minyak di perlintasan Bintaro itu tidak sekadar tragedi kemanusiaan, tapi juga kisah tentang etika komunal dan sistem birokrasi negara.

Tentu, kisah tragis tersebut membuat semua tersentak: Gubernur DKI Jakarta, Direktur PT Kereta Api Indonesia (KAI), dan Dinas Perhubungan terasa tertampar.

Bahwa setelah terjadi kecelakaan tragis dan lima nyawa melayang, pembangunan cepat baru digerakkan.

Hal itu menjadi sindrom bagi mekanisme birokrasi di negeri ini: bereaksi setelah terjadi bencana tragis!

Padahal, problem perlintasan kereta api sudah menjadi bagian dari isu publik yang sering dilontarkan di pelbagai forum.

Berdasarkan data PT Kereta Api Indonesia (KAI), dari Januari hingga November tahun ini, sudah 68 kecelakaan terjadi di jalur perlintasan kereta api di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok.

Dari sisi infrastruktur, sebanyak 197 perlintasan liar dari 549 titik perlintasan dalam semua rute kereta api di Jabodetabek.

Jalur kereta api Jabodetabek membutuhkan sentuhan cepat agar tidak ada lagi nyawa melayang karena kecelakaan.

Namun, tidak perlu ada saling tunjuk kambing hitam setelah peristiwa tragis.

Yang diperlukan adalah kerja keras dan kerja cerdas untuk secepatnya menyelesaikan problem yang sudah teridentifikasi.

Gubernur DKI Jakarta langsung menginstruksikan untuk mengeksekusi pembangunan flyover dan lintasan layang untuk jalur kereta api.

Di sisi lain, renungan perlu dihadirkan: kisah kecelakaan kereta api di Bintaro menjadi cermin dari tragedi bangsa nekat.

Kisah tentang bangsa nekat tidak hanya berani menerobos perbatasan kereta api, tapi juga kerap menantang maut.

Inilah karakter bangsa nekat yang telah sublim dalam keseharian kita.

Bahwa usaha untuk mempercepat langkah dan menuntaskan kerja sering dibumbui oleh egoisme untuk mendahulukan kepentingan sendiri daripada aturan atas kemaslahatan bersama.

Kenekatan sebenarnya bukan menjadi kisah buruk dalam karakter bangsa ini.

Asal ditempatkan dalam konteks perjuangan hidup yang positif, akan terhampar sejarah yang mengesankan.

Sayangnya, energi nekat pada akhir-akhir diarahkan pada hal-hal negatif: menerobos aturan hukum, perilaku korupsi, dan membahayakan keselamatan orang lain.

Bangsa ini sebelumnya dikenal bangsa yang nekat, yang berhasil menggerakkan sejarah, mencipta pelaut tangguh dari kawasan Bugis-Makassar, mencipta candi-candi sebagai monumen peradaban, dan sejumlah catatan sejarah lainnya.

Bukankah untuk menyusuri lautan diperlukan visi dan kenekatan luar biasa?  

Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka adalah orang-orang nekat yang siap mati untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Gus Dur menjadi pemimpin nekat yang berani memperjuangkan hak-hak kaum minoritas.

Pemimpin negeri ini perlu nekat untuk menegaskan kembali sebagai bangsa kuat yang tak mudah disadap.

Nekat sebagai bangsa yang berdikari untuk kemandirian bangsa adalah manifesto sebagai bangsa tegak di hadapan bangsa lain dan santun dengan sesama saudaranya.

**** Kolom/artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment